Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Lenny Agustine : Harapan Lain Perancang Busana

with 2 comments

Mestinya Memang Ada Acara Pergelaran Busana Tahunan Yang Digagas Pemerintah.

Banyak hal yang bisa didapat Indonesia jika mengadakan pergelaran busana internasional tahunan dan efeknya akan seperti bola salju. Antara lain, yang pasti pariwisata. Dengan diliput banyak wartawan asing misalnya, acara itu akan menjadi promosi gratis tentang Indonesia; alam, kebudayaan, kesenian dan lain-lain. 

Malaysia ternyata tak hanya “mengagumi” kesenian dan kebudayaan Indonesia, tapi juga soal mode dan busana. Setidaknya begitulah kata Lenny Agustine. Menurut perancang busana yang tahun ini mengikuti Jepang Fashion Week itu, sudah sejak lama orang-orang mengagumi kreativitas rancangan busana para perancang Indonesia. Gambar Berita Koran Jakarta 439 4 73 - 1 - 20090829 205732

“Mode yang berkembang di Malaysia bisa dikatakan masih tertinggal 10 tahun dari Indonesia,” katanya.

Soalnya kemudian, perkembangan mode Malaysia yang out of date itu tak menyurutkan negara itu mengadakan acara-acara Fashion Week, atau sejenisnya. Tahun lalu misalnya, negara jiran itu sukses menggelar Malaysia International Fashion Week 2008 dan Kuala Lumpur Fashion Week 2008. Acara itu sudah berlangsung sejak 2003 dan terbukti efektif mendongkrak kunjungan turis ke Malaysia. Tahun ini, acara serupa kembali digelar di sana. 

“Mereka percaya diri mengadakan Fashion Week karena didukung penuh oleh pemerintah,” kata Lenny.

Bagaimana dengan Indonesia? Menurutnya acara semacam itu bukan tak ada di Indonesia. Cuma penggagas ide dan penyelenggaranya terbatas hanya dari asosiasi perancang. Padahal di ajang mode internasional misalnya, sudah cukup banyak perancang busana Indonesia yang namanya dikenal. Di tingkat Asia, posisi perancang Indonesia bahkan bisa nomor satu. Salah satu contohnya ketika Lenny mengikuti ajang Fashion Week Jepang itu. 

Di pergelaran itu, dia menampilkan koleksi Poppi Poppi. Dalam Bahasa Makassar itu berarti boneka yang cantik. Lalu koleksi baju bodo dan kain tradisional Makassar yang dia tampilkan di sana, mendapat sambutan luar biasa. Lenny mengikuti acara itu atas undangan sebuah yayasan yang dikelola pemerintah Jepang.

“Kalau dari segi potensi, kita sebetulnya enggak kalah. Hanya saja pemerintah memang belum cukup mendukung,” kata dia.

Tak lalu tidak ada usaha dari perancang untuk tidak melibatkan pemerintah dalam soal pergelaran busana berkelas internasional. Lobi-lobinya bahkan sudah lintas instansi; Departemen Pariwisata, Koperasi, dan sebagainya. “Sekarang sih mulai sudah ada perhatian,” kata Lenny. 

Banyak hal yang bisa didapat Indonesia jika mengadakan pergelaran busana internasional tahunan dan efeknya akan seperti bola salju. Antara lain, yang pasti pariwisata. Dengan diliput banyak wartawan asing misalnya, acara itu akan menjadi promosi gratis tentang Indonesia; alam, kebudayaan, kesenian dan lain-lain. 

Tentu yang paling penting, acara itu juga akan menjadi promosi beragam kain yang ada di Indonesia. Apalagi, para perancang muda saat ini juga sudah menunjukkan ketertarikan pada unsur tradisional dalam koleksi mereka. Singkat kata, bendahara Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia itu membayangkan, lewat pergelaran busana internasional, akan mendorong bukan saja para perancang busana go internasional melainkan juga mengenalkan koleksi kain-kain yang ada di Nusantara.

Kalau sudah begitu, kata Lenny, devisa negara juga akan bertambah dan bisa membantu perajin kain tradisional tetap hidup. “Saya dan beberapa teman, sudah beberapa kali pergi ke daerah-daerah dan memberi penyuluhan agar motif-motif kain-kain tradisional para perajin itu bisa lebih variatif dan modern,” kata Lenny. 

Tren Mode
Ya Lenny memang selalu serius jika diajak berbicara soal mode. Itu bawaan dari cita-citanya yang memilih untuk menekuni dunia rancang-merancang busana itu. Lenny masih ingat, sudah sejak masa kanak-kanak dia sering memperhatikan ketiga kakak perempuannya merias wajah dan mengenakan busana.

Lalu belakangan dia mulai mencoba-coba membuat baju-baju yang dijahitnya sendiri. Kancing, jarum, benang dan renda, kemudian menjadi sesuatu yang diakrabinya. “Semua bonekaku, termasuk boneka-boneka anak-anak tetangga, aku buat bajunya. Mereka hanya perlu bayar pakai kancing dan renda,” Lenny tertawa. 

Setelah menamatkan SD-SMA di Surabaya, dia lalu pindah ke Jakarta. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk mendalami dunia rancang busana. Perempuan berdarah Jawa, Madura dan Makassar itu lalu belajar di beberapa sekolah seni dan mode; Akademi Seni Rupa dan Desain Mode ISWI, Sekolah Mode Bunka dan La Salle College. Hingga kini, Lenny juga terlibat sebagai pengajar di almamaternya Akademi Seni Rupa dan Desain Mode ISWI itu.

Dia bukan tak tahu, ada anggapan yang menganggap profesi perancang busana identik dengan dunia gemerlap, pekerjaan santai dan sebagainya. Menurutnya itu adalah anggapan yang wajar-wajar saja, meski tak selalu seperti itu.

Sama seperti profesi lain, menurutnya, profesi perancang mestinya juga tak lepas dari tantangan, dan kemampuan berkreasi. Tak ada istilah berhenti bagi mereka, untuk misalnya membuat sesuatu yang baru. “Cuma memang jangan lalu kebablasan sehingga berkesan berlebihan,” katanya. 

Dengan pilihan hidupnya sebagai perancang busana, Lenny di usianya yang masih relatif muda, memang bisa dibilang termasuk perancang busana yang sukses. Butiknya tersebar tak hanya di Jakarta, tapi juga di Surabaya. Antara lain di Pasaraya Blok M, Kelapa Gading, Grand Indonesia dan Setia Budi. 

Dalam waktu dekat, ibu dua anak itu juga bersiap membuka butik di Bali. “Desainer dituntut terus berinovasi dan punya ciri khas. Kalau enggak, sekalipun dia bikin pergelaran tunggal spektakuler, ya enggak akan dianggap di dunia fesyen khususnya oleh para desainer,” kata Lenny.

Rencana lainnya, dia akan mengusahakan mengadakan pergelaran busana tunggal. Rencana itu akan memanfaatkan lini kedua miliknya Lennor, yang kini bekerjasama dengan Batik Semar. Konsepnya, tetap seperti ciri khas busana Lenny: bridal, cocktail dan casual. 

Lalu kelak, Lennor itu direncanakan akan dipecah menjadi Lennor Executive, khusus busana bagi para pekerja. N ezra sihite

Tulisan 2
Anti Rokok, Tak Suka Kuliner
Pekerjaan perancang adalah pekerjaan kreativitas dan tak bisa bergantung pada rokok.

Tak seperti stiker biasa, di dinding itu tertempel sebentuk asbak tiruan dengan rokok di atasnya dan tanda silang merah. Itu tanda larangan merokok. Soal rokok, Lenny Agustine memang tak pernah kompromi. “ Aku enggak merokok, minum alkohol dan enggak minum kopi,” katanya.

Siang itu, Lenny terlihat cerah dengan dress batik berwarna kuning dan berpotongan pendek. Itu busana favoritnya; dress pendek dan kain bernuansa tradisional. Desainnya sederhana tapi terlihat anggun dan tampak modern. Tubuhnya yang mungil memang pas dengan busana pendek dan sedikit terbuka semacam itu.

Lalu soal anti rokok tadi, kata Lenny, itu tak terlepas dari pergaulan dengan orang-orang yang suka merokok dan mengonsumsi minuman keras. “Dari dulu aku juga suka lihat kakak-kakak kelasku sambil gambar suka merokok, tapi karena menurutku pekerjaan ini mencari inspirasi maka aku tak mau tergantung dengan apa pun termasuk rokok,” kata Lenny. 

Seorang desainer menurut dia mestinya harus berpikir keras agar bisa menghasilkan karya yang tak biasa dan bisa diterima masyarakat. Di luar soal anti rokok, Lenny karena itu juga suka menambah pengetahuan dengan membaca. Apa saja termasuk novel. Lalu dia juga termasuk perempuan yang tak selesai berkreasi. Ada saja kegiatannya, termasuk melukis, mengoleksi pernak-pernik, prangko dan sebagainya. 

“Awalnya cuma tertarik koleksi prangko dari luar tapi waktu ke kantor pos dan lihat yang lucu-lucu, jadi ikut beli juga dan ternyata memang bagus-bagus,” katanya bercerita soal filateli yang ditekuninya.

Menurut Lenny, di keluarganya ada beberapa anggota keluarganya yang memang hobi mengoleksi sesuatu. Sang Ibu misalnya, mengoleksi uang, kakaknya mengoleksi action figure, lalu sang adik mengumpulkan segala sesuatu yang berbentuk dan bergambar sapi. 
Lalu sekarang dua orang anaknya juga mengikuti kebiasaan semacam itu. 

Dia bercerita, semua kegiatannya sudah dia lakukan sejak masih di bangku sekolah. Dulu dia bahkan pernah bergabung dengan kelompok operet. Ketika masih menjadi mahasiswa di sekolah mode, dia beberapa kali mengikuti lomba-lomba merancang busana sambil aktif di senat. Lalu setelah lulus dia ikut lomba desain busana pengantin dan menjadi juara. Itu sembilan tahun lalu.

“Tapi saya tak terlalu suka kuliner,” katanya. N zra

Written by Me

August 31, 2009 at 11:18 am

Posted in Uncategorized

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. kak nama ku angel, kak rancangan busana kk bagus and keren, kak angel tuh suka ngedesign busana juga and temen2 angel juga banyak yang pesen ke angel, dan angel dan temen2 punya nniat bikin butik sendiri tapi kan angel gak punya hat paten untuk ngejual busana2,,, kalau boleh angel bisa gak minta saran kaka,, bales ya kak,, yhx

    Angel

    April 6, 2011 at 10:14 am

  2. kak nama ku angel, kak rancangan busana kk bagus and keren, kak angel tuh suka ngedesign busana juga and temen2 angel juga banyak yang pesen ke angel, dan angel dan temen2 punya niat bikin butik sendiri tapi kan angel gak punya hak paten untuk ngejual busana2,,, kalau boleh angel bisa gak minta saran kaka,, bales ya kak,, thx

    Angel

    April 6, 2011 at 10:16 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: