Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Rasa Seorang Penulis

leave a comment »

Bondan Winarno Menyebutnya Gubernur Kuliner.

Cintanya pada dunia tulis menulis melahirkan banyak karya, termasuk
buku perihal kuliner di Jakarta. Mengapa Laksmi kemudian akan meninggalkan Tanah Air?

Gambar Berita Koran Jakarta 432 4 73 - 1 - 20090822 225805

Bagi Laksmi Pamuntjak, makanan tak pernah hanya soal makanan. Ia sarana pemersatu. Di dalamnya terkandung budaya dan bisa menyuguhkan sosiologi sebuah kota . “Dengan makanan kita bisa melihat, manusia berinteraksi. Ada nostalgia dan sejarah,” kata Laksmi suatu malam. Anggur merah direguknya, sesekali. 

Malam itu, Selasa pekan lalu, Laksmi baru saja meluncurkan buku terbarunya: Jakarta Food Guide 2010. Itu buku kelima yang menceritakan seluk-beluk kuliner di Jakarta, yang ditulis dan diterbitkan Laksmi sejak 2001. Satu buku lain yang juga diluncurkan malam itu resensi tentang 100 restoran.

Laksmi memang penyuka kuliner. Setidaknya begitulah pengakuannya. Banyak tempat makan di Jakarta sudah dicobanya juga tempat-tempat makan di daerah lain. Kadang-kadang dia datang bersama para koleganya, para seniman dan wartawan itu. Kadang bersama keluarganya. Bukan sekadar agar bisa mencecap langsung makanan-makanan itu melainkan juga agar bisa merasakan suasana tempat-tempat makanan itu. 

Berbekal pengalaman itu lalu muncul gagasan menerbitkan buku tentang kuliner. Buku yang bisa memandu siapa saja yang membacanya menemukan tempat-tempat makan di Jakarta, dengan makanan enak, suasana nyaman dan tentu saja dengan harga yang juga tak menguras isi dompet. “Awalnya hanya lucu-lucuan tapi kemudian menjadi serius,” kata Laksmi bercerita soal buku-buku makanannya.
Itu alasan pertama. Alasan lainnya, belum ada yang menulis soal makanan di Jakarta yang lengkap dengan penelusuran sejarah tempatnya. Maka jadilah sejak delapan tahun silam, buku tentang kuliner di Jakarta ditulis oleh Laksmi. Subyektif tentu saja. Laksmi karena itu menyilakan para pembacanya untuk datang langsung ke tempat-tempat makan yang tercantum di bukunya, dan merasakan suasananya. 
Tak lalu pengalaman Laksmi mencicipi aneka makanan di banyak tempat itu selalu menyenangkan. Dia misalnya pernah keracunan, merasakan perutnya diguncang-guncang seolah perahu di tengah badai laut, dan kepalanya pusing-pusing. Itu memang risiko tapi Laksmi tidak jera. Dia hanya tak mau merekomendasikan tempat makan itu kepada pembaca bukunya. “Ketika menemukan sesuatu yang lezat maka saat itulah aku mikir, untuk inilah tulisan-tulisan itu,” kata Laksmi.

Butuh waktu hampir setahun bagi Laksmi untuk menuliskan pengalamannya mendatangi tempat makan di Jakarta ke dalam buku yang diluncurkan malam itu. Ratusan tamu memberinya selamat. Bondan Winarno yang juga doyan menjajal banyak tempat makan, menyebutnya sebagai “gubernur kuliner.”

Bukan buku baru benar, sebetulnya. Ia sudah terbit Maret tahun lalu tapi kemudian direvisi, ditambah di sana-sini. Laksmi bercerita, ongkos yang dikeluarkannya untuk mencoba banyak makanan di banyak tempat di Jakarta itu, bisa mencapai 300 juta rupiah. Memang ada sponsor yang ikut membantu menerbitkan bukunya tapi menurutnya, itu tak sebanding dengan semua biaya yang dia keluarkan. Dalam hitungannya, totalnya bisa menelan 700 jutaan rupiah termasuk untuk ongkos makan-makan, produksi, penerbitan dan peluncuran. 

“Aku pikir, lama-lama ini memang enggak menguntungkan tapi karena aku cinta, ya aku kerjakan,” Laksmi tersenyum.

Penulis


Lalu di rumahnya di Pondok Indah, sehari setelah Selasa malam itu, Laksmi sudah terlihat mengepak buku barunya itu. Dia bermaksud mengirimkannya kepada para sahabat dan toko-toko buku. “Semua saya urus sendiri, dari semalam enggak bisa makan, inginnya hanya minum terus,” kata perempuan, penyuka wine ini.

Hari itu, dia tampak lebih alami mengenakan dress tanpa lengan bercorak, jins dan kaus oblong hijau. Nyaris tanpa dandanan. Ruang kerjanya di lantai dua, penuh dengan buku, koleksi DVD film dan CD musik. “Kesibukanku pada dasarnya hanya di tulisan. Selain proyek novel dan buku ini (Jakarta Food Guide-Red.) aku kan butuh hidup juga dengan proyek terjemahan dan buku lain,” tawa Laksmi berderai.
Benar, Laksmi sebetulnya bukan hanya mengenal tempat makan di Jakarta dan juga penikmat wine. Dia adalah perempuan yang termasuk aktif menulis di banyak media. Sudah sejak 1994 kolom dan artikel Laksmi tentang politik, film, makanan, musik klasik dan sastra dimuat majalah Tempo, Djakarta!, koran Jakarta Post, dan lainnya. Ia juga salah satu pendiri Toko Buku Aksara.
“Saya merasa beruntung juga, bisa menulis, menyunting, menerbitkan dan bisa mendirikan toko buku,” katanya.
Buku-buku Laksmi yang sudah diterbitkan antara lain Perang, Langit dan Dua Perempuan. Buku yang terbit pada 2006 ini merupakan telaahan filosofis tentang manusia, kekerasan, agama dan mitologi. Kontroversial karena banyak yang mengkritiknya. The Blue Widow merupakan novelnya yang berkisah tentang Pulau Buru dan kenangan sejarah 1965.
Ada juga kumpulan cerpen The Diary of R.S.: Musings on Art dan dua kumpulan sajak The Anagram dan Ellipsis. Buku yang disebut terakhir menjadi salah satu buku pilihan (Books of the Year) harian The Herald dari Inggris tahun 2005. 
Beberapa kali dia juga terlibat sebagai penyunting dan menerjemahkan sajak-sajak Goenawan Mohamad ke dalam bahasa Inggris. Goenawan Mohamad: Selected Poems dan On God and Other Unfinished Things adalah dua karya Laksmi atas karya-karya Goenawan Mohammad. 

“Kami punya perasaan yang sama soal puisi. Dan yang menarik dari karya GM adalah keheningan, tidak berlebihan kata, juga soal tema-tema hasrat yang dia tuangkan,” kata Laksmi tentang GM, inisial Goenawan Mohamad.

Laksmi bercerita, GM banyak mengajarkan bagaimana bersikap terhadap puisi. Tak hanya menjadi penikmat lepas tapi berkomitmen pada puisi. Lalu baginya, GM tak hanya sekadar sahabat sejati tapi juga sudah seperti bapak bagi Nadya, anak tunggalnya yang sudah berusia 13 tahun.

Selesai dengan buku kulinernya, tahun ini, Laksmi bersiap akan memulai perjalanan ke Malaysia, Australia, Inggris, Turki dan sebagainya. Ini bukan soal jalan-jalan, melainkan untuk tugas penjurian dari panitia Prince Claus Award. Lembaga itu setiap tahun memberikan penghargaan kepada sastrawan dan pemikir dari Afrika, Amerika Latin, Asia dan Karibia. Jurinya dari beberapa negara, dan Laksmi termasuk salah satunya. 

“Saya ada di rumah dua bulan ini. Yang paling lama biasanya setiap bulan bisa dua kali pergi-pergi,” kata Laksmi, perempuan berkulit langsat penyuka wewangian citrus, apel, vanilla dan pir itu. N ezra sihite

Tulisan 2
Nadya dan Definisi Cinta Itu
Ketika cinta mestinya hanya layak dirayakan.

Di rumahnya yang bergaya minimalis di Pondok Indah itu, Laksmi Pamuntjak hanya tinggal bersama Nadya, putri semata wayangnya. Baginya, Nadya adalah karunia yang membuatnya banyak belajar hal-hal baru. “Saat melahirkan seorang anak dan membesarkannya sebagai seorang ibu ada pengalaman baru yang belum pernah dirasakan sebelumnya,” kata Laksmi yang menuliskan beberapa puisi dan ditujukan untuk Nadya. 

Laksmi yang mengaku dididik dengan aturan ketat oleh orang tuanya menginginkan menerapkan disiplin yang sama pada Nadya. Menurutnya aturan bagi anak akan menumbuhkan kedisiplinan dan itu dia rasakan ketika kemudian menjadi penulis. “Bukan berarti aku mau membatasi dia bereksplorasi. Ada saatnya dia dibiarkan dan mengerti bahwa ada kalanya menghadapi kegagalan. Kalau aku dulu dituntut untuk tak mengalami kegagalan,” kata Laksmi. 

Kenyataannya perempuan berambut lurus ini memang gagal membangun pernikahan. Dia yang menikah dalam usia muda, awalnya menganggap semua itu hanya sebagai pelarian dari aturan-aturan ketat orang tuanya. “Eh ternyata ada keterikatan baru,” kata Laksmi tertawa menggambarkan pernikahannya. 

Padahal kata Laksmi, dia tipe perempuan mandiri dan tak ingin terikat apa pun. Menurutnya, cinta itu mestinya cukup dirayakan tak perlu harus dituntut dengan suatu tujuan, pernikahan misalnya. “Aku orang yang kali pertama percaya soal cinta dan banyak menulis soal itu. Bukan berarti aku tak butuh pria dan tak memiliki hubungan-hubungan selama ini,” katanya.

Laksmi mengaku bukan tak tahu konsekuensi bercerai bagi anaknya. Bercerai, katanya, adalah luka yang tak akan bisa terobati bagi Nadya. “Tapi itu justru membuatnya cepat dewasa, bisa memberinya insting bahwa di dunia ini tak semua hal yang diinginkan bisa terpenuhi,” katanya
Lalu di usia Nadya yang sudah pubertas, Laksmi berharap memiliki waktu cukup untuk anaknya itu. “Kekuatan yang kami bina ada pada komunikasi bukan pada keterikatan tradisi dan aku mau Nadya tahu, ibunya bekerja keras,” katanya.
Tak berencana menempuh lagi samudra pernikahan? Laksmi tertawa. Dia meneguk minumannya, kali ini bukan anggur tapi sejenis sirup. N zra

Dikutip dari Koran Jakarta edisi 23 Agustus 2009

Written by Me

August 24, 2009 at 11:29 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: