Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Saparinah Sadli : Perempuan adalah Perempuan

with one comment

Perempuan Sehat Dan Yang Berpendidikan Yang Bisa Memilih Dan Menghargai Hidup

Perempuan ini memang tak pernah lepas dan tak mau melepaskan diri dari
soal perempuan. Bahkan ketika usianya kini sudah mencapai 80 tahunan.


Jika ada perempuan yang tidak betah berdiam di rumah dan hanya menikmati masa pensiun, salah satunya niscaya adalah Saparani Sadli. Di usianya yang sudah mencapai 82 tahun, perempuan ini terus aktif mengikuti banyak kegiatan terutama yang berhubungan dengan perempuan, kaumnya itu. Sekarang Bu Sap, begitulah orang-orang menyapanya, terlihat aktif dalam penanggulangan perdagangan manusia (perempuan) di Manado. 

Dia menuturkan, di provinsi Sulawesi Utara itu, kaum perempuannya banyak yang bekerja di Papua dan Jepang. Menjadi penyanyi dan sebagainya. Tapi yang sering menjadi masalah bagi para perempuan itu, tatkala kontrak kerja habis di luar negeri, mereka tak bisa kembali ke Indonesia atau pulang ke kampung halaman. “Saat itu masalah trafficking ini kerap terjadi,” kata Bu Sap, suatu pagi, pekan silam.

Dia terlihat rapi dengan atasan batik dan celana cokelat. Aksesori kalung manik-manik menghiasi lehernya. Kuku jari-jari tangan dan kakinya terlihat terawat. Terlihat sehat dan segar. “Tak ada kiat dan rahasia, pola makan tetap sama hanya saya memang harus cukup tidur, dari dulu selalu punya waktu tidur siang,” katanya.

Menurut Bu Sap, istirahat yang cukup lebih berarti dibandingkan harus merawat tubuh tapi bekerja dengan jam tak teratur. Juga olahraga itu. Sebagai perempuan yang sudah banyak makan asam garam, Bu Sap merasa kebanyakan perempuan masa kini justru kekurangan waktu istirahat. “Barangkali karena tuntutan karir,” kata dia.

Benar, perhatian Bu Sap terhadap perempuan memang sangat besar. Baginya, perempuan adalah perempuan yang memiliki kesetaraan dengan laki-laki. Salah satu alasannya, bersedia menjadi Ketua Komnas Perempuan pertama, di tahun 1998, juga karena soal perempuan itu. Sebelum itu, dia ikut langsung melakukan investigasi terhadap para perempuan yang menjadi korban kekerasan Mei 1998, di tengah penolakan sebagian kalangan yang meragukan kejadian berdarah itu. Juga pemerintah.

Sebagian menganggap soal-soal kekerasan terhadap perempuan itu adalah aib dan tak wajar diangkat ke permukaan. Namun Bu Sap atas nama Masyarakat Anti Kekerasan terhadap Perempuan meyakinkan Presiden BJ. Habibie bahwa memang telah terjadi kekerasan terhadap perempuan dan itu adalah pelanggaran HAM. Pemerintahan Habibie akhirnya meminta maaf atas peristiwa hitam itu. Dua minggu setelah itu, Komnas Perempuan terbentuk, dan Bu Sap ditunjuk sebagai ketuanya.

Kini dia memang tak aktif lagi di Komnas Perempuan. Tapi pendapat dan saran-sarannya masih sering terdengar kencang di sana, termasuk soal kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di keluarga TNI dan Polri. Menurutnya, seperti halnya kekerasan terhadap perempuan yang terus meningkat dari tahun ke tahun, begitu pula kekerasan terhadap perempuan di keluarga TNI/Polri.

“Kita sedang mengupayakan agar ada cara yang komprehensif oleh jajaran pimpinan TNI/Polri menangani masalah ini,” kata Bu Sap.

Makin Maju
Problem semacam itu kata dia sebetulnya bukan berita baru. Para istri komandan misalnya, tidak jarang harus menyelesaikan kasus-kasus kekerasan yang menimpa para istri bawahan suami mereka. Lalu yang menjadi persoalan, banyak para korban yang enggan melapor, karena menganggap masalah rumah tangga mereka, meski penuh dengan kekerasan itu, sebagai masalah privat. Padahal menurut Bu Sap, masalah kekerasan dalam rumah tangga saat ini sudah dianggap sebagai masalah publik dab bukan hanya wilayah pribadi.

Dengan seluruh aktivitasnya itu, Bu Sap sempat tercatat pula sebagai pimpinan Convention Watch. Konvensi itu dibentuk untuk memonitor implementasi konvensi tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Ini menjadi satu-satunya di dunia yang menyatukan berbagai anggota dari berbagai latar belakang yang berbeda.

Ada akademisi, aktivis, praktisi hukum, LSM, bahkan ada juga dari media. Mantan Ketua Pusat Kajian Wanita Universitas Indonesia ini juga menjadi sumber dari banyak seminar tentang perempuan. “Saya kan memang psikolog dan khusus memilih perempuan, jadi berkegiatan di bidang yang erat dengan perempuan ini sangat berkorelasi,” katanya.

Bu Sap menuturkan, posisi perempuan Indonesia sebetulnya semakin maju dari tahun ke tahun. Salah satu bukti kemajuan itu, menurutnya, kaum hawa di Indonesia sudah bisa menempati berbagai bidang dan profesi. Kalau pun ada yang disayangkannya, itu tak lain soal UU Pornografi yang dianggapnya sangat merugikan kaum perempuan. “Kita dianggap bawel dalam soal ini, padahal semestinya Kementerian Perempuan menaruh perhatian untuk hal ini,” kata perempuan yang rambutnya dicat marun kecokelatan ini.

Bu Sap, sejauh ini memang tak segan-segan mengkritik program-program pemberdayaan perempuan dari Kementerian Perempuan karena dianggapnya kurang nyata, terutama menyangkut soal kesehatan dan pendidikan perempuan. Padahal ketika bisa hidup sehat dan memiliki pendidikan maka perempuan bisa memilih apa yang dia kerjakan dalam hidup.

“Mungkin karena selama ini Bu menteri tidak bergelut dalam bidang keperempuanan. Mudah-mudahan menteri mendatang bisa lebih bergerak merealisasikan program untuk para perempuan,” kata Bu Sap. 

Dia lalu membandingkan dengan Bangladesh, negeri yang semua perempuannya, sudah tamat SMP. Dengan bekal pendidikan itu, mereka kata Bu Sap lebih mudah diajar. Susah toh mengajar soal kesehatan reproduksi kalau tak sekolah? “ 



Di rumahnya yang teduh, di Jalan Brawijaya, Kebayoran Baru, Jakarta, Bu Sap kini banyak menghabiskan waktu membaca buku, menulis makalah seminar dan sebagainya. Hari itu dia baru saja membaca Plaza De Mayo, buku yang menyuarakan keadilan bagi anak-anak mereka yang menjadi korban pelanggaran HAM di Amerika Latin. 

Rumah di Kebayoran Baru itu, sudah ditempatinya sejak tahun 1962. Perabotannya kebanyakan bergaya klasik Jawa. Kata Bu Sap, tak pernah tatanan rumah itu diubah. “Orang yang datang 30 tahun lalu ke rumah ini, akan melihat hal yang sama saat ini,” katanya. S

Ya seperti rumah itu, Bu Sap juga tidak berubah. Sederhana dan terus belajar. Teman-teman diskusinya sekarang bahkan kebanyakan adalah anak-anak muda, yang sebetulnya pantas menjadi cucu atau anak-anaknya. Tak jarang mereka mengajak Bu Sap sekadar berjalan-jalan cuci mata atau ngobrol dan menonton bioskop. 

“Saya banyak belajar dari mereka padahal beberapa dari mereka itu anak teman-teman saya bahkan para mahasiswa saya, mereka menularkan semangat muda,” katanya sambil tertawa. Hari sudah semakin terang. N ezra sihite


Tulisan 2 
Facebook dan Internet
Para lansia mestinya diajarkan menggunakan internet, agar betah dan tahu tentang “dunia luar” itu.

Setiap pagi, Bu Sap bangun antara pukul lima atau setengah enam. Yang biasa dilakukannya, membaca koran dan menyeruput kopi pahit. Perempuan ini memang penyuka kopi sejak muda. Kebiasaannya yang lain, dia kemudian akan terlihat memunguti bunga melati yang jatuh dari pohon melati gambir yang ada di halaman rumahnya.

Setelahnya adalah dunia Bu Sap itu: menekuni komputer, membuka internet, dan sebagainya. “Dari dulu saya memang lebih suka melakukan apa pun di rumah,” kata dia. 

Menurutnya internet itu perlu bagi orang yang berusia lanjut. Melalui internet, para lansia bisa berkomunikasi paling tidak dengan keluarga dan tak harus memaksa mereka beranjak dari rumah.

“Di Amerika, orang-orang tua itu justru diajarkan komputer agar mereka punya media komunikasi dan tetap tahu tentang dunia luar, tapi di kita kan kesan komputer itu hanya untuk yang bekerja,” kata Bu Sap. 

Jangan heran kalau nama dan foto Saparinah Sadli juga ada di Facebook. “Itu keponakan saya yang buat, kata dia lihat nih tante banyak yang add,” Bu Sap tertawa. 

Sebenarnya perempuan ini bukan tak ingin mengetahui lebih lanjut soal Facebook tapi dia merasa itu bukan sebagai kebutuhan untuknya. Katanya, Facebook terlalu menghabiskan waktu meskipun tak bisa disangkal, dari situs jejaring itu bisa bertemu banyak orang, teman lama atau kenalan baru. Persoalannya bagi Bu Sap, dia sudah cukup banyak bertemu orang secara langsung, sehingga tak terlalu memanfaatkan Facebook.

“Hidup ini jangan terlalu ngoyoh. Lakukan apa yang menjadi tanggung jawab sebaik mungkin, itu saja,” kata Bu Sap. zra

Dikutip dari Koran Jakarta edisi 9 Agustus 2009

Written by Me

August 11, 2009 at 1:25 pm

Posted in Uncategorized

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. makasih infonya… sangat membantu.. tak tunggu kunjungan baliknya

    ekosulistio

    August 12, 2009 at 11:30 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: