Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Cinta dan Sebuah Nama

leave a comment »

Seorang pria kurang normal melawan dunia yang mulai kurang normal.

Kematian Sameer meninggalkan luka menyayat di hati Mandira (Kajol). Bocah semata wayangnya itu tewas sia-sia hanya lantaran prasangka rasial. Penyesalan pun seperti tak berujung bagi Mandira. Dia menyesal mengapa mau menikahi Rizvan Khan ( Shah Rukh Khan ) setelah beberapa tahun menjanda. Gara-gara menyandang nama bapak barunya itu, Sameer menjadi korban kebencian. Kebencian kolektif terhadap sesuatu yang berbau Islam. Nama Khan itulah penyebabnya.

Khan, pria autis yang didiagnosis menderita sindrom Asperger itu ditemui Mandira di sebuah jalan di San Fransisco, saat Khan hampir ditabrak bus lantaran ketakutannya pada warna kuning. Setelah beberapa saat berpacaran, pasangan beda agama ini pun menikah. Mandira Hindu, sedangkan Khan muslim. Kekurangan fisik Khan tak jadi masalah bagi Mandira, tapi keyakinan yang dipeluk suaminya itu yang menimbulkan persoalan.

Sejak tragedi 9 September yang meluluh lantakkan menara kembar WTC di New York , orang barat, amerika khususnya seperti fobia dengan segala hal yang berbau muslim. Nama Khan yang menempel di belakang nama Sameer inilah, yang membuat bocah berusia berusia enam tahun itu meregang nyawa. Perselisihan kecil Sameer dengan Reeves, teman dekatnya yang berkulit putih memancing beberapa remaja yang berbadan lebih besar mendatangi dan menghajar Sameer.Perkelahian itu pun berujung maut.

Suatu malam, di lapangan bola yang sama setelah kematian Sameer, Mandira mengusir Khan. Mandira menyalahkan suaminya itu sehingga putranya menjadi korban. “ Mandira kapan aku bisa kembali?” kata Khan yang tak bisa berbasa-basi lantaran sindrom Asperger yang dia derita. “ Kembalilah ketika kau sudah mengatakan kepada semua orang Amerika bahkan presidennya bahwa kau bernama Khan dan kau bukan teroris,” Mandira berurai air mata. Khan meninggalkannya.

Lantas, mulailah Khan berpetualang membuktikan kebenaran. Dia menggelandang ke San Fransisco , Washington DC , Georgia, hingga Los Angeles. Sejak November 2007 hingga pertengahan 2008, pria autis yang memiliki kemampuan bisa memperbaiki berbagai perkakas itu mencari presiden Amerika Serikat. Tujuannya, sekadar menyatakan bahwa dia bukan seorang teroris. Dalam perjalanan ini, Khan menemukan pengalaman baru. Dia bertemu dengan Mama Jenny dan putranya di sebuah perkampungan kulit berwarna di Georgia dan mendoakan orang-orang yang menjadi korban perang antara Barat-Timur di sebuah gereja. Dia juga tak sengaja bertemu Rahman, seorang dokter warga keturunan yang menyebarkan provokasi permusuhan terhadap Barat di sebuah Masjid di Los Angeles dan sempat berargumen soal tafsir Ibrahim yang mengorbankan putranya.

Tak hanya itu, Khan kemudian melaporkan Rahman ke FBI.
Pengalaman paling seru tatkala Khan ditangkap karena dituduh teroris dalam sebuah kerumunan ketika rombongan presiden berada di Los Angeles. Dia diinterogasi hanya lantaran wajah Timur Tengah-nya. Terlebih tingkah lakunya sebagai pengidap autis sangat mencurigakan. Beruntung dua orang mahasiswa jurnalistik asal India secara tak sengaja merekam teriakannya dalam kerumunan. Keduanya mencari cerita di balik teriakan Khan yang kemudian membuktikan bahwa pria tersebut sama sekali tak berbahaya. “ My name is Khan and I’m not a terrorist.” Khan meneriakkannya berkali-kali di rekaman itu.

Holly-Bolly
My Name is Khan merupakan film kerjasama produksi Hollywood dan perfilman India, Bollywood. Kerjasama Holly-Bolly ini cukup berhasil. Setidaknya, dalam pekan pertama penayangannya di Amerika, film ini mampu meraup 1,86 juta dollar AS. Bahkan di Timur Tengah, hanya pada hari pembukaan saja bisa memperoleh 300.000 dollar AS. Di Inggris, mencapai 123.000 pound dan posisinya kini bertengger di posisi lima deretan box office setelah pemutaran perdana.

Nama Shahrukh Khan dan Kajol, sepertinya jadi kekuatan film ini. Setelah menjadi pasangan yang menonjol dalam film Kuch Kuch Hota Hai yang mencuri perhatian para sinefil Asia tahun 1998, sutradara Karan Johar kembali menduetkan mereka. Menurut Johar, Shahrukh Khan dan Kajol memang seperti berjodoh dalam film, sehingga mereka bisa saling melengkapi dalam peran, dan para penonton pun ibarat merasakan chemistry di antara keduanya.

Johar sedikitnya sudah menyutradarai empat film. Selain itu, dia juga terjun sebagai aktor dan produser dalam beberapa sinema Bollywood. Johar juga menjadi host tayangan Koffee with Karan, talkshow yang ditayangkan di sebuah televisi kabel dan sempat ditayangkan salah satu stasiun televisi di Indonesia. Lewat film Kuch Kuch Hota Hai-nya, dia berhasil dinobatkan menjadi sutradara terbaik dalam ajang penghargaan Filmfare dan Star Screen.

Dengan durasi 161 menit, di film terbarunya ini Johar mempunyai cukup waktu untuk menyatukan pilihan alur dalam cerita. Konflik-konflik kecil mulai bermunculan menjelang kematian Sameer. Ketegangan pun berlanjut saat Khan harus menemui sang presiden, menjadi tahanan menolong korban Hurricane di Georgia, hingga ditusuk seorang pengagum dokter Rahman yang pernah dilaporkannya ke FBI.

Tak hanya menyajikan kisah serius, aksi Khan sebagai seorang autis dan kisah cintanya dengan Mandira yang periang pun memberi bumbu pelengkap yang pas. Penonton sesekali mau tak mau tertawa menonton kekonyolan mereka meski harus menyadari bahwa kata dan laku Khan yang tak berbasa-basi menunjukkan ketulusan dan cintanya pada Mandira. Juga pada setiap orang yang ditemuinya, seperti yang diajarkan ibunya ketika mereka tinggal di perkampungan Borivali, Mumbai, India.

Meski menyoal terorisme, baik Karan maupun Shahrukh Khan tak menganggap film My Name is Khan sebagai film tentang tragedi 11 September atau tentang teroris. “ Film ini tentang hubungan dunia Barat dan Islam yang berubah selama beberapa tahun ini karena tragedi 11 September, singkatnya ini film tentang cinta, islam, dan ditampilkan dengan kisah seorang autis,” kata Khan.
Ya, film ini bukan hanya tentang seorang pria kurang normal harus berjuang berhadapan dengan orang yang normal, tapi soal pria kurang normal melawan sebuah dunia yang sudah tak normal dan kehilangan cinta kasih terhadap sesama.
-Ezra Sihite-

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta edisi 21 Februari 2010

Written by Me

May 12, 2010 at 9:04 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: