Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Kisah Pilu Para Pembasmi Tikus

leave a comment »

Kalau Sakit Ya Obati Sendiri.Kalau Pulang Kampung Ya Rogoh Kantong Sendiri.

Selama ini, Pengadilan Tipikor menjadi institusi yang menakutkan bagi para koruptor. Tak jarang, “tikus-tikus” penggerus uang negara itu dijerat dengan hukuman maksimal. Keberadaan lembaga yang dibentuk lima tahun silam ini, memang semula merupakan bagian dari upaya membentuk pemerintahan bersih , yang digagas era pemerintahan Megawati.


Di awali pembentukan Komite Pemberantasan Korupsi pada 2002. Tugas utama lembaga ini menginvestigasi dan menangkap “tikus-tikus” tadi. Setelah itu, pengadilan Tipikor-lah yang mengeksekusi. Catatan ICW, sepanjang tahun 2005-juni 2008 ada sekitar 1184 terdakwa kasus korupsi yang dibawa ke pengadilan umum, dan ada sekitar 450 terdakwa divonis bebas. Keadaan sebaliknya ada di Pengadilan Tipikor, sebagian besar atau hampir tidak ada terdakwa korupsi yang diadili di lembaga ini dinyatakan lolos dari tuntutan korupsi.


Sebagian besar putusan yang dijatuhkan atau vonis pengadilan, rata-rata selama lima tahun dan/atau sebagian besarnya sesuai tuntutan dan cenderung melebihi tuntutan yang ada. Misalnya, dalam kasus korupsi besar seperti Gubernur Aceh Abdullah Puteh, yang dituntut delapan tahun, akhirnya dihukum 10 tahun atau jaksa Urip Tri Gunawan yang dituntut 15 tahun, akhirnya divonis 20 tahun.


Kasus-kasus itu hanyalah contoh kecil prestasi pengadilan tipikor. Mereka bak pendekar hukum yang gagah berani memberantas para “bandit-bandit” tersebut. Untuk itu, mereka pun dilengkapi berbagai perangkat atau senjata istimewa, termasuk dalam soal gaji dan tunjangan. Tujuannya, agar tak mudah disogok tentunya. Maklum, yang mereka hadapi adalah para “tikus” licik.


Andi Bachtiar, seorang hakim ad hoc tipikor bahkan mengaku namanya pernah dicatut saat menangani perkara korupsi mantan gubernur Kalimantan Selatan, Sachriel Dahram. Orang yang mencatut itu, kata Andi, tak lain adalah kerabatnya sendiri. “Dia itu meminta uang 1,1 miliar rupiah dari terdakwa atas nama saya,” kata Andi.


Andi pun melaporkan hal itu kepada KPK, namun tidak ditindaklanjuti dengan alasan bukan terdakwa yang melapor. Padahal, kata dia, tak mungkin terdakwa melapor karena dia sudah dipenjara. “Mungkin kalau Sachriel sudah keluar dia bisa melaporkan orang itu,’’ tegasnya.
Apa yang dituturkan Andi hanyalah sebagian kecil dari risiko pekerjaan sebagai hakim ad hoc tipikor. Dia bahkan pernah diancam . Namun, Andi tetap enggan mendapat pengawalan. Tak hanya ancaman, tapi juga rayuan. Misalnya, kadang ada telepon mau ngajak bertemu. Ngajak nanam saham lah, padahal kita tahu tujuannya bukan itu,’’ tutur Andi.
Sebagai juru pengadil kasus korupsi yang kadang melibatkan pejabat penting, Andi dan rekan-rekannya (tiga hakim ad hoc dan dua hakim karier) harus kuat iman. Apalagi, godaan yang datang kadang menggiurkan. Padahal, gaji yang mereka terima ternyata tidaklah seberapa. Menurut penuturan Andi, gaji yang diterima para hakim ad hoc maupun hakim karier di Tipikor hanya 15,1 juta rupiah per bulan. Jumlah itu terdiri dari 10 juta gaji pokok, dan 6 juta tunjangan yang dipotog pajak sebesar 15 persen. “Itu yang saya terima sejak lembaga ini dibentuk sampai sekarang,’’ tegasnya.
Pada awal pembentukannya, pada hakim tipikor ini bahkan tidak digaji selama sembilan bulan. Mereka, terutama yang hakim ad hoc, bahkan harus hidup dari tabungan dan utang. Ya, utang. Karena gaji belum turun maka mereka untuk periode Januari-Maret menerima pinjaman dari Mahkamah Agung. Mula-mula jumlahnya 10 juta rupiah, tetapi untuk Maret hanya 5 juta rupiah per orang. Sebelum itu, sejak diangkat pada Juli 2004, mereka hidup dari tabungan. Kemudian per 14 April mendapat dana talangan sebesar10 juta rupiah dari Departemen Keuangan. 
Gaji ini, selain untuk biaya hidup, juga digunakan untuk keperluan persidangan, seperti urusan pembuatan berkas putusan. Menurut anggota Komisi III DPR Gayus Lumbuun kala itu, kasus ini menunjukkan ketidaksiapan pemerintah dalam pembentukan pengadilan tipikor berikut sumber dayanya. Pemerintah lupa memberikan jaminan sosial kepada para hakimnya. “Bagamana mereka bisa bekerja dengan baik jika kesejahteraannya diabaikan?” tegasnya. 
Kondisi itu ternyata terjadi sampai sekarang, meski gaji selalu rutin dibayarkan tiap bulan namun tetap tanpa fasilitas penunjang lainnya. “Kalau sakit ya obati sendiri.Kalau pulang kampung ya rogoh kantong sendiri. Kalau tidak punya kendaraan, ya usahakan sendiri.Kalau tidak dapat, silakan naik bus atau ojek,’’ terang hakim ad hoc tipikor lainnya, Krisna Harahap, Kamis pekan lalu.


Kini, Krisna dan kawan-kawan terancam kehilangan pekerjaan. Pasalnya, RUU Tipikor yang sedang dalam pembahasan terancam tidak selesai. Padahal, Mahkamah Konstitusi (MK) pada 2006 telah menyatakan, UU itu harus terbentuk pada 19 Desember 2009. Artinya, jika tidak terbentuk dengan batas waktu yang ditentukan itu, penanganan perkara dari KPK diserahkan ke pengadilan umum. Itu artinya pengadilan tipikor tidak diperlukan lagi. Itu artinya, orang-orang seperti Krisna tak lagi dibutuhkan.
“Kalau dari kami, hakim ad-hoc otomatis tidak ada. Kalau hakim karier yang ada di sini juga otomatis kembali ke pengadilan negeri dari mana dia berasal. Otomatis bubar. Seperti saya inikan ad-hoc, sebelumnya saya pengacara tentu saya kembali jadi lawyer,’’ tutur Andi. 
Pertanyaannya, apakah jika para “pendekar” ini kelak menghilang, gerombolan bandit tadi akan kembali merajalela? Kita tunggu saja. Adiyanto/teguh nugroho/napa dipa

Dikutip dari Koran Jakarta edisi 30 Agustus 2009

Written by Me

August 31, 2009 at 10:58 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: