Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Peduli Sampah, Peduli Manusia

with 3 comments

Yuyun Ismawati

Mestinya semua usaha dikembangkan agar pro rakyat, lingkungan, dan orang-orang miskin.
Perempuan ini tak capek mengurusi soal lingkungan dan selalu
berteriak tentang pentingnya menjaga pelestarian ekologi.
Tahun ini dia mendapat dua penghargaan internasional, karena
dedikasi dan usahanya untuk itu.



Bukan tanpa sebab majalah Time memasukkan Yuyun Ismawati sebagai Heroes of Environtment 2009. Sebagai perempuan yang menggeluti masalah-masalah lingkungan sejak awal 90-an, Yuyun dianggap memiliki komitmen terhadap persoalan lingkungan terutama masalah sampah. Sebelum dicap oleh Time edisi 5 Oktober lalu itu, Yuyun juga mendapat penghargaan dari Goldman Environmental Prize 2009.

Itu adalah penghargaan tertinggi di bidang lingkungan. Semacam Nobel, karena hadiah Nobel memang tak memberikan penghargaan untuk bidang lingkungan. Penggagasnya adalah Keluarga Levi’s Strauss. Berlangsung selama 20 tahun, penghargaan itu diberikan kepada enam orang di seluruh dunia setiap tahun dan tahun ini Yuyun termasuk salah satu di antara enam orang yang menerimanya.

Ketertarikan Yuyun pada lingkungan, menurutnya mungkin bisa diurai ketika dia mulai menggeluti kepanduan, Pramuka itu sejak SD hingga di bangku kuliah. Dari sanalah, dia paham, Pramuka merupakan kegiatan efektif untuk mendidik anak-anak agar peduli lingkungan. Agar bisa naik tingkat, dari siaga ke penggalang misalnya, seorang Pramuka harus melewati ujian atau tes tentang lingkungan yang diketahui, meski mungkin hanya soal-soal sepele. Antara lain menyebutkan nama tumbuhan atau pohon dan sebagainya.

“Kalau sekarang, anak-anak bahkan sudah enggak tahu ini pohon apa dan itu bumbu apa,” kata Yuyun.

Pekan lalu ibu dua anak ini baru saja kembali dari Bangkok . Dia diminta menjadi juri pada acara pengadilan khusus untuk ekologi, semacam Climate Tribunal yang diadakan oleh dua LSM internasional. Di “pengadilan” itu para aktivis dan pihak LSM lingkungan mendiskusikan kembali komitmen negara-negara maju dalam mengurangi emisi. Gas buangan itu bukan saja telah merusak lingkungan di negara-negara maju itu melainkan juga telah membuat lapisan ozon berlubang dan karena itu mengancam seluruh dunia.

Singkat kata, hasil pertemuan di Bangkok itu akan dilanjutkan dengan membawa petisi yang akan disampaikan ke PBB. Lembaga dunia itu akan didesak untuk membuat laporan yang mengecek tingkat buangan emisi di negara-negara maju. “Bumi ini berhak untuk diperhatikan sebagai planet yang bisa didiami manusia,” kata Yuyun.

Lalu tentang sampah-sampah itu, perempuan ini punya cerita, bagaimana dia sempat kecele, ketika memutuskan pindah ke Bali , 1996. Semula dia berpikir atau membayangkan, sebagai pulau yang terkenal di mata internasional, semua penanggulangan sampah dan soal-soal ekologi di sana juga akan mengikuti standar dunia. Nyatanya Yuyun kecewa. “Penanggulangannya masih tradisional, kanan-kiri masih ada sampah,” kata dia.

Hotel, restoran dan penginapan menurutnya menjadi pemasok sampah paling besar. Sebelumnya para pelaku industri pariwisata itu menjual sampah mereka ke para peternak babi yang membutuhkan pakan. “Saya pikir, loh kok yang bikin sampah malah jualan, di mana-mana yang mengangkut sampah yang dibayar, belum lagi para peternak itu hanya ambil makanan sisa saja, lalu jenis sampah lain? Yah dibiarkan begitu saja,” katanya.

Yuyun lalu berinisiatif menyambangi pihak-pihak hotel dan menuntut komitmen mereka soal klaim sebagai hotel yang hijau dan bersih. Para peternak babi juga didekati. Kepada pihak hotel yang kebanyakan berkelas internasional, dia tegaskan, mereka bisa mematok tarif sewa kamar hotel hingga 150 dollar AS semalam, tapi giliran untuk urusan sampah, anggarannya hanya 3.000 rupiah sehari. Padahal untuk urusan sampah itu, di negerinya mereka bisa mengeluarkan 15 ribu dollar sebulan.

Sebuah usaha yang tentu saja tidak mudah meski kemudian ada hasilnya Para peternak babi yang mengangkut sampah-sampah dari hotel lalu dibayar hingga 6 juta rupiah sebulan. Mereka menjadi semacam kontraktor sampah dengan penampilan yang juga rapi. “Sebelum dibuang sampah-sampah itu dipilah-pilah terlebih dulu, mana yang bisa didaur ulang dan yang mana jadi pakan ternak,” katanya.

Proses penanggulangan sampah itu masih terus berjalan hingga sekarang. Hampir 10 tahun dengan usahanya itu, kini sekitar 30 dari 60 hotel di selatan Bali sudah cukup kooperatif meski komitmen mereka masih maju mundur. Menurut Yuyun, persoalannya antara lain, kurangnya penegakan aturan yang bisa menekan pengusaha agar mereka ingat dengan kewajiban menjaga lingkungan dan memperhatikan ekologi. Soal lainnya, karena memang ada pihak-pihak hotel yang terbiasa mendapatkan uang tambahan dari sampah dan ceroboh dalam bekerja.

Kecerobohan itu misalnya, ketika banyak perlengkapan makan seperti sendok, garpu, piring dan lainnya yang ikut terbuang ke kantong sampah. Pernah suatu hari, para pengangkut sampah di hotel-hotel itu mengembalikan sekitar 120 buah perlengkapan makan ke sebuah hotel. “Manajernya marah-marah. Bawahannya bilang, ‘Bu lain kali enggak usah diberitahukan ke manajer’. Padahal mereka beruntung ada pengangkut sampah yang masih mau mengembalikan,” kata Yuyun.

Ditahan di Bandung


Ditanya apa tidak lelah, menghadiri banyak kegiatan untuk menjelaskan A-z soal pentingnya menjaga lingkungan dan kebersihan, dia tersenyum. Katanya, kadang memang ada perasaan lelah tapi kemudian dirinya juga selalu kembali berpikir, “Siapa lagi yang melakukan pekerjaan ini kalau bukan orang yang mengerti seperti dia, apalagi itu juga untuk anak cucu kelak?”

Kalau sudah begitu, Yuyun memilih bergegas. Satu hal yang menurutnya menikmati aktivitasnya, ketika melihat mereka yang diajarkan tentang lingkungan kemudian juga bisa menjelaskannya. “Bayangkan yang dulunya dari kampung kalau rapat pasti berantem, sekarang sudah bisa menjelaskan,” kata Yuyun menceritakan orang-orang dan komunitas yang binaannya di Bali .

Soal tantangan atau pengalaman pahit, niscaya sudah tak terhitung dialami Yuyun. Sekitar dua tahun lalu misalnya, dia dihalangi untuk ikut konferensi internasional yang membahas perubahan iklim di Bali. Persoalannya sederhana. Sebelum acara itu, Yuyun dan beberapa temannya membentuk konsorsium LSM di Bandung, Jawa Barat. Konsorsium itu terutama menyoal perubahan iklim di kota-kota, termasuk Bandung . Kebetulan, saat itu Bandung sedang mendapat sorotan karena pengolahan sampahnya yang buruk. Sang wali kota membuat proposal tentang Pembangkit Listrik Tenaga Sampah.

Masalahnya kemudian, lokasi pembangkit itu hanya berjarak 200 meter dari permukiman penduduk, padahal seharusnya minimal berjarak 15 Km. Itu yang kemudian mereka protes, selain soal penggunaan insiniator yang menghasilkan lebih banyak karbon dioksida dan zat-zat yang beracun lainnya.

Hasilnya, Yuyun bersama beberapa rekannya dilaporkan ke polisi dan ditahan. Mereka dituduh menghasut orang-orang kampung dan menyebarkan hal yang tidak benar. Tiga aktivis lingkungan berkebangsaan India , Amerika dan Filipina yang juga ikut dalam konsorsium dideportasi dan selama setahun tidak diberi izin ke Indonesia . Karena ditahan di Bandung itulah, Yuyun dan beberapa rekannya kemudian tak bisa mengikuti konferensi lingkungan di Bali itu.

Sebelum benar-benar menjadi aktivis lingkungan, Yuyun sebetulnya pernah mencecap profesi sebagai konsultan, kontraktor dan dosen. Tapi menurutnya, semua profesi itu justru membuat dia frustrasi karena tak bisa langsung terjun ke lapangan dan melihat hasil konkret apa yang sudah dilakukan.

Saat berkuliah di ITB selama empat semester pun dia mengaku tak bergairah. Kegairahannya mulai muncul, ketika kurikulum jurusannya berubah menjadi Teknik Lingkungan. Sebelumnya Teknik Penyehatan. Di jurusan itulah, Yuyun mulai merasa spektrum garapannya akan bisa lebih luas.

Kamis sore pekan lalu, Yuyun ditemui usai mengikuti acara soal lingkungan di sebuah hotel di kawasan Sudirman Jakarta. Perempuan ini selalu tampak tersenyum. Rambutnya yang dibiarkan tergerai, dijepit sebagian ke belakang. Dia mengenakan blouse hitam berkerah V dan celana krem. Tak ada kelelahan di raut wajahnya, meski sehari sebelumnya dia baru saja pulang dari Bangkok . N ezra sihite

Perempuan, Ujung Tombaknya


Karena dari perempuan, sumber kehidupan bermula.

Bagi Yuyun, perempuan itu mestinya adalah ujung tombak dalam masalah pelestarian lingkungan. Dari mereka itu, menurutnya, sumber kehidupan ditentukan. Mulai dari hamil, menyiapkan makanan, dan sebagainya. Dan berbicara soal perempuan, Yuyun mengaku paling gemar “menakut-nakuti” agar para perempuan segera bergegas mengubah pola hidup dan menyelamatkan kesehatan mereka.

Dia lalu bercerita, tentang jumlah anak-anak sumbing, yang tak memiliki langit-langit di mulut. Menurutnya, itu terjadi, karena saat si ibu hamil, banyak menghirup pestisida dan berbagai zat polutan lain. Celakanya orang pintar dan paramedis sering tak mau tegas menyatakan penyebab sumbing dan hanya menerangkan diakibatkan banyak faktor.

Ada pula soal kanker payudara yang kini menjadi salah satu dari lima penyebab utama kematian perempuan di Indonesia . “ Itu kan karena dioksida dan itu bisa terhirup dari polutan,” kata dia.

Yang paling menggemaskan Yuyun dan saat ini belum jelas penanggulangannya adalah soal merkuri, logam berat yang bersifat akumulatif dan kadarnya semakin tinggi saat berpindah ke berbagai organisme. Logam itu bisa ada ikan yang dikonsumsi manusia. Ditambah penggunaan kosmetik yang belum tentu aman, maka lengkap sudah potensi perempuan terkena kanker payudara.

Karena itu dalam waktu dekat, kata Yuyun, akan ada global treaty soal merkuri ini. Tujuannya menuntut setiap produsen untuk transparan tentang bahan-bahan yang digunakan dalam produk-produk mereka, termasuk penggunaan merkuri itu.

Hei bagaimana dengan keluarga Yuyun? Di Bali, kata Yuyun, dia tinggal bersama dengan putri bungsunya. Si sulung sedang menyelesaikan studi di Yogyakarta . Biasanya mereka menghabiskan waktu dengan nonton film atau jalan-jalan. Tak harus jauh, cukup hanya dengan berkeliling Bali , sambil mencari tempat-tempat makan unik. “Di Bali kan memang tersedia banyak jenis makanan, mulai dari restoran Yunani, dan tempat makan berbagai negara lain,” katanya.

Kedua putrinya itu, kini juga melihat pola hidup sang ibu yang berwawasan lingkungan. Awalnya mereka bilang, Yuyun sebagai ibu yang ribet tapi setelah mendapat penjelasan kedua putrinya mau mengerti.

Keribetan itu misalnya, termasuk saat Yuyun bercerita kepada mereka, tentang keengganannya menggunakan popok instan yang dijual di supermarket. Popok itu memang praktis tapi menurut Yuyun tidak ramah lingkungan. “Ketika bayi, anak-anak saya menggunakan popok kain saja, bisa dicuci,” tambahnya. N zra

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta edisi Minggu 11 Oktober 2009

Written by Me

November 28, 2009 at 2:01 pm

Posted in Uncategorized

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Saya mendukung usaha anda untuk mencintai linkungan

    Seminyak hotels

    December 14, 2009 at 5:28 am

  2. salut dengan usaha dan perjuangan Mbak Yuyun terhadap lingkungan.Saya ingin belajar banyak dari Mbak
    Saya tingal di bali utara belajar untuk membuat suatu langkah kecil dalam menjaga lingkungan bali yang lebih harmonis..terima kasih sebelumnya

    putu yudi

    February 1, 2010 at 10:20 am

  3. Diperlukan lebih banyak orang yang peduli lingkungan seperti mbak yuyun..Saluuut..GBU

    putu yudi

    April 7, 2010 at 12:35 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: