Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Yenny Wahid : Bukan Pernikahan Politik

leave a comment »

Mengapa putri Gus Dur ini akhirnya memutuskan menikah?

Kelak setelah menikah, Yenny bertekad menghimpun kembali kekuatan partainya yang terpecah. Dia juga akan kembali menuliskan pemikirannya, dan memperjuangkan wong cilik.

Puasa lalu menjadi bulan yang menyibukkan bagi Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid.



Bukan karena dia repot menjalankan ibadah puasa sambil terus beraktivitas termasuk merawat Gud Dur, sang ayah di rumah sakit, melainkan karena di bulan itu, dia disibukkan dengan urusan pernikahan yang akan dijalaninya, dua pekan mendatang, 15 Oktober.

Yenny, begitu dia disapa, mengaku cukup pontang-panting. Saking bikunya, jangankan luluran—salah satu tradisi yang biasa dilakoni calon pengantin Jawa— saat Lebaran pekan lalu, dia juga tak sempat mudik ke Jombang, Jawa Timur menemui para kerabat.

“Saya menjalani masa pingit selamat 40 hari dan sesuai tradisi tak boleh ke bepergian jauh,” kata Yenny, yang tinggal di Ciganjur, Jakarta Selatan.

Bagi Yenny, pernikahan ini bukan saja soal percintaan antara lelaki dan perempuan, tapi juga sebuah kejutan.

Dia bercerita, dulu dirinya termasuk perempuan yang tak percaya soal jodoh yang ditentukan oleh yang di atas.

Jodoh baginya adalah sesuatu yang bisa diatur, jika memang ada niat dan sudah menentukan calon pasangan. Belakangan ketika bertemu dengan calon suaminya, Yenny berubah pikiran: jodoh tak bisa diatur melainkan sudah ada yang mengatur.

“Saya dulu berpikir, kalau memang suka pasti bisa diusahakan tapi konsep jodoh ternyata tidak segampang itu melainkan urusan garis tangan saja,” katanya tertawa.

Dan soal garis tangan itu, Yenny masih ingat ketika ada orang yang meramalkan tentang pernikahannya.

Kata si peramal itu, kalau tidak di usia 27 tahun, Yenny akan menikah di umur 35 tahun. “Saya ingat, Oktober nanti saya memang akan berusia 35 dan ramalan itu ternyata pas,” kata Yenny.

Direktur The Wahid Institut ini menuturkan, perkenalannya dengan calon suami, Dhohir Farisi, bermula Maret silam ketika keduanya terlibat dalam kampanye sebuah partai.

Dhohir adalah calon legislatif dari salah satu daerah pemilihan Jawa Timur dan Yenny menjadi juru kampanye partai. Semula Yenny sama sekali tak mengenal Dhohir, kecuali hanya mengenal sang kakak Faisol Reza, mantan aktivis PRD itu.

Tapi dari panggung kampanye, hubungan antara Dhohir dan Yenny kemudian berlanjut menjadi hubungan asmara. Tiga bulan sesudahnya, Yenny mengenalkan Dhohir ke keluarganya, dan hup…Keluarga Gus Dur menerima Dhohir dengan tangan terbuka.

Apalagi latar belakang keluarga Dhohir juga berasal dari keluarga pesantren. Dhohir dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan pesantren di Paiton, Probolinggo, sekitar 150 kilometer ke arah timur Jombang, tempat Keluarga Gus Dur berasal.

“Saya baru mengenalkan ke keluarga bulan Juni, mendapat restu dan semuanya terasa lancar hingga diputuskan untuk melangsungkan pernikahan Oktober ini,” kata perempuan yang selalu mengenakan sehelai kerudung itu.

Tapi Yenny menampik pernikahannya dengan Dhohir disebut sebagai pernikahan politik.

Kata dia, politik itu punya wadah yang bisa berlainan, tapi bisa punya ideologi yang sama. Kalau pun dia dan Dhohir punya kesamaan, itu tak lain karena keduanya sama-sama memiliki perhatian terhadap kalangan bawah.

“Perkawinan politik apa? Kalau punya ideologi yang sama misalnya kerakyatan ya nyambung, tapi kalau satu neolib mungkin enggak bisa,” kata Yenny tertawa.

Melalui pernikahan dengan Dhohir itu pula Yenny berharap akan tercipta sebuah keluarga yang kemudian menjadi fondasi sebagai awal mula dari eksistensi seseorang.

Menurutnya, keluarga yang bisa menenteramkan akan membantu untuk bisa berkiprah positif. Lalu apa arti pernikahan dan keluarga bagi seorang Yenny Wahid?

“Saya bukan orang yang menggampangkan pernikahan, kalau sudah menikah ya sekali seumur hidup. Dalam hal ini saya punya kesamaan dengan Mas Dhohir, sama-sama percaya monogami dan sama-sama punya komitmen menjaga keutuhan hubungan,” katanya.

Sketsa Tokoh

Karir politik Yenny diawali beberapa tahun kemudian setelah dia menyelesaikan pendidikan master di Universitas Harvard.

Yenny sebelumnya memang tak mau buru-buru terjun ke dunia politik karena merasa masih kurang berkeringat mengenal para konstituennya. Dia bercerita, tahun 2004 Gus Dur pernah memintanya untuk mencalonkan diri menjadi anggota legislatif.

Dengan nama besar keluarga, jika Yenny mau, pencalonan dirinya tentu bukan hal sulit untuk diwujudkan menjadi kenyataan.

Apalagi yang meminta pencalonan Yenny kepada Gus Dur berasal dari cabang-cabang di tingkat kabupaten. Toh Yenny menolak dan mengaku sempat berdebat dengan sang ayah. “Anjuran itu saya, karena saya takut Gus Dur justru dianggap melakukan praktik KKN,” kata Yenny.

Sebagai putri dari tokoh politik berpengaruh di Tanah Air, Yenny paham betul, minatnya ke dunia politik bukan tumbuh instan.

Dari semula hanya mendengarkan ayahnya berbicara, berpidato dan berdiskusi, dia kemudian mendapat pengalaman penting dalam hal berpolitik saat Gus Dur menjadi Presiden RI.

Yenny ingat, ketika ayahnya sudah tak menjabat sebagai presiden, ribuan orang menunggu dan mengelu-elukan Gus Dur di bandara. Mereka berebut hanya untuk menyentuh mobil yang ditumpangi cucu pahlawan nasional, KH Hasyim Ashari itu.

Setelah Gus Dur berpidato, massa yang berkumpul di lapangan menangis dan Yenny juga terhanyut dalam situasi saat itu.

“Saya mengerti kesedihan dan kemarahan mereka saat itu, mereka meletakkan amanat dan harapan kepada Gus Dur dan saya berpikir harus ada yang memperjuangkan orang-orang yang menaruh harapan ini,” kata Yenny mengenang, peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu itu.

Tak lalu hanya pengalaman politik yang didapat Yenny saat mendampingi ayahandanya sebagai presiden. Pengalaman lain yang juga dirasakannya adalah saat bertemu dan berkenalan dengan banyak orang termasuk para petinggi negara lain.

Dan ketika itu terjadi, Yenny menyempatkan untuk melukis sketsa wajah dari para petinggi negara lain itu lalu meminta tanda tangan mereka. Bill Clinton, Jacques Chirac, John Howard, dan Hugo Chavez hanya sedikit dari tokoh-tokoh dunia yang sempat dilukisnya.

“Tapi koleksi itu kini sudah tidak banyak lagi, sebagian hilang entah ke mana saat meninggalkan Istana Negara dulu,” kata Yenny.

Kebolehannya membuat sketsa itu yang awalnya membuat Yenny bercita-cita jadi animator.

Dia karena itu mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Namun selulus dari sana lowongan sebagai wartawan di Sydney Morning Herald dan The Age—keduanya media Australia— membuat Yenny mengubah haluan. Dia menjadi wartawan.

“Ternyata menjadi wartawan itu pekerjaan yang menantang dan menyalurkan kebiasaan saya yang selalu ingin tahu yang sebenarnya terjadi, saya juga senang karena ditempatkan di Timor Timur, Ambon dan Aceh. Yah, namanya anak Gus Dur memang harus ada nekatnya,” katanya.

Yang paling berkesan bagi Yenny saat menjadi wartawan ketika dia harus menyusup ke penjara Cipinang, menyamar sebagai pengunjung untuk menemui dan mewawancarai Xanana Gusmao.

Pengalaman menarik lainnya, saat dia berada terjebak baku tembak antara kelompok prointegrasi dan pendukung kemerdekaan untuk Timor Timur.

Juga perjalanannya ke pedalaman hutan di Aceh untuk mewawancarai tokoh-tokoh GAM. “Aku pikir sekarang kok dulu aku berani yah, tapi itu pengalaman berhargalah,” katanya lagi.

Kelak setelah menikah, Yenny berharap dia bisa kembali aktif di dunia tulis menulis, bukan sebagai wartawan tapi menuliskan aspirasi dan buah-buah pemikirannya.

“Saya bersyukur menemukan calon suami yang juga tak hanya mengerti soal politik tapi juga mengenal tradisi, jadi kalau diajak ke Bromo oke dan kalau diajak bertugas ke luar negeri pun nanti tak ada masalah,” katanya.

Hal lain yang akan dilakukannya, adalah menghimpun kembali kekuatan partainya yang terpecah. “Setelah menikah tiga atau empat hari tiap minggu saya mungkin akan turun lagi ke grassroots, membangun dan kembali memperkuat jaringan,” kata Nyonya Dhohir eh .. Yenny.
ezra sihite

Cerita Soal Anting Itu

Kalau memang perempuan, pakailah anting.

Sudah sejak lama Yenny Wahid sebetulnya tak setuju dirinya disebut sebagai feminis.

Sudah sejak lama Yenny Wahid sebetulnya tak setujua dirinya disebut sebagai feminis.

Meski soal-soal perempuan menjadi isu penting dan mengambil porsi dominan di Wahid Institute, menurutnya, sindrom primadona sebagai feminin justru bisa menjegal kemajuan perempuan.

“Perempuan itu kan selalu ingin paling cantik dan sukses? Kalau ada perempuan lain yang lebih sukses dianggap saingan jadi enggak bisa bahu-membahu untuk maju.

Itu berbeda dengan lelaki yang sekalipun bersaing tapi enggak saling ngomongin,” kata Yenny, yang ditemui sepekan sebelum Lebaran.

Yenny karena itu menawarkan agar para perempuan punya paradigma yang baru soal bersaing sehat itu. Antara lain misalnya, ikut merasa senang kalau ada sesama perempuan yang sukses atau berprestasi.

Dari sana, Yenny percaya semakin banyak perempuan yang menempati posisi penting maka semakin besar pula peluang untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. Contohnya untuk memperjuangkan memperpanjang cuti hamil melahirkan dan mendapatkan cuti haid.

Yenny juga bercerita soal seringnya dia disandingkan dengan Puan Maharani, putri Megawati Soekarnoputri yang kini juga mulai terjun dalam politik.

“Saya bilang termasuk ke Keluarga Puan, Pak Taufik Kiemas, Puan dan saya bukan saingan toh kita sama-sama punya sejarah keluarga yang harus diemban dan konstituen kita sama-sama wong cilik. Siapa pun yang paling berhasil ya bagus,” Yenny kembali tertawa.

Lalu siapa yang menjadi tokoh perempuan favorit Yenny? “Ibu Sinta Nutriyah dan Haillary Clinton,” katanya.

Nama yang disebut pertama adalah ibundanya yang menurut Yenny termasuk perempuan yang gigih, berpikiran progresif sekaligus memegang kuat tradisi.

Salah satu contoh kegigihan sang ibunda, ketika dia mengalami kecelakaan dan lumpuh pada 1993 tapi tetap masih tekun meneruskan kuliah di Universitas Indonesia.

Ruang kuliah yang saat itu berada di lantai empat membuat sang ibu harus ditandu dengan bambu tapi hal itu tak menjadi penghalang.

Dalam hal tradisi, ibunya selalu berusaha tampil rapi dengan sanggul bahkan kadang-kadang tak keberatan mengenakan kain panjang yang memakainya justru tak gampang.

Penampilan sang ibu itulah yang menginspirasi Yenny dalam hal berpakaian.

Di antara saudaranya, hanya Yenny yang mengenakan kerudung seperti sang ibu dan kata dia hanya dirinya yang mengenakan anting. “Kalau perempuan menurut Ibu Nuriyah kan harus pakai anting, tapi yang mempan hanya ke saya,” dia tertawa.

Sore itu Yenny, memang terlihat mengenakan kemeja berliris biru lengan panjang dan kerudung bercorak bunga. Anting mutiara putih kebiruan terlihat menyembul dari balik kerudung transparannya yang bermotif kembang itu.
zra

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta edisi Minggu, 27 September 2009

Written by Me

November 28, 2009 at 2:12 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: