Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Antara Femina dan Fesyen

leave a comment »

Svida Alisjahbana

Banyak terobosan yang dilakukan perempuan ini, termasuk mengubah visi dan misi majalah Femina.
Dia pula yang merintis jasa tukang ojek untuk menyalurkan majalah dari Grup tersebut.

Kalau ada perempuan yang kini menjadi orang nomor satu di bisnis media di Indonesia , salah satunya pastilah Svida Alisjahbana. Dialah CEO baru Grup Femina, salah satu kelompok media yang dimiliki oleh Keluarga Alisjahbana. Dengan jabatan barunya itu, Svida kini mengurusi 15 media cetak dan online, produk lokal maupun media berlisensi.

Itu niscaya bukan pekerjaan mudah. Apalagi kata Svida, masing-masing media di bawah Grup Femina punya segmen sendiri, pembaca dan pasarnya. “Kita harus mengenal pembaca kita siapa dan apa sih yang mereka mau, sehingga mereka selalu menunggu setiap informasi yang akan diterbitkan,” kata Svida.

Svida memang beruntung. Dia mewarisi bisnis media dari keluarganya yang dirintis sejak sekitar 37 tahun lalu. Usaha itu, kata Svida dimulai dari rumah keluarga dan kini berkembang menjadi salah satu grup media berpengaruh di Indonesia . Selain di Grup Femina, Keluarga Alisjahbana juga mengelola media ekonomi, Warta Ekonomi dan bisnis percetakan.

Jangan heran karena itu, kalau Svida sudah akrab dengan dunia bisnis media bahkan sejak masih kanak-kanak. Semula setelah menamatkan kuliah, Svida sempat bekerja di luar non media tapi passion bisnis media keluarganya telah menariknya masuk ke bisnis itu. Maka sejak delapan tahun silam, Svida “bekerja” di Grup Femina dan sejak tiga pekan lalu ditunjuk sebagai CEO.

Tak lalu mewarisi semua bisnis keluarga menjadikan segala sesuatunya mudah bagi Svida. Kata dia, pertumbuhan media sejak reformasi 1998, sangat pesat, termasuk serbuan media-media asing yang terbit di Indonesia melalui lisensi. Semula media asing itu hanya berkisar 100 media tapi sekarang sudah menjadi 200 buah. Karena pertumbuhan cepat itu sementara para pembacanya juga tidak banyak bertambah, persaingan di bisnis media, kemudian juga semakin sengit.

“Dengan menjamurnya media terutama yang berlisensi itu, bagus karena kita akan terus membenahi diri,” kata perempuan berkacamata ini.

Svida akan tetapi tak berhenti melakukan terobosan. Dia misalnya mulai mengembangkan apa yang disebutnya sebagai komunitas pembaca. Kelompok semacam itu penting, karena kata dia, terutama untuk mengukur dan mengetahui kebutuhan para pembaca. Itu sebabnya pemimpin redaksi media di Grup Media, haruslah sosok yang bisa menjadi figur atau role model bagi konsumen.

Selain itu, pemimpin redaksi media di Grup Femina juga haruslah orang yang berpengalaman sesuai dengan segmentasi pembacanya. Contohnya seorang pemimpin redaksi majalah yang segmen pembacanya pasangan muda dan memiliki anak kecil, maka yang pemimpin redaksi medianya adalah orang yang punya pernah muda, punya anak kecil dan sebagainya. Lewat semua itu, komunitas para pembaca yang terbentuk pun akan lebih kuat ikatannya, karena kebutuhan mereka bisa dibaca oleh pemimpin redaksi.

Visi dan misi dari beberapa media di kelompok usahanya juga mulai diubahnya, termasuk di majalah Femina itu sendiri. Svida bercerita pada awalnya, majalah yang didirikan sang ayah tersebut memang hanya untuk perempuan. Belakangan, ada kesadaran, perempuan itu pun tak hanya satu. Kebutuhan yang berusia 20 hingga 50 tahun ke atas misalnya akan berbeda dengan yang di atas 50.

“Femina sekarang dengan yang dulu, berbeda. Dulu segmennya kebanyakan ibu rumah tangga, misalnya agar tampil cantik di rumah dan sebagainya. Sekarang kebanyakan para pembaca Femina adalah wanita yang bekerja, jadi berubah pula visi dan misinya,” kata Svida, yang ketika ditemui di suatu sore pekan lalu, mengenakan blazer biru tua dengan atasan putih. Lehernya dihiasi kalung etnik berwarna hijau.

Terobosan lain yang dilakukan Svida, menyangkut soal distribusi. Dia kini jarang menggunakan mobil boks, untuk menyebarkan produk media Grup Femina. Alasannya lalu-lintas di Jakarta yang terus semakin macet, berpotensi menghalangi distribusi majalah dan sebagainya tiba tepat waktu di tangan pelanggan.

Sebagai gantinya dia menggunakan jasa ojek, yang kini sudah berjumlah 100 tukang ojek. Selain lebih murah, pengiriman majalah melalui ojek juga bisa memperkecil keluhan pelanggan karena majalah langganan mereka datang tepat waktu. Dalam dua hari, kata Svida, satu ojek bisa mengantar 150 sampai 200 eksemplar majalah. Efek sampingnya, cara itu juga membuka lapangan pekerjaan baru bagi para tukang ojek.

Kini kata Svida, kelompok usahanya terus berimprovisasi untuk memperluas segmen pembaca. Tuntutan itu menjadi niscaya, karena di era teknologi yang semakin canggih sekarang, dunia sudah tak lagi punya batas-batas dan informasi bisa didapatkan di mana saja. “Globalisasi dan kecenderungan minat orang itu tak terbendung tapi bagaimana sebuah produk bisa diminati bukan harus oleh semua orang, itu yang harus dilokalisasi,” kata Svida.

Fesyen
Barangkali itu sebabnya, Svida dan Femina juga terlibat dalam perhelatan Festival Mode Indonesia bertajuk Jakarta Fashion Week yang menggandeng otoritas pemerintah DKI Jakarta. Svida sebagai ketua panitia, dan Femina sebagai mitra.

”Melalui ajang itu, kita ingin agar awareness soal fesyen semakin kuat dan itu itu terbukti dengan banyaknya media dalam dan luar yang memberitakan, para perancang yang bisa menemukan tempat memamerkan karya, dan industri hulu yang terbantu karena banyaknya kain tradisional yang digunakan,” katanya.

Menjadi bagian media yang mengusung sebagian besar soal gaya hidup, mode dan perempuan, Svida menyadari dia dan krunya dituntut mengerti soal-soal fesyen. Bukan hanya soal nama perancang ternama, melainkan juga teknik-teknik pembuatan, mulai dari bahan, pola dan sebagainya.

Svida akan tetapi menolak jika ada yang menyebut penampilannya sebagai modis. Dia memilih apa yang dikenakannya dan kemudian dianggap modis oleh orang itu, hanya sebagai busana kontemporer klasik. “Klasiknya mungkin bukan rambut keriting atau baju dengan renda yah tapi baju-baju saya itu bisa tahan bertahun-tahun di lemari dan hampir di setiap musim bisa dipakai,” katanya sambil tertawa. N ezra sihite

Tulisan 2
Jalan Lain Berdekatan dengan Si Kembar
Hanya orang-orang kreatif yang akan sanggup bertahan dalam hidup.

Coretan-coretan gambar itu terlihat ditempel pada dinding-dinding ruang kerja Svida Alisjahbana. Lalu perempuan ini menunjukkan kertas panjang hasil corat-coret kedua putra kembarnya saat berusia lima tahun. “Kata mereka itu gambar ikan, tapi enggak tahu bentuknya apa, biarlah itu sesuai kreativitas mereka,” Svida tertawa.

Salah satu coretan di dinding itu adalah gambar naga dan toko kue. Itu coretan Jojo, salah satu anak kembar Svida. Pesan dari gambar Jojo itu kata Svida, naga tidak diperbolehkan memasuki toko kue. Kata dia, gambar itu mungkin itu berasal dari rasa keki sang anak ketika mendapat larangan, “Contohnya kita bilang anak-anak enggak boleh minum anggur terus enggak boleh bawa apa gitu, dia jadi keki deh dan menyalurkan ke naga itu,” katanya sambil tertawa.

Lalu di dinding yang lain, ada gambar yang kata Svida, itu adalah gambar dirinya yang dibuat Giri, kembaran Jojo.

Semua gambar itu kata Svida memang sengaja di tempel di ruang kerjanya. Sebagai perwujudan rasa untuk selalu berdekatan dengan buah hati. Maklumlah, tak setiap hari Svida bisa menghabiskan waktu bersama putra kembarnya yang kini berusia 11 tahun. Dan menempelkan coreta-coretan anak-anak itu, bisa sedikit membantu Svida untuk selalu berdekatan dengan mereka.

“Biasanya saya optimalkan waktu dari sekitar jam enam hingga jam tujuh pagi untuk ketemu mereka. Kalau hari biasa, bisa tiba di rumah jam tujuh malam saja, sudah berkah banget,” kata dia.

Karena itulah perempuan berambut pendek ini sengaja menyisihkan waktu di akhir pekan hanya khusus untuk kedua buah hatinya. Acara yang paling mereka sukai, memasak bersama. “Biasanya kita ke supermarket dulu beli yang dibutuhkan terus memasak. Bisa masakan Italia, cookies atau cake. Anakku paling suka kegiatan ini,” kata Svida dengan wajah sumringah.

Kelak Svida berharap anak-anaknya menjadi orang yang jujur, pekerja keras dan kreatif. Karena menurutnya hanya orang yang kreatif yang bisa bertahan dalam hidup. Dia memperlihatkan foto Jojo dan Giri yang terpajang di atas meja. N ezrasihite

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta edisi 29 Nopember 2009.

Written by Me

May 12, 2010 at 8:33 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: