Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Tafsir Lain Penari Keraton

leave a comment »

nilah Perempuan Jawa, Penari Keraton Mangkunegaran, Solo Itu, Yang Justru Menolak Pakem-Pakem Takhayul Yang Mesti Dilakoni Seorang Penari Keraton.

Gambar Berita Koran Jakarta 427 4 73 - 1 - 20090815 210211
Tapi baginya menjadi penari keraton adalah jalan hidup, yang akan dilakoninya sampai kapan pun. Separuh umurnya itu, telah dihabiskan hanya untuk menari, sejak dia mengawalinya ketika masih belia, usia belasan tahun itu.

Cinta Rury Avianti pada tari dunia tari adalah cinta air pada bumi menyerap ke dalam, menyejukkan dan memberi kehidupan. Nyaris tak ada gerak hidupnya yang terlepas dari gerak tari, ide-ide dan juga pertunjukan. Baginya menari adalah ibadah, kumpulan doa, dan semadi yang meluluhkan jiwa. Jangan heran karena itu, Rury bisa menangis justru pada saat menari.

Itu misalnya terjadi ketika suatu masa, dia menari di pendopo Keraton Mangkunegaran. Berbekal restu para empu di sana, Rury menari sendiri. Selendang kemudian disibakkan, tangannya bergerak lembut. Wajahnya menunduk, matanya teduh. Terus begitu seolah bulan yang tak hendak beranjak dari malam, hingga air hangat dari mata itu dirasakannya mengalir di pipi. “Sehabis menari aku berpikir, loh aku kok menangis yah?” 

Bertahun-tahun lampau itu terjadi, tapi Rury ingat betul, sejak itu dia merasakan tari telah memikat jiwanya. Membebatnya menjadi kecintaan, yang sulit dibayangkan orang lain. Dia membahasakannya sebagai hasrat hidup. Ibarat napas yang mesti direguk setiap saat.

Lalu kini dia sudah dua bulan Rury tak pulang ke Solo, kota yang membesarkan dan mendaulatnya menjadi penari. Dia sibuk di Jakarta. Aktif di Komunitas Salihara dan menemani Tony Prabowo, sang suami yang juga dikenal sebagai penata tari itu. Tapi dua bulan adalah waktu yang lama baginya. “Maunya sih rutin, pulang tiap bulan,” kata Rury. 

Bukan karena kangen pada keluarga dan makanan Solo itu, melainkan karena dia hanya ingin menari di pendopo diiringi tetabuan gamelan. Dan jika kerinduan itu sudah mencapai puncaknya yang dalam tak ada yang bisa menghalanginya. Pernah suatu hari, kata Rury, ketika tiba di Stasiun Balapan dari Jakarta, dia langsung melesat ke pendopo keraton, berikut tas-tas yang berisi pakaian. “Menari di sana (keraton) itu yang paling membuatku rindu,” katanya.

Baginya menjadi penari keraton adalah jalan hidup, yang akan dilakoninya sampai kapan pun. Separuh umurnya itu, telah dihabiskan hanya untuk menari, sejak dia mengawalinya saat masih belia, usia belasan tahun itu. Dia sudah menebalkan diri, akan menari selamanya, selama dia bisa. “Hanya itu impian saya,” kata Rury, di rumahnya, di Cilandak, Jakarta Selatan, suatu sore, pekan lalu.

Harus Perawan


Adalah orang tua Rury yang mulanya memimpikan anak-anaknya menjadi penari. Bukan penari keraton yang sakral dan penuh aturan itu melainkan hanya penari. Apa saja. “Inginnya tari balet tapi mahal,” katanya.

Karena sang kakak kebetulan adalah pelatih tari di keraton, jadilah Rury kecil juga menginjakkan kaki di sana, berlatih bersama belasan gadis-gadis yang lain. Tiga kali dalam sepekan, dia berlatih di pendopo hingga pada waktunya, Rury terpilih menjadi penari keraton. Penari inti Mangkunegaran, tepatnya.

Itu artinya Rury punya kesempatan menarikan Anglir Mendhung, setiap tahun di Mangkunegaran. Tak semua penari keraton yang berkesempatan mendapatkan keistimewaan semacam itu. Anglir Mendhung adalah tarian penuh mistis dan sakral. Para penarinya juga bukan perempuan sembarangan. Syaratnya antara lain si penari konon harus perawan. Dan Rury mendapatkan hak istimewa itu pada usia yang masih belia, mungkin belum genap 17 tahun hingga dua tahun lalu ketika dia memutuskan menikah. “Menjadi penari Mangkunegaraan itu membutuhkan ketekunan dan kesibambungan,” katanya. 

Rury bercerita tari Jawa itu, intinya adalah gaya yang halus, sekaligus gagah dan lincah. Mempelajari gerakannya menurut dia ibarat menghafal abjad. Saat akan menarikan suatu tarian maka huruf-huruf itu tinggal dirangkai menjadi kesatuan tunggal yang indah. Persis puisi yang penuh kata-kata indah. Tapi, “Trance tari Jawa tidak bisa didapatkan di semua tarian,” kata dia.

Rury akan tetapi tak sepenuhnya meyakini kesakralan semua tari Jawa, juga pada Anglir Mendhung itu. Terutama pada semua tuntutan-tuntutan orang yang dianggapnya tak masuk akal. Berkembang sejauh ini tentang ritual puasa dan ziarah ke makam para leluhur Mangkunerana yang harus dilakoni para penari Anglir Mendhung, sebelum mereka menarikannya. Tapi bagi Rury tidak demikian.

Pernah suatu hari, tarian Anglir Mendhung yang ditarikan para penari keraton dianggap kurang bagus. Lalu ziarah ke makam yang tak dilakoni para penari itu dianggap sebagai biang keladi kekacauan tarian. Padahal menurutnya, yang membuat tarian menjadi bagus, karena sebelumnya telah berlatih sungguh-sungguh.

Rury sepakat, seseorang yang akrab dengan tradisi memang sering diidentikkan dengan percaya pada hal-hal yang beraroma klenik atau hal-hal lain yang sejenis. Namun itu tak berlaku bagi dirinya. “Saya cinta tradisi dan yakin Jawani tetap kelihatan, tapi secara fisik dalam kehidupan sehari-hari mungkin enggak,” kata Rury, berderai.

Barangkali ini memang bukan sebuah penolakan. Mungkin hanya soal pilihan. Rury dalam kehidupan sehari-hari karena itu menunjukkan kecintaannya pada tradisi lewat caranya sendiri tanpa harus terikat dengan tidak beralasan. Lihatlah dia, yang misalnya, lebih nyaman dengan celana jins, dan tank top. 

Itu kata dia, memang busana favoritnya sehari-hari meski dia tetap mengenakan selendang. Seperti suatu sore pekan lalu itu, Rury terlihat mengenakan busana kasual kesenangannya. Kulitnya langsat seperti sawo belum matang. Rambutnya digerai dan beradu dengan selendang cokelatnya, sebagian menutupi kalung dengan tali hitam dan juga tato kecil di dadanya. 

“Orang akan berpikir kalau penari tradisi harusnya anggun, enggak suka pakai tank top kaya saya, tapi namanya kepanasan?” perempuan ini tertawa. 

Bercerita soal masa depan tari tradisi, menurut Rury yang diperlukan saat ini sebetulnya adalah kritikus tari yang mampu memberikan perspektif dengan ilmu yang benar soal tari. Bukan sekadar memberi puji-pujian atau memaparkan apa yang sedang dipertunjukkan. Celakanya di Indonesia, kritikus tari termasuk yang sedikit. “Aku belum tahu. Apa karena para akademisi tari jarang atau tak ada yang mau menjadi kritikus yang sering dianggap tukang kritik itu,” kata dia. 

Bertahun-tahun menjadi penari, apakah Rury tak hendak menggeluti dunia lain, koreografer seperti sang suami, misalnya? “Banyak orang yang menanyakan itu, tapi aku masih goblok, kalau koreografer kan harus memahami konsep dan ide-ide yang lagi relevan, yah mungkin harus dimantapkan jadi penari dulu,” kata perempuan berkaca mata ini. Sekali lagi tertawa. Matanya memancarkan keyakinan. ezra shite

Tentang Perempuan Kuat dan Tiga Anjing
Teman-temannya menggodanya, karena lengan penari mestinya tidak berotot besi seperti Gatotkaca.

Pekan lalu mestinya adalah hari-hari yang sibuk bagi Rury Avianti. Dia ikut mengurusi pementasan teater Ngulid dari Solo di Salihara, hingga Sabtu lalu. Kelompok teater ini mementaskan naskah Mulih yang ditulis oleh Goenawan Mohamad. Tapi Rury tetaplah Rury yang selalu tersenyum itu.

Dia bercerita, di Indonesia penari sebetulnya belum dianggap sebagai profesi yang menjanjikan harapan materi. Penari hanya dianggap sebagai pekerjaan lepas, apalagi jika itu adalah penari tradisi, seperti penari di keraton itu. Mereka kata Rury, masih harus mencari nafkah sendiri di luar tari agar tetap eksis. Sementara fasilitas untuk mereka juga tak banyak dan belum layak. 

Benar, di Solo, saat ini sudah ada campur tangan terhadap kehidupan para penari. Mereka sudah menjadi penari selama 10 tahun atau lebih, ada yang kemudian diangkat menjadi pegawai negeri sipil dan sebagainya. Namun Rury melihat itu belum cukup, dan dia karena itu kemudian juga tak hanya ingin menekuni tari Jawa melainkan sudah mengembangkan minatnya pada tari Bali, Padang dan juga tari kontemporer. 

“Basis saya memang tradisi tapi saat penari punya banyak perbendaharaan maka bukan hanya menambah kemampuan bagi diri sendiri tapi juga memberi peluang tampil lebih banyak,” katanya. 

Bagi dia, tari kontemporer adalah sebuah tantangan. Berbeda dengan tari tradisi yang sudah sarat dengan pakem sehingga bisa dinilai keindahannya, tak demikian dengan tari kontemporer. Katanya, yang harus dilakukan ketika menari kontemporer bukan hanya merangkai gerak tubuh melainkan bagaimana menambah rasa pada tari itu sehingga si penonton juga melihat makna tarian itu. 

Benar, kemampuan Rury menari kini bahkan sudah meruap ke banyak negara. Dia misalnya sering ikut serta dalam pementasan atau menjadi misi kesenian Indonesia. Filipina, Jepang, Jerman, Kamboja, Korea Selatan, Maroko dan Singapura adalah beberapa negara yang sudah pernah dikunjunginya dan tentu saja, Rury menari di sana. Tahun lalu, dia terbang ke Inggris sebagai penari dengan tema wayang. 

Dulu, Rury dan temannya, seorang koreografer dari Korea sempat berniat mendirikan sebuah dance company. Mereka sudah menyiapkan untuk menyeleksi para penari dan setiap bulan mereka akan digaji untuk latihan dan disiapkan untuk pementasan. Tapi rencana itu tak berlanjut, karena terbentur soal ongkos. “Tantangan membuat proyek tari kontemporer memang lebih besar karena belum terlalu banyak diminati dan tidak lebih komersial dibandingkan tari pop.

Di rumahnya yang teduh dan sejuk, Rury kini terbiasa melakukan latihan sendiri. Ditemani tiga anjing besar dari jenis Samoyed, Golden dan anjing kampung. “Aku suka anjing karena hewan yang paling setia, kalau aku sedih dia datang jilat-jilat, kalau aku lagi marah mereka enggak berani,” Rury tertawa.

Olahraganya adalah berenang atau angkat beban untuk menjaga kondisi tubuhnya. Saking seringnya dia ikut fitness, pernah suatu ketika, otot-otot tangannya malah tampak kekar. Teman-temannya menggodanya, karena penari Bedhaya mestinya tidak berotot besi seperti Gatotkaca. Tapi baginya itu soal bukan soal otot, melainkan penampilan yang mestinya dimiliki seorang penari. Mungkin juga kekuatan seorang perempuan, meski katanya, perempuan yang kuat itu dalah mereka yang percaya bisa menjalani hidup. zra

Dikutip dari Koran Jakarta edisi 16 Agustus 2009

Written by Me

August 24, 2009 at 12:00 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: