Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Melihat, Mendengar, Merasakan

leave a comment »

Shanty Harmayn

Jakarta International Film Festival atau JIFFest tak bisa dipisahkan dari nama Shanty. Selama satu dekade sejak festival film itu diadakan kali pertama 1998, JIFFest dan Shanty memang seolah senyawa yang berkelindan: JIFFest adalah Shanty dan Shanty adalah JIFFest.

Perempuan ini memimpikan industri kreatif seperti JIFFest bisa dianggap investasi. Jakarta International Film Festival atau JIFFest tak bisa dipisahkan dari nama Shanty. Selama satu dekade sejak festival film itu diadakan kali pertama 1998, JIFFest dan Shanty memang seolah senyawa yang berkelindan: JIFFest adalah Shanty dan Shanty adalah JIFFest. Hingga JIFFest yang ke-11 yang dibuka pekan lalu, terdengar kabar Shanty Harmayn tak lagi duduk sebagai ketua. Dia hanya menjadi anggota tetap dewan penasihat JIFFest. “Sekarang proporsinya saja yang berbeda tapi kalau untuk rencana kerja JIFFest, apa saja, saya masih ikut terlibat,” kata Shanty tersenyum. Matanya yang sipit makin kecil di balik lensa kacamata berbingkai hitam. Ide JIFFest kata Shanty lahir dari sebuah kerinduan ketika dia sering menyambangi acara-acara festival film di beberapa negara di Eropa dan Asia . Bersama Natacha Devillers, Shanty kemudian mewujudkan idenya pada 1998. Itulah JIFFest yang pertama. Sejak itu JIFFest menjadi acara rutin dan penggemarnya semakin bertambah. Awalnya, hanya 60-an film yang diputar tapi sekarang kata Shanty sudah mencapai 100 film. Ketertarikan Shanty mengadakan festival bergengsi memang bukan tanpa alasan dan latar belakang. Menyelesaikan S2 untuk film dokumenter, dia sudah membidani 15 film. Sebagian besar film dokumenter, yang lainnya film fiksi. Dengan bekal semua itu, tak berlebihan kalau Shanty didaulat menjadi ketua JIFFest selama 10 tahun. Lalu film-film yang diputar di JIFFest kemudian banyak memutar film dokumenter dan fiksi termasuk Balibo Five, The Black Road, Passabe, Timor Loro Sae, dan Tales of Crocodile meski belakangan, semua film itu batal diputar karena dilarang oleh LSF. Perempuan ini bercerita, ada kepuasan masing-masing ketika menggarap atau membuat film fiksi dan dokumenter. Pada film fiksi, si pembuat film seolah diberikan kanvas putih dan ia diminta untuk melukis di atasnya. Apa saja. Itu kata dia berbeda dengan film dokumenter. Untuk film dokumenter, si pembuat film berusaha membentuk sudut pandang untuk suatu bagian realitas lalu memberikan opini di dalamnya.

Sudut pandang itu pun ditentukan dari sisi mana yang dianggap paling menarik sehingga tak hanya menampilkan hubungan sebab akibat melainkan memberitakan “sesuatu.” Selain jumlah kru film yang lebih sedikit dan waktu produksi yang lebih singkat, yang unik dari film dokumenter adalah persahabatan yang sering kali terjadi antara si pembuat film dengan subyek. “Contohnya subyek yang kita angkat, mau enggak mau sebagian dari hidupnya kita tahu. Setelah itu hubungan dengan subyek menjadi semacam persahabatan,” tambahnya.

Sayangnya kata Shanty minat orang Indonesia untuk menonton film dokumenter memang belum terlalu terlihat. Selain karena soal produksinya yang kurang, penyebaran film jenis itu juga belum memadai. “Paling hanya lewat iklan di televisi dan itu terbatas. Jadi mau enggak mau, permintaannya juga kurang dan otomatis tidak merangsang para pembuat film untuk membuatnya,” katanya.

Seribu Video

Ditemui di kantornya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu sore pekan silam, Shanty terlihat mengenakan dress berwarna oranye dengan paduan blazer biru dan kalung mutiara. Jingga memang warna favorit Shanty. Sepatu hak tinggi hitam dan stocking transparan dengan warna yang sama dengan sepatunya, membalut kaki dan betisnya. Di jari tengah tangan kirinya melingkar sebentuk cincin berlian dan jari manis tangan kirinya dihiasi cincin emas. Bibirnya dipoles gincu merah muda. Shanty bercerita, kecintaannya pada film bermula sejak masih kanak-kanak. Semasa di bangku SD, hampir setiap hari dia menonton satu hingga dua film usai sekolah. Bukan di bioskop melainkan lewat pemutar kaset video. Kaset-kaset itu milik teman sang ayah yang menitipkan seribu kaset video di rumah mereka. Sejak itulah, perempuan ini mengaku selalu menonton film dan seribu film dari kaset video itu habis ditontonnya. Sebagian ditonton berulang-ulang, sehingga Shanty hafal kalimat-kalimat yang diucapkan para pemainnya. “Audiovisual medium yang sangat kuat. Pengaruhnya sangat besar. Ketika menonton film, you see, you hear and you feel,” kata Shanty. Itu sebabnya, kata dia, kendati hanya dua jam, penonton bisa diam dan percaya akan dunia yang ditunjukkan oleh sebuah film.

Saat keluar dari gedung bioskop, mereka bisa marah, sedih, senang, berpikir, punya pertanyaan yang timbul dalam pikiran dan sebagainya. Soal film-film dokumenter yang digarapnya, dia mengaku banyak menggandeng produsen atau kru dari negara lain. Pasir Berbisik, film pertamanya misalnya, dibuat bareng dengan produsen dari Jepang. Lalu The Photograph menggandeng produsen dari Prancis, begitu pula beberapa film dokumenter yang lain. Perempuan ini percaya, kolaborasi lokal dan luar negeri bisa melengkapi dan memberi warna baru. Itu juga tidak ada sangkut-paut dengan ketidakpercayaan kepada orang-orang di dalam negeri.

Tantangannya, menurut Shanty, dia sering terbentur dengan soal sudut pandang, meski hal itu tak membuat pengerjaan film menjadi mentok. Contohnya soal cerita dan adegan bahagia yang menurutnya mencerminkan Indonesia , tapi dianggap berlebihan oleh tim Prancis yang digandengnya. “Namun karena materinya memang dari Indonesia, yang paling tahu ya kita. Jadi take it or leave it. Seperti itu yang menarik,” i Shanty tertawa. Kini Shanty sedang menyiapkan membuat film Ronggeng Dukuh Paruk, yang naskah dan ceritanya disadur dari novel karya Ahmad Tohari. Cerita di novel itu, kata dia sangat menyentuh sehingga dia tertarik mengangkatnya ke layar perak.

Lalu tentang JIFFest, Shanty berharap pemerintah baik pusat maupun daerah bisa mengalokasikan anggaran khusus untuk acara seni dan budaya dalam jangka waktu yang lama dan bukan hanya insidental. Beberapa negara seperti Prancis misalnya, sudah menerapkan hal itu. Pembiayaan festival film atau musik sebagian ditanggung atau berasal dari kocek pemerintah pusat, sebagian lagi oleh pemerintah daerah, dan sisanya diongkosi sektor swasta. “Semoga satu atau dua tahun ke depan jadi turning point, pemerintah bisa melihat acara seperti ini (JIFFest) sebagai investasi, kita sudah punya modal konten dan hanya tinggal pembiayaan,” kata Shanty. ezra sihite

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta edisi Minggu, 6 Desember 2009

Written by Me

December 11, 2009 at 7:07 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: