Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Melihat Warna-Warni Sejarah

leave a comment »

Ayu Utami

Sejarah dan agama, di mata perempuan ini harus disikapi kritis.

Mengaku dibesarkan di keluarga religius, mantan wartawan ini menemukan agama bukan lagi soal
lembaga. Juga sejarah, yang menurutnya, harus melindungi dan memberikan keadilan
bagi yang tertindas.



Ayu Utami kembali membuat cerita. Setelah novel-novelnya kerap mengundang kontroversi, dia kini menarik perhatian karena mulai merambah layar perak. Ruma Maida judul film itu diangkat dari cerpen yang ditulis Ayu dengan judul yang sama.

Bercerita tentang perjuangan seorang perempuan muda mendirikan sekolah gratis, Ruma Maida sudah diputar di gedung-gedung bioskop di Jakarta sejak akhir Oktober lalu.

Itu film pertama, yang skenarionya digarap oleh Ayu. Kini dia sedang menyiapkan dua skenario lainnya, yang juga akan diangkat dari karya tulisannya, salah satunya dari Saman. Berbeda dengan Ruma Maida yang diselesaikan Ayu dalam waktu enam bulan, dua skenario lainnya malah tak selesai meski sudah digarap bertahun-tahun.

“Menerjemahkan apa yang ada di novel Saman ke dalam film, ternyata enggak gampang, jadi tak bisa cepat selesai,” Ayu bercerita tentang penggarapan skenario Saman, yang sudah dimulai sejak 2005.

Saman adalah novel Ayu yang sempat mengundang kontroversi di dunia sastra Tanah Air, baik karena penggarapannya maupun karena isinya yang dinilai terlalu berani, yang mengangkat hal-hal yang dianggap tabu di Indonesia. Novel itu dinobatkan sebagai roman terbaik versi Dewan Kesenian Jakarta 1998, dan mendapat penghargaan Prince Claus (2000) di Belanda. Kelak, jika skenario Saman selesai, Ayu bermaksud akan menggandeng sutradara dari Belanda untuk pembuatan filmnya.

Menurut Ayu kesulitan menulis skenario film, terutama karena untuk menyusunnya memang berbeda dengan ketika menulis cerita pendek atau novel. Menulis skenario baginya ibarat cerita yang harus diselesaikan dalam waktu satu setengah sampai dua jam. Itu belum lagi harus dirembukkan lagi bersama dengan sutradara dan kru film, sementara menulis novel atau cerita pendek bisa lebih bebas mengeksplorasi dan bersifat internal.

“Di sinema, setiap hal harus bisa dijelmakan dalam adegan, itulah sifat eksternal yang membedakannya dengan novel dan cerpen,” kata Ayu.

Lalu Ruma Maida itu, kata Ayu, suatu hari dirinya ditawari seorang produser untuk membuatkan skenario. Ayu bersedia apalagi sang produser menginginkan film berlatar sejarah kebangsaan, setelah film-film yang ada dinilai hanya berputar pada tema-tema misteri, remaja dan sebagainya. Soal sejarah itulah yang menarik hati Ayu.

“Kita harus melihat masa kini dengan melihat sejarah, dan itu, enggak hitam putih, mari lihat sejarah dengan warna-warni dan relatif, “ kata Ayu.

Hal itu penting, karena menurutnya, kebanyakan orang Indonesia mendidik anak-anaknya tentang sejarah hanya dengan versi hitam putih. Contohnya saat zaman penjajahan; yang dijajah diibaratkan yang putih dan penjajah yang hitam. Itu memang bagus, tapi menurutnya, ketika bangsa ini punya konflik internal yang semakin kompleks, mestinya juga ada paradigma baru yang tak lagi melihat masa penjajahan itu hanya sekadar jahat dan baik.

Contoh lainnya soal PKI, yang dalam sejarah Indonesia dicap sebagai noktah hitam. Mereka yang menjadi anggota, partisan dari partai itu, termasuk keluarga dan keturunannya kemudian juga dianggap buruk. “Soal PKI itu mari kita lihat lagi fakta sejarahnya agar keluarga pengikut PKI tak perlu dimusuhi. Sejarah itu mestinya juga penting untuk menegakkan keadilan bagi yang tertindas,” kata Ayu.

Di Ruma Maida, Ayu karena itu tak mau memunculkan tokoh hitam putih, seperti sejarah versi resmi. Misalnya Presiden Sukarno, tak ditampilkan sebagai orator melainkan tokoh dalam kehidupannya sehari-hari. Lalu tokoh Jepang yang sebelumnya digambarkan jahat, di adegan yang lain dia malah ikut menyelamatkan bayi yang ibunya di bunuh justru bukan oleh orang Jepang, penjajah itu.

Singkat kata, lewat Ruma Maida, Ayu ingin mengajak bangsa ini kembali melihat, Indonesia adalah kesepakatan dari para pendirinya. “Kalau Ruma Maida tak begitu laku, paling tidak aku sudah mencoba menawarkan sebuah film yang mengusung kebangsaan,” kata Ayu.

Spiritual Kritis
Ayu dan ide-idenya memang kerap mengundang kontroversi. Pemikirannya yang kritis dalam banyak karyanya telah menyebabkan sebagian orang alergi terhadap karya-karya itu. Misalnya soal idenya yang menyoal agama yang dogmatis dan ketuhanan yang kaku, yang juga kerap diangkat Ayu dalam novel-novel dan cerita-cerita pendeknya.

“Agama harusnya ada, menyokong manusia pada titik paling lemah, bukan menjadi simbol kekuasaan. Dibandingkan modernitas dan rasionalitas, agama kan memberi tempat pada orang lemah? Sementara dalam rasionalitas orang dituntut harus pintar,” kata Ayu.

Kini di usianya yang mulai menapaki kepala empat, Ayu melihat agama lebih positif. Ada beberapa periode yang dilaluinya. Kata peraih Khatulistiwa Award 2008 ini, waktu kecil dia tergantung pada agama, usia dua puluhan mulai membebaskan diri dari agama, dan sejak usia 30-an tahun dia melihat agama dengan lebih kritis.

Dia menyebutnya sebagai spiritualisme kritis, yang tak harus dikungkung kelembagaan agama. “Manusia bisa memiliki spiritualitas dan kalau pun berada dalam sebuah agama maka sebaiknya kritis,” katanya.

Ayu bercerita soal ayahnya yang konservatif dalam beragama tapi di sisi lain juga terbuka. Kepadanya, sang Ayah memberikan pilihan: Kalau punya pandangan sendiri, tunjukkan dengan tanggung jawab. Karena sikap ayahnya itu, sejak bekerja Ayu kemudian memilih untuk tidak tinggal bersama kedua orang tuanya. Bukan mau bertingkah, melainkan justru karena ingin bertanggung jawab seperti yang dipesankan sang ayah.

“Orang tua dan keluarga saya religius tapi mereka tak pernah membuat saya takut untuk bertanya,” kata Ayu.

Kini kata Ayu, dengan pilihan hidupnya –yang salah satunya, tidak tinggal serumah dengan orang tuanya— hubungannya dengan keluarga tetap terjalin baik. Dia mengaku juga bahagia, dengan semua pilihan hidupnya. Kuncinya, jangan terlalu banyak menuntut. N ezra sihite

 


Tubuh Bukan Seksualitas


Menikah? Untuk Apa?

Sore pekan lalu itu, di rumahnya yang ditumbuhi bambu-bambu, Ayu Utami terlihat santai dengan jins dan kaus katun tanpa lengan berwarna biru. Rambut sebahunya tergerai, otot-otot lengannya menyembul. Perempuan ini mengaku memang rutin berolahraga. Di halaman tengah rumahnya, yang menghubungkan ruang depan dan ruang makan ada dinding panjat dan beberapa perangkat kebugaran.

“Di sini nih aku tinggal memanjat, melatih-latih otot. Sejak dulu aku paling suka melihat pria, perempuan atau hewan yang ototnya kelihatan,” kata Ayu tertawa.

Sendiri Ayu tinggal di rumah itu. Tak menikah tepatnya, karena baginya menikah dan tidak menikah, tidak terlalu banyak berbeda. Alasannya, sejak kecil, Ayu melihat banyak perempuan yang tidak menikah diberikan stigma sinis oleh masyarakat dan ditempatkan sebagai karakter yang diserang. Dia karena itu ingin membebaskan perempuan dari tekanan untuk menikah. Mau membujang atau tidak, itu adalah urusan pribadi dan tidak perlu lagi harus menjadi beban perempuan.

Alasan lainnya, Ayu tak mau terikat atau berkomitmen. Undang-undang Perkawinan, baginya, karena itu juga layak digugat karena telah sewenang-wenang menempatkan lelaki sebagai kepala keluarga. Padahal menikah adalah urusan kesepakatan, juga untuk urusan yang menempatkan laki-laki sebagai pengambil keputusan dalam rumah tangga.

Lalu soal seksualitas itu Ayu menganggap sudah saatnya dilihat sebagai hal yang alamiah. “Modernitas dan agama-agama melihat tubuh perempuan hanya sebagai obyek. Menelanjangi tubuh perempuan di majalah porno dan memaksa menutup tubuh perempuan itu sama.Yang satu ingin eksploitasi, yang satu ingin mengungkung,” kata Ayu.

Antara lain karena alasan semacam itu, Ayu kemudian memilih untuk menikmati aktivitas olahraga. Dengan rutin melatih otot-oto, Ayu merasa bisa memperlihatkan, tubuh memang harus bergelut dengan keringat dan segala rasanya.

“Jadi mari melihat tubuh perempuan dan lelaki tidak hanya dalam kerangka seks, karena tubuh tak sama dengan seksualitas,” katanya. N zra

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta edisi Minggu, 15 Nopember 2009

Written by Me

November 28, 2009 at 1:23 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: