Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Impian untuk House of Blaire

leave a comment »

Angie Blaire

Baru setengah tahun di dunia fesyen, rancangan Angie sudah menapak ke mana-mana.

Hanya mereka yang memang benar-benar mau bekerja keras dan menekuni profesi sepenuh hati yang bisa meraih sukses. Dan perempuan yang satu ini, yang beralih profesi dari hanya sebagai pekerja kantor menjadi perancang busana adalah salah satunya.


Hanya mereka yang memang benar-benar mau bekerja keras dan menekuni profesi sepenuh hati yang bisa meraih sukses. Dan perempuan yang satu ini, yang beralih profesi dari hanya sebagai pekerja kantor menjadi perancang busana adalah salah satunya.

Setiap bangun pagi, perempuan ini merasa lebih bergairah. Profesi baru dari minat masa kecil itulah yang mampu mewujudkan kreativitas dan inspirasinya. Hidupnya kini adalah soal rancang busana, bisnis fesyen, dan keluarga yang dia jadikan sumber dan muara kerja keras.

Blaire di belakang namanya, bukanlah nama keluarga dari ayah atau suami. Blaire, kata Angie adalah nama anaknya yang lahir Juli 2009. Lalu sejak itu label Blaire pun dilekatkan pada karya rancangan busananya. Saat peluncuran label baru itu, Angie bercerita sempat terkejut dengan ongkos yang harus dia keluarkan untuk merancang acara, dan sebagainya yang mencapai 100 jutaan rupiah. Namun saat label Blaire itu dikenalkan, semua ongkos yang dia keluarkan ternyata tertutupi.

Rabu pekan lalu, Angie mengenakan dress hitam. Kuku kakinya yang dicat merah mengintip dari open toe high heels cokelat muda berpadu hitam. Rambutnya dibiarkan lepas. “Aku bersyukur, pijakan awal, mendapat sambutan bagus. Selalu ada pesanan setelah itu, dan kebanyakan publikasi rancanganku hanya dari mulut ke mulut,” katanya.

Angie memang masih pemula di dunia rancang merancang busana. Baru sekitar tiga tahunan. Berawal saat rasa bosan bekerja di kantor menderanya, dia kemudian mengambil sekolah mode di Jakarta . “Aku pikir kok hidupku agak monoton. Aku pikir-pikir lagi, apa yah sebenarnya minat yang aku ingin kerjakan?” kata sarjana teknologi pangan ini.

Jadilah Angie sejak itu menekuni dunia fesyen meski dia benar-benar baru banting setir menjadi perancang menjelang akhir 2008. Itu adalah masa ketika resesi ekonomi melanda banyak negara yang memaksa banyak orang untuk semakin selektif soal mode. Di New York misalnya, istilah fashionista pun sempat bergeser menjadi recessionista. Maksudnya apalagi, kalau bukan mengesampingkan urusan busana.

Angie, tentu saja khawatir profesi barunya, yang baru akan dia mulai. Namun tekadnya sudah bulat. Di awal tahun ini, keinginan alih profesi itu lantas benar-benar diwujudkannya. Bahan-bahan yang sudah terlebih dulu dia simpan di tahun-tahun sebelumnya, mulai dia ubah menjadi guntingan pola-pola hingga menjadi busana. Dua orang staf membantunya. “Untung aku bisa kerja di rumah, jadi bisa mengurangi biaya. Karir sebagai desainer kan enggak murah?” kata Angie.

Tak lalu Angie percaya diri mengenalkan rancangannya. Dia baru mengenalkan rancangannya, bersamaan dengan kelahiran anaknya, Blaire itu, Juli 2009 dengan label Blaire. Kata dia, seperti halnya Blaire sang anak itu, rancangan busananya juga ibarat anak. Sesuatu yang berakar dari inspirasi dan kreativitas yang dibangunnya sejak masa anak-anak. Dia karena itu juga menjadikan tiara, mahkota itu sebagai simbol label Blaire.

“Rancanganku enggak ribet dan enggak banyak detail, tapi ingin memberi kesan bahwa gayanya enggak akan cepat terlupakan, jadi dress yang tak cepat ketinggalan tren,” kata dia.

Dua Gaya
Benar, rancangan Angie memang hanya didominasi cocktail dress atau sejenis gaun pesta. Ada dua alasan, kata perempuan berdarah Jawa ini, mengapa dirinya hanya memilih dua gaya itu.

Pertama yang banyak dirancang di Indonesia , selama ini, kalau bukan dress yang amat mewah, pasti gaun sederhana tapi kurang anggun. Kedua, Angie dalam jiwa setiap perempuan, ada sisi manis dan anggun ibarat seorang putri yang pada waktu tertentu ingin memancarkan kecantikannya. Dengan dua alasan itulah, dia lantas berani hanya menghadirkan sesuatu yang klasik tapi tetap memunculkan sentuhan jiwa masa kini, detail modern.

“Dengan gaun rancanganku, setiap perempuan akan merasa cantik,” Angie tertawa. Dia mencoba berpromosi.

Saat ini kata Angie, rancangan busananya mulai banyak dilirik perempuan, terutama mereka yang bekerja, para profesional itu, termasuk beberapa pembawa acara di beberapa stasiun televisi. Lalu dia juga terlibat menjadi sponsor busana untuk pemilihan Putri Indonesia 2009 dan Wajah Femina.

Bulan depan, kata Angie, sudah ada dua rencana pergelaran busana yang akan memamerkan karya-karya busananya. Dia mengibaratkan semua acara itu sebagai fondasi, untuk tapak berikutnya, dan berikutnya di dunia fesyen. Setelah itu, dia juga sudah mulai berniat mengajak rekan bisnis fesyen dari Singapura dan India untuk bekerja sama.

“Aku sekarang sedang menapaki jaringan dan memperkenalkan rancanganku. Lucunya banyak juga model yang membawakan baju-bajuku, kemudian suka dan ikut beli,” katanya.

Selain dua alasan untuk gaya busananya, Angie juga menerapkan dua konsep dalam penjualannya: siap pakai, dan pesanan. Untuk busana siap pakai, pelanggan dia batasi hanya bisa membeli lima potong. Alasannya, agar para pelanggan tetap merasa eksklusif dengan Blaire. Lalu untuk pesanan, dia merancang khusus sesuai keinginan pelanggan. Ongkosnya tentu saja lebih mahal, karena di dalamnya ada juga biaya untuk konsultasi. “Sebisa mungkin aku beri saran tapi soal keputusan tetap di tangan pelanggan,” kata dia.

Lalu dengarlah kini, pengakuan Angie. Sejak rancangannya mulai banyak dikenakan orang, setiap pagi dia bangun tidur dengan lebih bersemangat, lebih bergairah. Setiap hari, katanya menjadi lebih menantang dan lebih menarik. Apalagi keluarganya terutama sang ibu dan suaminya juga sangat mendukung profesi barunya.

Impiannya sekarang, bukan hanya ingin menghasilkan desain yang dikenal masyarakat melainkan juga sebagai seorang perancang yang akan selalu ada buat keluarga. Itu dia sebut sebagai keseimbangan, karena menurutnya, apa yang dia lakukan selama ini akan bermuara pada keluarga.

Setelah ekspansi produk, impian paling dekat yang ingin diwujudkannya, dia bermaksud memiliki tempat khusus, semacam paket butik, workshop atau ruang khusus bertemu dengan pelanggan. Semacam House of Blaire.

Impiannya yang lain, dia berencana menggunakan paduan kain batik dan sari untuk rancangan busananya. Batik, kata Angie harus diapresiasi dan sari dari India , adalah bagian dari cintanya, karena sang suami yang baru menikahinya dua bulan lalu itu memang berdarah India .

“Indonesia is part of my life and India is part of my love,” sore itu, tawanya kembali terdengar di lantai dua di salah satu kafe di daerah Kemang. N ezra sihite
Kenangan di Kota Lumpia
Kota Semarang yang mengesankan bagi Angie Blaire.

Meski mendekati Natal , Angie tak mengkhususkan koleksi khusus untuk hari raya itu. Padahal koleksi rancangan busanya, sebagian besar sebetulnya juga cocok dipakai perayaan Natal . Toh Angie mengaku Natal , menjadi saat-saat yang dia nantikan dan menyimpan banyak kenangan manis bersama keluarga.

Dia bercerita, dulu, ketika masih tinggal di Semarang , saat kakek dan neneknya masih ada, keluarga besar Angie selalu berkumpul di kota lumpia itu waktu Natal . “Itu saatnya berkumpul, berbagi dan menyapa keluarga. Rasanya kehangatan itu punya kesan tersendiri,” kata dia.

Tak hanya kenangan soal Natal yang paling berkesan dari Semarang , kota kelahiran Angie itu. Di kota itu pula, Angie ingat dia mengagumi show room mode Anne Avantie, perancang kebaya ternama yang juga berasal dari Semarang . Ceritanya, saat itu tante Angie akan memesan kebaya, dan Angie yang masih duduk di bangku SD sangat terpesona dengan baju-baju rancangan Anne tersebut. Itu kali pertama, Angie tahu dan melihat langsung rancangan Anne dan hingga sekarang, perancang itu menjadi salah satu desainer favoritnya.

“Saya mengagumi kekonsistenannya untuk terus berkarya dan dia enggak pernah kehabisan ide. Hebat,” kata Angie.

Di Semarang pula, Angie ingat, dia sempat menyalurkan bakatnya menulis. Sejak SMP, dia rutin menulis cerita bersambung untuk majalah sekolahnya. Kisahnya, seputar remaja dan cinta monyet. Perempuan ini juga kerap menulis cerita pendek, bahkan beberapa di antaranya masih dia simpan hingga kini.

Selain menulis, Angie juga merasa musik jadi warna hidupnya. Sejak kecil, dia belajar piano klasik dan organ. Bahkan saat SMA, dia dan teman-temannya membentuk grup band, dan Angie kebagian memainkan keyboard sekaligus vokalis.

“Kalau dilihat-lihat aku memang bakatnya cenderung ke seni dan hal kreatif, itu turunan dari pihak mami, makanya mami sangat senang ketika akhirnya aku memutuskan jadi desainer,” kata Angie. N zra

Dikutip dari Koran Jakarta edisi Minggu, 22 November 2009

Written by Me

November 28, 2009 at 1:29 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: