Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Seni Itu Investasi

leave a comment »

Linda Hoemar Abidin

Linda berharap suatu saat setiap kelompok seni di Indonesia memiliki manajemen dan fasilitas
yang baik. Kualitas dan potensi para seniman tanah air menurutnya sangat besar. Hanya saja, infrastruktur yang harusnya menyokong dunia seni itu masih sangat kurang. Bahkan mengalami kemunduran dibandingkan empat puluh tahun lalu.

Jangan tanya apakah Linda pernah merasa rindu untuk kembali ke panggung? Soal jadi bagian dari pertunjukan itu memang sudah belasan tahun dia tinggalkan. Namun tak berarti perempuan ini sama sekali meninggalkan dunia kesenian. Justru dia mengambil jarak dari panggung agar bisa mengemasi segala sesuatu yang diperlukan untuk keberlangsungan pertunjukan panggung sendiri.

Perempuan itu menjadi orang belakang panggung yang bercita-cita agar geliat pertunjukan seni di Indonesia makin gencar. Seni tari jadi akar pembentuk kecintaan Linda dalam dunia seni dan budaya. Sejak usia tiga tahun, dia sudah diperkenalkan tari ballet, itu dipelajarinya saat bermukim di Berlin, Jerman dan sempat meneruskan ketika kembali ke Indonesia tahun 1973.

Tak hanya ballet yang lalu dia geluti, berbagai tari daerah, mulai dari tari tradisional Jawa, Sumatra hingga Bali pun sempat dicecapnya. Hingga Linda mendapat kesempatan beasiswa kuliah tari di New York. Di kota metropolitan itu pula dia diterima di sebuah kelompok tari profesional, Elisa Monte Dance Company. Kelompok tari tersebut punya reputasi dan sepak terjang tak hanya di Amerika. Alhasil, selama bekerja empat tahun di dalam kelompok, Linda merasakan bagaimana manggung ke berbagai negara di dunia. Ya, dia memang salah satu seniman yang beruntung pada zamannya .

Apalagi karena sebuah organisasi donor asal Amerika Serikat membiayai dia kuliah. “Aku ke New York dan mendapat kesempatan untuk belajar dan banyak melihat pertunjukan, aku berpikir kenapa enggak ada orang Indonesia lain padahal masih banyak yang kemampuannya lebih dari aku,” katanya.

Minat seni yang terakomodir dengan baik membuat perempuan ini merindukan bahwa di negeri sendiri suatu saat juga akan seperti itu. Linda bercerita bagaimana dia bisa menikmati perpustakaan besar soal budaya dan seni, menikmati pertunjukan yang sangat inspiratif dan membuka wawasan selama di negeri orang. Kerinduan itu kemudian yang membersitkan ide dalam pikirannya untuk membuat sebuah yayasan yang bisa membantu seniman mendapatkan kesempatan dan informasi untuk belajar, berkarya dan mengembangkan kreatifi tas mereka.

Maka pada suatu kesempatan sekitar tahun 1988, saat pertama kali akan naik panggung, Linda disodori tiga lembar kertas isian oleh manajer kelompok. Ternyata tiga lembar itu berisi rencana panggung dan latihan keompok tari untuk dua tahun ke depannya. Linda merasa terkejut melihat begitu rapi dan terencananya jadwal seni yang sedang dia kerjakan. Seakan mendapat pencerahan, perempuan ini langsung punya mimpi kalau hal serupa pun bisa diterapkan di Indonesia.

“Saya tanya kan sama manajernya, darimana kamu tahu soal-soal manajemen seni seperti ini dan dia bilang dia kuliah di New York Univeristy, itu S2, dan saya seakan punya mimpi baru untuk kuliah itu juga,” kata dia sambil tertawa. Perempuan ini teringat tanah air yang kaya seni budaya namun pada saat itu belum ada yang memiliki manajamen dalam kelompok seninya.

Lagi-lagi, dia mendapat sokongan dana dari lembaga donor. Jalannya untuk menjadi penari dan mendalami ilmu soal tari serta ilmu pendukungnya kata dia memang ibarat divine intervention, artinya, mungkin memang sudah jalannya bagi dia, kesempatan terbuka mendalami dunia seni yang sejak kecil dia cintai itu. Saat akan pentas pertamanya di New York justru dia mendapat impian baru soal manajemen seni itu. Lantas sepenting apa manajemen seni ini demi kemajuan dunia seni itu sendiri? Kata dia sebenarnya secara tidak sadar kelompok tradisional di Indonesia secara tidak langsung sudah memiliki manajemen.

“Kan ada yang disebut sebagai empu tari, empu gamelan dan si ahli lukis dalam suatu sanggar, hanya kalau gulung tikar misalnya maka yang bergantung pada dia akan kehilangan pegangan juga,” jelasnya. Maka perlu dijalankan manajemen sebagaimana yang dia alami saat menjadi penari di New York tersebut. “Akan bisa ada perencanaan dan pembagian kerja yang jelas juga transparansi. Apalagi kalau melakukan kerjasama dengan suatu perusahaan penyokong maka yang diperlukan adalah akuntabilitas dari kelompok seni itu,” tambahnya.

Singkatnya kelompok seni yang punya manajemen bisa memrediksi nasibnya ke depan dan mendorong setiap kru dalam kelompok untuk lebih profesional. Meniti Mimpi Sebenarnya Linda bisa saja mene ruskan karier sebagai penari di kelompok tari ternama di New York itu. Namun setelah menyelesaikan studi manajemen seninya, perempuan itu kembali ke tanah air tahun 1997.

Alasannya, untuk mewujudkan mimpi soal manajemen seni dan memberi informasi dan akses bagi kegiatan dan pekerja seni di Indonesia. Dia kembali bukan untuk tampil di atas panggung tapi jadi seseorang yang mendorong dunia seni tersebut. Dua tahun setelah kembali, dia dan beberapa teman yang memang punya visi sama mendirikan sebuah yayasan nirlaba yang memerhatikan soal seni pertunjukan. Yayasan itu menggandeng beberapa institusi yang menaruh perhatian soal seni dan budaya dari luar negeri dan juga domestik. Sampai sekarang, Linda masih duduk di dewan yayasan yang dia bangun tersebut.

Sejak didirikan, yayasan tersebut sudah memberikan peluang untuk belajar dan berkarya bagi para pekerja seni. Berbagai lokakarya yang dilakukan pun sudah mengundang para pelaku seni yang mewakili 300 organisasi seni dari berbagai daerah di Indonesia. Disamping lokakarya, mereka juga menyediakan hibah seni yang diperuntukkan bagi para seniman dan grupnya yang meminta dukungan dana. “Setiap tahun kita memberikan untuk 15 kelompok dan mereka harus membuat proposal dulu, nanti ada tim yang menyeleksi setiap Februari tiap tahunnya,” kata perempuan ini.

Dia memberikan salah satu contoh sebuah teater besar yang harus mengadakan pertunjukan ke daerah. Ketika krunya banyak maka mereka biasanya akan mengirimkan kelompok kecilnya saja. Bagi Linda hal itu suatu yang disayangkan sehingga melalui hibah seni ini, kelompok seni itu bisa tampil dengan maksimal melalui adanya sokongan dana, tak seratus persen memang.

Namun menurut pengalaman kata Linda, dana itu ibarat menjadi penyemangat para kelompok seni bahwa mereka punya modal sebelum memenuhi seluruh anggaran. Adapula yang dinamakan magang nusantara dan internasional. Sampai tahun ini, 118 seniman dari berbagai daerah disalurkan untuk magang tiga bulan di organisasi seni dan budaya nasional. Tak hanya di dalam negeri, ada 39 seniman yang diberikan kesempatan di lembaga kesenian terkemuka di Australia dan Amerika Serikat, salah satunya di Sundance Film yang digagas Robert Redford, aktor lawas Hollywood itu.

Pernahkah Linda merasa kangen untuk naik panggung lagi? “Enggak per nah, entah kenapa justru senangnya sekarang melihat para seniman muda ketika mereka sangat bersemangat, saya bersyukur bisa mengecap dunia panggung seperti cita-cita dan ketika meninggalkannya memang keputusan pada waktu yang tepat,” itu kata Linda. Tak pernah juga dia sekadar berlatih atau melenggak-lenggok lagi bahkan ketika di rumah kata dia. Selain sibuk mengelola yayasan itu, Linda juga dipercaya menjadi pembim bing beberapa skripsi para mahasiswa seni di Institut Kesenian Jakarta.

Tak lalu yayasan yang didirikannya itu lepas dari tantangan selama ini. “Kalau jenuh enggak pernah tapi mungkin tantangannya kali, khususnya soal kerjasama jangka panjang dengan pihak yang bisa mendukung kegiatan seni dan budaya,” kata dia. Namun perempuan ini merasa sedikit lega ketika Kamis kemarin kata dia akhirnya ada beberapa perusahaan investasi yang mau bekerjasama. Kalau pemerintah? “ Belum yah, tapi yang kita harapkan sih paling tidak pemerintah mau memberikan insenstif pajak bagi perusahaan yang mau menyokong lembaga budaya dan seni, itu hal yang sudah sangat biasa di luar negeri,” kata dia lagi. _ ezra sihite

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta edisi 17 Januari 2010

Written by Me

May 11, 2010 at 9:35 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: