Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Qory Sandioriva : Cita-Citaku Jadi Presiden

leave a comment »

Swimsuit one piece bagi Putri Indonesia 2009 ini hanya untuk penilaian kesehatan bukan sensualitas.

Perempuan semampai dengan tinggi 173 cm tersebut  memiliki masa lalu keluarga yang pahit. Dia menganggapnya bukan aib, melainkan pijakan untuk bangkit.

Ini cita-cita Qory Sandioriva, Puteri Indonesia 2009 itu: Ingin jadi Presiden RI . Serius, tentu saja. Bukan asal sebut seperti anak-anak SD ketika ditanya cita-citanya oleh guru mereka. “Aku benar-benar serius soal ini, karena itu mulai ikut diskusi dan acara-acara soal politik agar mulai terbiasa, dan mama yang mendorong untuk itu,” kata Qory.

Diskusi dan acara politik yang dimaksud Qory adalah sejumlah kegiatan dari salah satu partai besar di negeri ini. Di partai itu, ibunya kebetulan menjadi salah seorang pengurus yang padat dengan kegiatan. Kegiatan-kegiatan ibunya itulah, yang sering dia ikuti. Lewat cara itu, kata Qory, dia berharap cita-citanya menjadi presiden bisa terwujud. Mungkin 30 atau 40 tahun mendatang.

Qory memang perempuan yang luar biasa. Ditemui Koran Jakarta, sebelum mengunjungi para korban gempa di Sumatra Barat hampir dua pekan lalu, Qory misalnya terlihat tampil mengenakan dress berwarna merah menyala, sebatas lutut. Sepatu hak tinggi dan tas tangannya juga berwarna merah. “Ini biar terlihat lebih berani saja,” kata Qory.

Dan soal keberanian itu rupanya berhubungan dengan masa lalu Qory. Perempuan bermata bulat, berhidung bangir, berambut panjang dan berkulit putih bercerita, dulu dia termasuk orang yang tidak percaya diri, pendiam, dan cenderung tertutup. Di masa kanak-kanak itu, Qory mengaku sering menutup-nutupi kekurangannya. Antara lain, dengan berpura-pura seolah tidak ada masalah di depan orang lain meski sebetulnya batinnya tersiksa. “Bukan sakit jiwa, tapi aku merasakan situasi keluarga yang broken home,” Kata Qory.

Pengalaman pahit itulah yang memaksanya harus rutin mendatangi psikolog. Mulanya sekali tiga bulan, enam bulan lalu sekali setahun sebelum dia merasa semakin kuat dan bisa mengatasi masalahnya. “Aku enggak ingin melihat itu aib, kelemahan bukan harus jadi kegagalan,” tambahnya.

Benar, Qory kini memang perempuan penuh percaya diri dan antara lain, karena kepercayaan dirinya itulah, dia dinobatkan sebagai Putri Indonesia 2009. Baginya, kalaulah pengalaman pahit masa lalunya dianggap sebagai aib, maka dia bisa membuktikan dengan aib itu bisa bangkit.

Padahal dengan semua “rasa sakit” yang dialaminya akibat perceraian kedua orang tuanya, menurutnya, dia bisa saja terjerumus pada hal-hal yang negatif. Nyatanya tidak karena bagi Qory orang yang sudah pernah merasakan sakit itu akan berjuang lebih keras untuk hidup. Apalagi ibunya selalu mendukungnya, membangun semangat.

“Nak, maafkan mama yah, tapi mama enggak pernah menganggap kamu anak broken home karena bisa melihat kamu terdidik baik sekarang.” Begitulah kira-kira kata-kata sang ibu yang diingat Qory.

Piano dan Kuliah
Dengan semua pengalaman pahit di masa kanak-kanak itu, Qory mengaku menjadi sosok yang tidak mau sekadarnya. Semua dia rencanakan dengan matang. Qory misalnya dengan sadar memilih kursus piano, karena dia memang ingin menekuni piano klasik atau bisa memainkan irama jazz.

Juga ketika anak kedua dari dua bersaudara itu memilih sastra Prancis, karena dirinya memang menyukai Prancis. Negara yang menurutnya peduli dengan budaya dan seni. Dia membayangkan, andai beragam budaya dan seni Indonesia dipelihara dan dikembangkan dengan lebih baik, mestinya Indonesia bisa lebih dari Prancis. “Kita bisa bangga dengan budaya sendiri,” kata Qory.

Tentu kata Qory, dengan memilih sastra Prancis, dia punya tujuan. Sebuah titik yang hendak dicapainya kelak, yaitu diplomat, duta besar atau semacam itu. Kata dia, itu adalah cita-citanya yang lain selain ingin menjadi presiden. Lalu seperti halnya cita-cita menjadi presiden itu, untuk melempangkan jalan ke dunia diplomat, Qory pun berniat meneruskan kuliah di Jurusan Hubungan Internasional.

Cuma kata Qory, untuk mencapai semua itu memang dituntut pengorbanan. Misalnya tahun ini, ketika mengikuti kontes Putri Indonesia dan kemudian benar-benar terpilih menjadi Putri Indonesia , dia untuk sementara terpaksa harus meninggalkan kuliahnya selama setahun. Padahal menurutnya, dia baru dua kali masuk kelas kuliah dan tidak sempat mengikuti orientasi mahasiswa baru.

“Tahun depan aku harus ikut orientasi, bukan sekadar agar menjadi anggota himpunan mahasiswa tapi untuk pengalaman yang memang seharusnya dirasakan mahasiswa baru,” kata Qory.

Rencananya dia akan kembali ke kampus, setelah usai ajang pemilihan Miss Universe tahun depan yang juga bakal diikutinya. Itu kontes kecantikan yang mau tak mau memang harus diikuti oleh peraih Putri Indonesia , meski di dalam negeri muncul banyak kontroversi.

“Pemerintah mengizinkan, dan itu salah satu cara memperkenalkan pariwisata negeri ini, pakai swim suit yang one piece saja dan toh itu penilaian untuk kesehatan bukan sensualitas, tak ada salahnya” kata Qory diplomatis.

Singkat kata, semua telah direncanakan dengan baik oleh Qory, dan bukan hidup yang sekadarnya itu. Lalu kelak, siapa yang tahu, negara ini memang akan punya presiden yang berasal dari diplomat atau duta besar, mahir bermain piano, dan itu adalah perempuan tercantik tahun ini, bernama Qory. N ezra sihite

Wajahku Aceh


“Aku bersyukur tentang apa pun yang dikatakan orang tentangku.”

Apa perasaan Qory setelah dinobatkan menjadi Putri Indonesia 2009? “Sampai sekarang aku masih merasa bagaikan mimpi, kaget, tapi karena penghargaan ini besar maka aku akan belajar,” kata Qory. Sungguh kata dia, dirinya tak pernah membayangkan bisa menyandang gelar Putri Indonesia dalam usia 18 tahun.

Qory bercerita, awalnya dia sama sekali tidak tahu kalau manajemennya mengirimkan foto dan riwayat hidupnya ke penyelenggara kontes Putri Indonesia . Dia baru tahu, ketika ada panggilan untuk mengikuti audiensi. Sesudahnya seperti mimpi: Lolos beberapa tahap, masuk karantina finalis dan akhirnya menggondol mahkota Putri Indonesia .

“Awalnya aku pikir ikut kontes yang daerah saja dulu seperti Abang None tapi sudah diberi yang besar, ya sudah aku akan coba beri yang terbaik,” tambahnya.

Di ajang Putri Indonesia tahun ini, Qory mewakili Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Biasanya wakil dari provinsi dari sana , diwakili oleh perempuan dengan busana muslim lengkap dengan jilbab. Tapi Qory tidak. Dia justru tampil dengan membiarkan rambutnya terurai lepas dan itu yang belakangan memicu kontroversi.

“Orang belum mengenalku dan aku bersyukur tentang apa pun yang dikatakan, karena itu tak akan membuat aku down,” kata Qory.

Baginya sah-sah saja orang memprotes busananya. Tapi soal busana kata dia, adalah sebuah pilihan dan perilaku seseorang tak bisa dinilai dari busana yang dikenakan. Ada saatnya, kelak dia mungkin juga akan mengenakan busana muslim itu. “Mengenakan jilbab itu hidayah dan butuh proses,” katanya.

Lalu soal Aceh itu, kata Qory meski dirinya tak dibesarkan di provinsi itu, tak membuatnya tak mengenal budaya Aceh. “Mukaku saja sudah Aceh banget kan ? Ada segi-seginya, jadi kalau aku diam banyak orang berpikir aku jutek padahal enggak,” kata perempuan, Aceh, Sunda dan Jawa ini.

Perempuan berdarah Gayo mengaku hampir setiap tahun dia mengunjungi Aceh. Selain pemandangan alamnya, yang membuatnya jatuh hati pada Aceh adalah soal penghargaan terhadap perempuan. Di sana kaum Hawa sangat dihargai. Kalau menikah misalnya, ada istilah mayam emas sebagai mas kawin yang nilainya tinggi. Karena saat menikah harus dihargai mahal, dalam kehidupan sehari-hari pun para perempuan Aceh diberikan kesempatan membantu lelaki bekerja.

“Itu sebabnya pencetus uang emas pertama itu Aceh dan itu perempuan dari kesultanan Merah di abad ke-8. Aku lupa namanya,” kata Qory, yang ketika ditemui, mengenakan kalung, sebentuk cincin, gelang, dan anting-anting, yang semuanya berwarna emas.

Qory mengaku sempat sedih ketika Aceh pernah dilanda peperangan, dan mengalami bencana tsunami. Suatu hari kelak, dia memimpikan Aceh, akan dikenal sebagai daerah yang indah dan gagah, seperti saat masa Cut Nyak Dien. N zra

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta Minggu, 1 Nopember 2009

Written by Me

November 28, 2009 at 1:41 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: