Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Wawancara Tommy Soeharto

leave a comment »

Putra mantan presiden Soeharto ini bercerita soal apa yang akan dilakukannya jika kelak terpilih sebagai Ketua Umum Golkar, tentang reformasi dan kebebasan pers.

Tidak tampil di panggung politik selama sekitar 20 tahun, Hutomo Mandala Putra mendadak menarik perhatian menyusul pencalonannya sebagai Ketua Umum Golkar 2009-2014.

Banyak yang sinis meski tak sedikit pula yang mendukungnya. Di tubuh Partai Golkar, beberapa petingginya malah terang-terangan menolaknya. Toh Tommy, begitulah lelaki ini biasa dipanggil, tetap nekat dan maju.

Kata dia, Golkar saat ini sudah dipenuhi dengan pragmatisme yang hanya mengedepankan politik uang tapi tidak membumi ke pengurus di daerah.

Akibatnya hubungan pengurus di daerah dengan di pusat hanya terjalin pada saat pemilihan ketua umum, lalu sesudahnya berjalan masing-masing.

Hal itu, yang menurutnya menjadi salah satu sebab kekalahan Golkar dalam dua kali pemilu terakhir dan dia karena itu berniat memperbaikinya.

Kepada Ezra Sihite, Nala Dipa, dan Rusdi Mathari dari Koran Jakarta, lima hari menjelang Lebaran, Tommy menjelaskan banyak hal, mulai dari niatnya yang belum akan mencalonkan diri sebagai presiden, hingga pandangannya terhadap ekonomi bangsa. Berikut petikannya:

Bagaimana ceritanya sehingga Anda ingin mencalonkan sebagai Ketua Umum Partai Golkar?

Selama reformasi kita kehilangan Ligitan, Sipadan dan Timor Timur lalu juga krisis kebangsaan.

Ada juga ada masalah ekonomi, terutama utang luar negeri tetapi kita sebagai rakyat dan bangsa tidak tahu bagaimana menyelesaikan hal tersebut. Bantuan langsung tunai atau BLT memang baik untuk rakyat tapi diambil dari pinjaman luar negeri.

Ya, akhirnya hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu dan dalam konteks itu saya sangat prihatin. Untuk memperbaikinya tidak ada cara lain, harus melalui partai politik.

Kebetulan Golkar akan melakukan pergantian kepengurusan. Selain itu, juga karena keterpurukan Golkar yang berkelanjutan.

Selama Orde Baru, Golkar tidak pernah perolehan suaranya lebih rendah dari 60 persen. Tapi setelah reformasi kurang dari 30 persen, lalu 20 persen dan bahkan yang terakhir hanya 14 persen. Saya khawatir ke depan Golkar akan semakin dibonsai.

Karena itulah saya terpanggil memberikan ide-ide dan pemikiran, untuk memberikan sumbangsih semaksimal mungkin untuk bangsa dan negara melalui Golkar. Karena kalau saya bisa memberikan yang baik bagi bangsa, bagi Golkar juga akan memberi dampak yang baik.

Apakah seluruh keluarga besar mendukung Anda?

Sikap keluarga selelu memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada individu selama almarhum (Soeharto) dan almarhumah (Tien Soeharto) masih ada juga selalu demikian. Kita selalu diberikan keleluasaan menentukan sikap, yang penting terbaik buat keluarga dan bangsa, negara dan agama. Itu pegangannya.

Artinya sudah berbicara dngan Mbak Tutut, Mas Sigit dan lain-lain?
Ya tentu.

Kenapa memilih Golkar padahal Golkar dianggap pernah “berkhianat”?
Kalaupun berkhianat bukan Golkar. Golkar hanya kendaraan.

Mengapa tidak merapat ke partai lain?
Karena saya kira, partai lain bukan tempat yang lebih baik

Jadi bagaimana persiapan pencalonan Anda?
Semua berjalan baik, sesuai dengan rencana tapi memang karena saya adalah yang terakhir yang mencalonkan, saya harus bekerja lebih keras.

Sejauh ini siapa saja yang sudah menyatakan dukungan?
Ada banyak dan itu masih berkembang terus dan kita enggak mengekspos mengenai jumlah.

Apa perhitungan Anda memenangkan kepemimpinan Golkar?
Tentu idealisme dan nurani dari pengurus atau kader-kader Golkar yang ada di DPD I dan II. Itu yang harus betul-betul memanfaatkan Munas (Golkar) ke depan, menyelamatkan dan mengembangkan Golkar.

Untuk menyelamatkan memang harus ada visi, misi dan program yang jelas. Memang ada pragmatisme di situ (Golkar) dan saya sendiri juga menyadari dan akan mengakomodasi dalam bentuk mewujudkan program-program.

Kan banyak beredar soal money politic dan segala macam. Pragmatisme yang Anda maksud seperti apa?
Sudah tahu nanya.

Artinya Anda juga menyiapkan dana?
Ya, dana itu dipakai untuk program Golkar ke depan bukan untuk jual beli suara.

Sejauh apa Anda mengenal orang-orang di DPD I dan DPD II?
Selama ini kita tahu, bahwa kita (Golkar) selalu mengedepankan pragmatisme. Karena kebutuhan ini dan itu akhirnya lebih diutamakan material daripada idealismenya.

Dan mereka sudah merasakan sejak 2004 ketika Munas Bali, ketika mereka (DPD I dan II) ditinggalkan oleh DPP selama lima tahun karena DPP merasa sudah memberikan kewajiban. Akhirnya DPD I dan II jalan sendiri-sendiri, mengurus kegiatannya sendiri.

Harusnya kepengurusan partai ini dilakukan secara kolektif dan berkesinambungan antara pusat dan daerah. Jangan karena hanya memberi materi lalu semuanya selesai.

Salah satu lawan Anda di pencalonan berjanji akan memberikan dana abadi?
Kalau memang benar seperti itu kenapa enggak dilakukan selama ini lima tahun terakhir ketika dia juga terlibat dalam kepengurusan sebagai penasihat? Kenapa baru sekarang dia berjanji setelah maju dalam pencalonan?

Bukan hal mudah mengubah pragmatisme di tubuh Golkar?
Kita berupaya akan meyakinkan mereka. Pilih mana, mau enggak enak sekarang terus lima tahun enggak enak, atau sekarang cukup enak dan sampai lima tahun mendatang juga hasilnya jelas.

Pencalonan Anda akan dihadang soal keaktifan di kepengurusan dan urusan pidana yang pernah menimpa Anda?

Kalau kepengurusan, saya pernah di Dewan Pertimbangan dan itu bagian daripada pendiri Golkar. Terakhir juga saya menjadi pengurus Kekaryaan Ulama periode 1992-1997 dan itu juga akan menambah pemenuhan persyaratan yang ada. Kalau masalah pidana, sudah dijalankan dan sudah selesai. Itu unsur politisnya tinggi sekali jadi dikembalikan kepada publik bagaimana menilai.

Banyak petinggi Golkar yang juga menolak Anda?
Kembali lagi, yang punya suara bukan mereka tapi DPD I dan II. Itu yang harus saya yakinkan untuk berbuat baik bagi bangsa dan untuk Golkar ke depan.

Anda misalnya dianggap tergesa-gesa mencalonkan diri?
Kalau pendapat orang kan boleh-boleh saja. Kalau mau dikritik pasti ada saja salahnya. Biar saja semua akan berjalan, kita lihat nanti buktinya bukan janji. Dari program-program itu akan terlihat bahwa memang bisa diwujudkan.

Lalu siapa saja tim Anda?
Sama-samalah tapi yang utama saya ujung tombaknya. Ada juga antara lain Jenderal Saurip Kadi.

Kalau di kepengurusan Golkar yang sekarang, apa juga ada?
Ada, tapi memang karena lawan saya sudah menggarap begitu lama, mereka juga setengah hati untuk bergabung, takut disalahkan sehingga akhirnya mereka lebih mengamankan kehidupannya karena mereka memang hidup di politik. Sementara kalau saya kan memang pengusaha jadi kalau nanti gagal, saya akan kembali menjadi pengusaha.

Kalau orang “dalam” Golkar masih ragu berarti kemungkinan menang juga tipis dong?
Bagaimana enggak ragu, kan kita masih deklarasi dalam dua minggu ini? Makanya dalam waktu dua minggu ke depan harus makin dimatangkan biar jangan ada keraguan, itu tantangannya.

Anda sudah berkomunikasi dengan kedua kandidat yang lain?
Komunikasi secara langsung ya enggak.

Yang tidak langsung?
Tentu ada, ya sebagai kader-kader Golkar. Andaikan pun saya menang saya harus merangkul mereka juga toh untuk membesarkan Golkar?

Saat bertemu Jusuf Kalla dalam acara berbuka bersama, apa saja yang dibicarakan?
Tidak ada, itu hanya silaturahmi kebetulan ada buka puasa di DPP. Yang mengadakan Perempuan Golkar, di bawah ibu Sarwan Hamid.

Ada pesan khusus dari Pak Kalla?
Enggak, kan yang menentukan itu juga bukan DPP. DPP hanya satu suara.

Bukannya hubungan dengan mantan Ketua Umum bisa memengaruhi suara?
Kata siapa? Mendingan Ketua Umum yang lama ikut lagi biar dia terpilih lagi.

Contohnya Akbar Tandjung yang mendukung Aburizal Bakrie. Itu kan untuk memengaruhi?
Itu bukan hanya untuk memengaruhi tapi juga ada ambisi menjadi ketua penasihat. Tapi kalau yang kemarin (bertemu dengan Jusuf Kalla) itu sebatas silaturahmi.

Adakah hubungannya, pencalonan Anda dengan kekalahan Jusuf Kalla di Pemilu Presiden?
Bukan hanya kekalahan tapi juga keterpurukan Golkar selama reformasi. Ini yang disesalkan padahal ini partai besar. Hanya 2004, Golkar memimpin tapi setelah itu kalah.

Sudah berapa kali bertemu Pak Kalla?
Pertemuan resmi ya pertama. Yang enggak resmi banyak.

Anda pernah bilang belum akan mencalonkan diri jadi presiden lalu apa tujuan pencalonan Anda?
Melalui legislatif. Karena melalui legislatif kita bisa bekerja sama dengan eksekutif memperbaiki bangsa. Contohnya masalah undang-undang. Itu cukup bahkan tidak perlu saya menjadi anggota DPR dengan ketua partai pun saya bisa menentukan ini lebih baik nantinya.

Melihat kultur Golkar yang pada pemilu lalu menempatkan Jusuf Kalla sebagai calon presiden, penjelasan Anda sepertinya kontradiksi?
Saya tidak perlu mencalonkan diri jadi presiden artinya bukan berarti kader Golkar yang lain enggak boleh. Silakan kalau mampu dan punya kredibilitas, kita dukung tapi bukan berarti harus saya yang menjadi presiden.

Dengan menjadi presiden bukannya mempermudah mengaplikasikan program Anda?
Nah di sini nanti kita buktikan, dengan menjabat Ketua Umum Golkar pun saya bisa mewujudkan tanpa harus jadi birokrat atau eksekutif.

Bisa diberikan contoh konkret program Anda?

Misalnya seperti Aceh itu. Sekarang kalau diteliti secara de facto juga bukan lagi bagian daripada NKRI. Karena namanya sudah nagroe dan pimpinannya sudah GAM dan punya partai lokal sendiri dan lebih parah lagi ideologinya bukan Pancasila lagi.

Kenapa semua ini bisa terjadi? Padahal masih dalam bingkai NKRI. Kita juga melihat Papua, apakah itu keberhasilan reformasi? Reformasi kan harusnya dari yang kurang baik jadi lebih baik.

Lalu utang luar negeri juga terus meningkat dan BLT dibayar melalui pinjaman. Sebagai komponen bangsa, apa kita harus berdiam diri menunggu sampai bangsa ini runtuh? Apa harus menunggu revolusi? Enggak perlu.

Dengan program semacam itu, Anda tak khawatir akan dicap sebagai new Orde Baru?

Kenapa mesti khawatir, apa kaitannya dengan Orde Baru? Eggak ada. Karena memang soal Aceh itu masih Indonesia tapi arahnya sudah terlepas dari Indonesia, ini yang mesti dibenahi. Rakyat juga pasti tidak menginginkan ini terjadi.

Dua puluh tahun reformasi apa artinya bagi Anda?
Ini suatu perjalanan bangsa yang memang harus dijalankan dan nyatanya tak lebih baik.

Yang lebih hanya pemilihan presiden dan wakil presiden langsung, apakah ekonomi lebih baik? Sebagai wartawan pun mungkin akan dikekang lagi oleh UU Rahasia Negara, apa itu kebebasan yang diinginkan?

Anda mendukung kebebasan pers?

Ya tapi kebebasan yang bertanggung jawab bukan yang semena-mena. Kebebasan bukan berarti memberitakan yang tidak benar.

Anda pernah menyatakan bahwa proses hukum yang Anda alami karena trial by press?

Bukan pers saja, itu politiknya juga demikian. Intinya Orde Baru benar atau salah harus salah, kan begitu?

Kenapa Anda tidak melawan?

Saya melawan dengan replik duplik dan sebagainya di pengadilan, tapi apakah itu didengar oleh majelis hakim?

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta Edisi 27 September 2009

Written by Me

May 11, 2010 at 9:14 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: