Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Wawancara Log Zhelebour

with one comment

Tak pernah mati, begitulah rock. Di sini, ungkapan itu juga tepat untuk menggambarkan kiprah
Log Zhelebour dan musik rock. Mengusung bendera Logis Record pelan-pelan, seperti merayap,
namanya kemudian menjulang dalam industri rock di tanah air. Nyaris semua grup-grup cadas yang kemudian tenar tahun 90-an tak lepas dari campur tangannya.

Lelaki ini tak pernah buru-buru, juga dalam dunia rocknya. Dari God Bless lalu Mel Shandy, kemudian
Elpamas, Power Metal, Gang Pegangsaan hingga generasi yang lebih muda seperti Boomerang dan
Jamrud juga festival-festival rock yang diadakan untuk menjaring bibit baru. Memasuki dekade ini denyut itu seperti berhenti. Gelombang pop lebih menjadi pilihan masyarakat yang ins tan.


Toh, Log tak mau tergesa-gesa, misalnya membuat pergelaran semacam Woodstock. “Kalau Woodstock zamannya beda, dulu bisa karena zaman hippies, sekarang sudah enggak yang begitu.”
Tapi, benarkah rock tak akan pernah mati?

Ditemui Adiyanto, Ezra Sihite dan Rusdi Mathari dari Koran
Jakarta, Log “menggambar” pasang surut rock di Indonesia. Berikut petikannya:

Kenapa tertarik jadi promotor rock ?

Pop nggak terlalu booming waktu itu. Konser dulu sama sekarang beda, dulu paling banyak sepuluh lagu, cepat bubar sekarang bisa sampai 25 lagu itu. Kenapa rock? Karena paling menantang dan aku juga hobi. Terus karena rock juga bisa bikin konser-konser besar, kolosal zaman itu. Kalau pop nggak ada sesuatu yang kita kejar untuk showbiz, penonton rock untuk show itu paling banyak. Sponsor waktu aku gaet pertama kali tahun 80 sudah respek, temanya Rock Power dan mulai tahun 83 sudah jadi Rock Super Power. Tur waktu itu aku umur masih 20-an bikin di Semarang, Bali dan Surabaya.

Kok bisa dipercaya artis-artis rock padahal masih muda?

Karena saat genting pun kita membuktikan komitmen sebagai penyelenggara yang bertanggungjawab. Ada kerusuhan pun kita tanggung jawab. Jelly Tobing kesetrum pun kita obatin. Bayarin hotel sebulan, makan dan pengobatan kita tanggung padahal jeblok waktu itu. Kita bikin show dilarang Gubernur Ismail di Semarang, kita tetap bayar, walapun kita rugi. Duit sekoper habis waktu itu.

Bagaimana sponsor bisa percaya?
Ya, itu perlu waktu, kepercayaan muncul kalau kita bisa menunjukkan dedikasi terhadap profesi. Di saat kesulitanpun kita nggak kabur malah maju depan. Aku nggak kasih orang mendatangi sponsor, orang datangnya ke Log Zhelebour dan makin tahun ke kecenderungan namaku makin besar, makin melambung dan menimbulkan kecemburuan sponsor. Sponsornya bilang gila, namaku lebih besar, dulu dilarang tapi maju terus sampai show boleh. Di Tambaksari (Stadion Tambaksari, Surabaya) enggak pernah ada show sampai subuh, aku bikin sampai subuh tahun 84. Dulu jam 11 sudah dibubarin, nggak ada yang peduli. Aku doang, orang intelnya sama aku cs percaya dia sama aku.

Dibayar?
Lha nggak, cuma izin polisi dan tentara zaman itu kan berperan. Backing aku Tuhan Yang Maha Kuasa thok. Sama mental. Aku itu yang dobrak semua instrument dunia showbiz, dari yang nggak ada panggung, pakai barikade drum hingga panggung masih papan itu. Aku yang pertama kali punya panggung sama lighting dan pakai scan laser, orang lain mana berani.

Bagaimana Anda bisa memegang God Bless?
Yang bisa datenginkan hanya aku. Kenal sama mereka juga karena tur-tur itu. Terus waktu itu God Bless punya masalah. Di TIM waktu itu terbuka, anak-anak itu sama Reynold Panggabean, manajer yang pernah pegang, terus ada masalah rekaman mandeg, produser juga nggak respek lalu aku ambil alih kontraknya. Memang zaman itu termasuk tinggi, aku bayar 35 juta rupiah. Padahal satu kaset hanya 400 rupiah dapatnya di luar promosi itu. Aku berani. TV zaman dulu 6 juta sekali muncul itu. Kita bayar ke TV padahal kita dapat dari kaset hanya 400 perak.

God Bless itu yang omset paling besar ya?
Enggak dong, Jamrud, dua juta lebih. Kalau God Bless 300.000-an tapi memang di era itu mereka nomor satu. Karena kalau rock bisa nembus seratus ribu itu sudah hebat.

Anda ikut mempengaruhi warna musik God Bless saat itu?
Enggak. Waktu itu God Bless hanya menentukan susunan lagu yang dipromosikan. Karena waktu itu mereka jual master, nggak ada risiko apa-apa.

Copywrightnya Semut Hitam itu pada Anda?
Semua lagunya God Bless di tanganku sampai sekarang. Kalau yang terbaru enggak, sebetulnya ada kontrak satu lagi hanya apa yang mau dikejar. Udah bayar aku.

God Bless sempat vakum terus muncul lagi setelah 8 tahun, waktu itu anda ingin memanfaatkan nama besar God Bless?
Enggak juga, mereka yang minta.

Kenapa Ian Antono keluar?
Karena dia merasa dominasinya tergusur. Dari dulu kan God Bless itu dominasinya dia.

Bukan karena berselisih dengan Anda?
Enggak. Selisihnya itu hanya masalah komitmen tur sama Djarum, dia ikut ambil show di Kalimantan juga sama Bentoel dan nggak ngomong karena saudara kakaknya ada di situ terus tahu-tahunya hujan dan panggungnya rubuh. Pemain lain nggak peduli dan minta bayar, orang memang nggak tahu dikira ribut sama aku padahal intern pemain. Aku nggak peduli, wong gak dibayar sama Bentoel, minta dibayar tapi hutang, anak-anak minta tetap dibayar, Ian-nya ngambek. Itu orang luar nggak tahu.

Kalau Teddy drummernya?
Oh itu dia sendiri. Mungkin dia merasa permainannya nggak nambah apa-apa di God Bless. Itu dari sisi permainan, nggak ada hubungan dengan bisnis.

Penjualan Elpamas setelah Power Metal tidak gencar kenapa?
Lho, Power Metal itu meledak. Elpamas memang satu album saja yang meledak, yang Pak Tua-nya yang lain nggak. Waktu itu Pak Tua sengaja aku yang minta. Anak Elpamas sendiri nggak mau, hanya aku kan ambil. Rock masak yang nyanyi Totok ?(Totok Tewel gitaris Elpamas) Lagu itu kan booming, tapi kemudian dilarang di televisi

Di masa waktu itu seperti tergesa-gesa, tidak sempat persiapan?
Enggak, aku nggak pernah buru-buru. Malah produsen lain itu ngikut. Aku habis God Bless itu Mel Shandy itu Bianglala meledak. Elpamas itu belakang, yang Dinding-Dinding Kota . Terus God Bless lagi, iseng ngeluarin Gang Pegangsaan, meledak nggak diduga-duga booming juga, nggak sengaja padahal. Tiga bulan baru laku, aku sudah sempat putus asa.

Kenapa penyayi rock perempuan itu sangat jarang sekarang?
Kalau aku lihat nih ada yang bagus beberapa cuma tanggung-tanggung gitu, aku kadang enggak berani lagu dulu, orangnya dulu vokalnya dan cara nyanyinya.

Jadi siapa?
Nggak ada. Kalau yang pop bagus Agnes Monica dengan usia seperti dia kemampuan seperti itu bagus dan dia punya image.

Anda percaya sukses sebuah album tergantung juga pada wajah dan fisik?
Ah enggak. Band-ku semua jelek. Itu nggak jaminan, malah band yang norak-norak bisa terkenal. Mel Shandy enggak cantik. Kalau sekarang ada beberapa penyanyi rock kayak Melanie Soebono dia kepingin, ada juga kayak Kotak kalau nggak salah terus Garasi, lumayan. Kotak juga sempat ditawari ke aku hanya aku banyak permintaan yang aku kepingin dia revisi karena tanggung, rocknya nggandol (menggantung) gitu, tanggung dan anaknya keberatan, ya sudah.

Log Zhelebour kantornya dimana?
Di Kemanggisan, perumahan DPR itu sampingnya persis.

Studionya?
Bukan punyaku itu. Studio kan sewa, kalau studio live sama sound system punya. Biasanya kalau mau rekam, sewa terus modifikasi sendiri.

Tentang Festival Rock apakah akan menyerah?
Enggak, kita tetap jalan terus kok. Cuma aku harus menjaga momen juga. Karena kita tidak bisa melawan tren yang dijejalkan sama stasiun televisi. TV menciptakan bintang-bintang instan untuk hiburan dan masyarakat tanpa perlu keluar duit. Jadi memang enggak diciptakan untuk jadi bintang profesional.

Dampaknya ke orang seperti anda?
Ya itu risiko persaingan yang harus dihadapi. Kalau kita di off air orang lihat showku nggak ada tandingan.

Jangan-jangan Anda memang hanya ingin memuaskan keinginan pribadi?
Memang. Aku bisnis di musik ini disamping kepuasan orang lain, kepuasan kita juga, karena aku ingin juga memberikan orang inspirasi soal pencapaian karir di bisnis, mulai dari kecil lalu berkembang. Propertinya masih lengkap, panggung dan sound masing-masing.

Mengapa tak membuat TV Rock khusus?
Ada beberapa stasiun tv lokal yang ngajak, termasuk yang punya Jawa Pos. Tapi waktunya, aku disuruh tampil terus, gimana? Bangkrut bikin TV Rock itu bisnis yang segmented sementara market bisnis tv nggak boleh begitu, nggak dapat iklan nanti. Kalau di showbiz bisa. Nah iklan yang segmented kan nggak bisa mengisi seluruh jam tayang di tv. Mosok 24 jam masak rokok thok, bangkrut.

Black Angels itu dimana sekarang?
Masih ada. Black Angels itu anak Jambi. Masih ada. Kalau Kaisar juara itu tahun 1991. Tapi Kaisar waktu itu digadoin. Kalau orang lama suka-suka. Itu tahun 1989. Kalau Harley Angels 84, kalau Elpamas 85.

Jadi kapan mau mengadakan festival lagi?
Belum, nantilah. Terakhir kan masih bikin yang sama Indosiar itu kan .

Dulu merajai setiap tahun?
Nggak donk, Indosiar malah siaran televisi. Malah kita siaran tiap Jumat malam dan finalnya siaran langsung.

Tapi Rock tidak masuk televisi toh justru bisa lebih gemerlap?
Ya, beda zaman. TV begitu banyak. Kalau dulu orang baca koran, radio, majalah sudah heboh semua itu. Kalau sekarang kalau nggak semua media dipasang, kok kayaknya kurang promosi.

Jadi yang akan datang tahun berapa? Bentuk festival apa reuni seluruh juara?
Ada dua paket memang. Sifatnya mungkin reuni ngumpulin band yang masih ada.

Konsepnya?
Belum tahu, mungkin konsep off air. Memang nggak di studio. Yang waktu itu juga off air tapi di siaran televisi. Jurinya kita ada Ahmad Albar, Azis banyak itu. Kalau reuni kita hanya mau memperingati 25 tahun.

Kalau membuat kompilasi sendiri?
Takut. Sekarang juga penjualannya sedikit.

Ini rencananya kapan?
Kalau reuni sih kalau bisa tahun ini. Kalau festival lagi belum tahu, mungkin tahun depan, itu kan biayanya besar belum lagi audisi di setiap propinsi. Kalau di Jakarta bikin show paling kecil biayanya nggak ada hotel nggak ada transport, paling nyewa truk, paling murah meriah.

Padahal di Jakarta rock tak terlalu diminati?
Bekasi itu basisnya rock dan Jakarta Selatan. Kalau Barat dan Utara bukan market.

Kalau Tahun ini kapan?
Belum, tergantung sponsornya. Wong aku belum ngurus kok. Tapi sudah banyak yang tahu, artinya mereka sudah dengar.

Kemarin nonton Rockin Land ?
Nonton sih nggak, tapi aku mengikuti.

Tak ingin membuat yang seperti itu?
Kadang kalau kita bikin seperti itu mubazir juga. Paling duitnya membayar keamanan sama artis, habis itu rugilah. Kan lagi sepi, padahal band yang terlibat itu pilihan.

Atau bikin yang jenis Woodstock ?
Kalau Woodstock, zamannya beda mas, dulu bisa. Karena dulu zaman hippies sudah nggak ada sekarang. Era hippies orang nginep, pakai kaos oblong atau telanjang cuek saja. Kalau sekarang hanya di Bali yang bisa begitu-gitu. Tempatnya pasti di diprotes orang.

Di Sentul atau Cibubur?
Sentul terlalu jauh dan enggak ada yang datang, paling nggak di Cibubur. Di Sentul balapan saja nggak ada yang nonton. Bukan tidak berani, sponsor itu sekarang menuntutnya yang hebat-hebat tapi nggak mau bayarin. Lha aku kan tipe orang yang nggak mau rugi. Kita di sini bisnis.

Dulu yang festival-festival rock itu?
Dibayarin. Gak pernah rugi kok festival-festival rock itu, sekali doang tahun 1996. Kalau festival Rock nggak pernah rugi. Seratus persen modal orang doank dapat fee malah. Festival itu waktunya panjang persiapannya. Tak mungkin setiap tahun paling nggak dua tahun sekali. Mestinya tahun kemarin, tapi karena ada Pemilu macem-macem, sikon-nya nggak bagus.

Dulu setahun sekali?
Dulu lain. Dulu itu konsepnya ecek-ecek audisinya. Sekarang kita kirim truk puluhan ke luar pulau. Anda lihat luar biasanya kan hanya karena lihat finalnya saja. Lihat auidisinya, sama yang siaran langsung di televisi. Seluruh kota kita bawa alatnya. Kalau dulu untuk luar pulau itu bikinnya kecil-kecilan, aku nggak mau keluar duit gede. Yang dimodalin hanya final dan semi final. Tiketnya pasti habis waktu itu. Bedanya ya zamannya. Sekarang cari penonton di atas 10.000 itu setengah mati.

Untuk rock?
Semuanya. Kalau bayar ya nggak bisa dicintai. Ini maksudnya show nggak bayar.

Kok bisa?
Dulu 15.000 gampang, tiket aku nggak pernah bikin gratis seumur-umur. Kalau disuruh gratis sama sponsor aku suruh bayar double. Sekarang susah karena hiburan di televisi-televisi kan gratis. Artisnya gak dibayar semua, gratisan di alun-alun. Artis lokal itu nggak ada wibawanya. Udah lip sing, eenggakada gregetnya.

Justru itu anda tidak ingin membuat yang greget?
Aku mikirnya begini, sekalipun main di tv tetap saja kere, lha wong gak dibayar. Paling sejuta, tapi tiap hari nongol. Ada yang hanya salam terimakasih thok. Promosi.
Lho promosi kok terus-terusan. Aku malas di tv karena salaman thok itu, malas aku, capek. Terimakasih thok isine..
Ini Jamrud mau launching, vokalis baru, rekam lagu-lagu yang dulu dinyanyikan Kristianto. Lagu baru karena aku nurutin Azis aja. Dia mesti latihan lagi untuk vokal. Tapi masih muda dia, komunikasi di panggung lebih bagus. Kalau dulu Jamrud nyanyi di panggung kayak nyetel kaset, Kristianto itu nggak ada komunikasi, tapi lagunya apik. Kalah sama Boomerang, kualitas kalah sama Jamrud tapi live nya keren, kalau direkam jauh memang.

Jadi bagaimana ceritanya Boomerang bisa balik lagi?
Ya dia merasa sudah umur. Dia merasa karirnya di Sony terbengkalaikan. Dari album itu sudah kelar nggak dirilis. Dari sisi rekam kan mereka juga lemah. Orang nyetel bareng itu kan beda.

Kenapa dulu mereka keluar dari Log?
Nggak tahu, mungkin mereka punya ambisi sendiri. Dikira Sony kan perusahaan multi nasional. Dia mungkin merasa bisa go internsional.

Tak merasa dikhianati balik lagi?
Ya, dia yang terima risiko sendiri. Aku malah tambah kaya. Karena kalau kita bisnis di rekaman nggak ada istilah pasti. Dia dulu besar kan bukan karena kehebatan rekamannya tapi karena besar publisitasnya yang dulu nggak ada dilakukan produser rock, nggak ada yang berani. Bikin klip langsung berapa klip tayang serentak, aku keluar dua milyar untuk dua kaset padahal untungnya itu hanya 4 ribu untuk satu kaset. Aku promosi 2 milyar, kerjaannya hanya syuting. Belum tayang, klip thok sudah 450 juta. Dulu produser lain mana berani.

Sekarang musik rock itu banyak mengalami degradasi, kayaknya bagaimana nasibnya rock Indonesia ?
Sebetulnya masih kuat. Dari dulu market rock memang begitu, enggak ada perubahan. Jadi itu tahun 80-an 70-an rekaman nggak pernah dapat rock. AKA pun sampai rekaman kasidah jawa. God Bless pun waktu rekaman Cermin Rumah, nggak laku itu. Beda sama show.

Tapi waktu Semut Hitam?
Oh lain beda itu. Itu aku promotor pertama kali terjun sebagai produser, pertama kali dibawa tur show ke 35 kota . Kita hebat karena orang lain nggak melakukan. Masuk TVRI seluruh Indonesia sudah tahu. Sekarang masuk satu TV nggak ada yang tahu harus seluruh tv segitu banyaknya. Kan capek meladeni TV, makanya mbah Surip cepat mati kan karena ngeladeni itu. Ngeladeni TV ini minta itu minta salaman tok, promosi tok isinya. Yang kelasku itu malas, penghargaannya nggak ada. Lain itu artis baru ya, mesti toleran.

Terus bagaimana?
Kalau di showbiz tetap jalan, off air kan masih ada. Itu karena kita suka nonton Dahsyat, Inbox itu. Kalau kita diadu off air, kita nggak kalah kok. Aku jualan cd 65.000 masih laku 400 mungkin. Kalau pop-pop yang di televisi-televisi itu jualan lagu bukan untuk show, mereka nggak siap. Kalau penggemarnya kan anak kecil sama pembantu, lha pagi-pagi anak sekolah kok. Penonton itu kan panggilan semua, dibayar ada kordinatornya, kasih kaos dikasi uang 30.000 atau 50.000 disuruh hapalin lagu. Aku sampe bingung, lha wong orang sekolah siapa yang nonton ini? Tapi kita tetap optimislah. Kan orang ada titik jenuh terus perubahan tren. Mungkin orang RBT juga jenuh, mungkin orang bisa lirik lagi. Itu karena lagi musim gitu lho dan hukum nggak support untuk itu. Download nggak ada hukumnya, kita malah produser semangatnya jadi kendor. Sekarang produser yang nggak idealis yang dikejar kan cari duit murni modelnya pake REG nyedot duitnya orang. Lha aku kan orang idealis. Bisnis itu gila-gilaan menyedot pulsa. Maling semua itu, serem aku, membohongi orang. Tulis UNREG kecil dibawah biar nggak kelihatan. Nggak mau disalahin sama Lembaga Konsumen, banyak produsen begitu, aku juga ditawari tapi paling pantang. Apalagi yang ramalan itu, triliunan itu. Kamu tahu jawaban itu disiapkan provider itu 50, aku kan ditawari. Aku bilang cari duit ada caranya.

Jadi darimana pemasukan, rekaman nggak, RBT juga tidak?
Ya kita nyari eksistensi saja. Nggak terlalu mengejar omset. Kita manfaatkan promosi yang tak banyak biaya, tv ada di MTV terus di Facebook juga. Memang frekuensinya nggak seperti dulu.

Kalau Facebook, itu bisa dipakai?
Aku kan punya Presiden of Rock Indonesia, yang komunitas udah hampir 10.000 udah 9600 lebih itu isinya. Aku memang punya plan itu setelah komunitas ini di atas 10.000 aku bentuk jaringan. Jadi aku bentuk dulu marketnya. Padahal aku nggak nyari lho, nggak add orang-orang.

Kenapa nggak berani begitu sekarang?
Yah marketnya kayak begini, kita ke laut. Secara mendasar penjualan kaset drop, dulu bisa jutaan jual kaset. Terus teknologi juga sekarang. Kaset masih ada sekarang paling 30.000. Dulu tiap bulan bisa 20.000. Walaupn jangka panjang, dia bisa dapatlah.

Mungkin itu tak hanya dialami Log tapi juga produser yang lain?
Ya sekarang orang kerjanya cari RBT. Kalau untu RBT dia punya setelan di provider itu setelannya pop begitu kasi rock, pusing dengarnya. Mereka rata-rata mono kan , padahal di kaset sama cd uenak. Ternyata ada setelan sendiri. Mereka patokannya pop. Makanya aku malas ngejar RBT.

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta 30 Agustus 2009

Written by Me

May 11, 2010 at 9:29 am

Posted in Uncategorized

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. log zhelebour memang panutan musik rock ..

    van persie

    June 12, 2010 at 12:56 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: