Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Petualangan Menelusuri Masa Lalu

leave a comment »

Daniels berkesimpulan para dokter itu belajar dari Nazi.

Ashecliff e Mental Hospital. Dari namanya, memang menunjukkan ini adalah rumah sakit jiwa. Namun, pasien yang dirawat di sini bukan pasien sembarangan. Mereka adalah para bromocorah kelas kakap yang mengalami gangguan jiwa. “Dosa” mereka macammacam, tapi sebagian besar umumnya pembunuh. Suatu hari datanglah Teddy Daniels (Leonardo Di Caprio).

Dia merasa begitu tertantang menyelesaikan kasus di rumah sakit yang letaknya di pulau terpencil ini. Bersama rekannya, Chuck Aule (Mark Ruff alo), Daniels mencoba memecahkan kasus hilangnya Rachel Solando (Emily Mortimer), salah satu pasien yang divonis lantaran membunuh ketiga anaknya. Tugas ini ternyata tak mudah. Apalagi para sipir dan kepala rumah sakit, Dr Cawley (Ben Kingsley) tak kooperatif. Cawley bahkan terkesan melindungi Sheehan, seorang dokter utama yang diberikan izin berlibur saat Solando hilang.

Selain itu, dia juga membatasi tugas Daniels sebagai agen federal. Daniels hanya diperbolehkan mengunjungi beberapa bangsal serta dilarang memasuki sebuah menara suar. Inilah yang membuat Daniels curiga. Tapi sayangnya, agen federal yang temperamental dan cenderung mengalami ketidakstabilan emosi tersebut, malah putus asa dan kemudian ingin segera meninggalkan pulau. Namun mimpi dan bayang-bayang almarhumah istrinya, membuat dia bertahan.

Ditambah lagi di pulau sedang dilanda badai dan tak ada kapal ferry yang datang menjemput. Dalam penyelidikan, bukannya makin menambah bukti dan jejak hilangnya Solando, Daniels justru menemukan hipotesa lain bahwa Ashecliff e, adalah sebuah rumah sakit yang sengaja menjadi tempat bedah otak para narapidana. Dengan begitu mereka bisa dikontrol oleh para ilmuwan dan dokter di dalamnya.

Daniels berkesimpulan, para dokter itu belajar dari Nazi dan sudah begitu banyak orang yang mereka jadikan korban eksperimen. Mereka bisa membuat yang waras seakan-akan gila dan mengontrol orang lain melalui pembedahan otak. Itu semua dilakukan di menara suar.

Sialnya, Daniels makin hari malah merasa tidak sehat dengan rasa sakit yang sering bagai menghantam kepalanya. Dia kerap berhalusinasi bahwa sang pembunuh istrinya berada di bangsal C, bangsal yang diperuntukkan bagi penjahat gila yang sangat berbahaya. Singkat cerita, suatu hari, Solando akhirnya ditemukan. Tapi Daniels belum puas. Dalam perjalanan ke menara suar, Chuck bahkan dilihatnya terjatuh ke bawah tebing laut yang curam dan saat menuruni tebing, ternyata tubuhnya hilang.

Alih-alih menyelamatkan rekannya itu, Daniels malah bertemu seorang p e r empuan yang mengaku sebagai Solando yang sebenarnya di sebuah gua. Esoknya, dia memutuskan pergi ke menara suar. Di sana dokter Cawley duduk tenang, dan siap menjelaskan semuanya kepada Daniels.

Chuck, rekannya itu muncul pula dari balik pintu tanpa terluka sedikit pun. Dia mengenakan setelan lengkap, rapi, tersenyum dan mengaku sebagai Sheehan, dokter yang selama dua tahun merawat Daniels dari delusi mental yang dia idap setelah kematian istrinya (Michelle Wiliiams) dan ketiga anaknya yang ditenggelamkan sang istri di danau belakang rumah mereka.

Daniels bukanlah agen federal, dia mantan prajurit saat perang dengan Nazi yang dianggap cerdas oleh karena itu berbahaya. Permainan sebagai agen federal itu merupakan skenario Cawley, agar Daniels mengingat siapa dirinya, anak-anaknya, dan perbuatannya yang telah menembak mati istrinya.

Itu sebagai skenario proses pemulih an dirinya, ekstrim tapi mau tak mau mesti di coba. Sesaat Daniels tersadar, namun matanya berkunangkunang dan semuanya menj adi gelap. Dia terbangun dan mampu menga kui nama sebenarnya, dan kesalahan serta kekerasan yang dia lakukan di masa lalu yang membuat sang dokter merasa lega. Tapi itu tak bertahan, Da niels kembali menyebut diri sebagai agen federal dan Chuck sebagai rekannya. Leonardo Di Caprio Itulah intisari fi lm Shutter Island garapan Martin Scorsese.

Intinya, manusia memang kerap berdelusi terutama untuk apa saja yang mereka inginkan. Khayal juga hadir saat ingin menghindar dari kenangan pahit yang traumatis yang kehadirannya menyakitkan bagi si subyek. Dengan delusi itu, manusia merasa nyaman dan tak mau keluar dari dalamnya. Pada dasarnya itu semua akibat ketakutan dari kesalahan masa lalu. Seperti Daniels, yang pada satu titik sadar siapa dirinya namun kembali dalam dunia khayal, ketika kenyataan terasa begitu berat. Scorsese, sutradara berdarah Italia-Amerika ini karya-karyanya cukup diakui di Hollywood bahkan di dunia.

Dia juga pendiri World Cinema Foundation, sebuah yayasan yang peduli pada perkembangan dunia fi lm. Sederet penghargaan pernah diraihnya, seperti Oscar, Golden Globe, BAFTA, dan Directors Guild of America. Lalu kini Scorsese mencoba mengangkat Shutter Island, sebuah cerita yang diangkat dari novel karya Dennis Lehane yang terbit tujuh tahun silam, dengan judul yang sama.

Bukan sekali ini Scorsese berkolaborasi dengan Di Caprio. Sebelumnya mereka pernah bekerjasama di fi lm Gangs of New York (2002), Th e Aviator (2004) dan Th e Departed (2006). Bahkan, melalui Th e Aviator, Di Caprio dinobatkan sebagai aktor terbaik di Golden Globe. Dalam fi lm Shutter Island, Di Caprio muncul dengan karakter impulsif dan emosional.

Tampak dari gerak tubuh, ketidaknyamanan mimik, wajah kecemasan yang membuatnya selalu berkeringat. Meski bergenre psikologis thriller, Di Caprio sepertinya tak mengalami kesulitan dengan perannya. Di Blood Diamond (2006), Th e Departed (2006) dan Body of Lies (2007), aktor ini pun memerakan peran-peran keras. Tak hanya jago dalam drama seperti latar belakang serial televisi pada awal kariernya, dia juga makin menancapkan namanya sebagai aktor yang siap berperan apa saja, mulai dari seorang pria romantis, homoseksual, tentara, penjahat, hingga pesakitan.

Di Caprio juga akan mengambil peran dalam Th e Inception, sebuah fi lm fi ksi ilmiah karya sutradara Christopher Nolan yang akan diproduksi tahun ini. Shutter Island dirilis 19 Februari lalu. Namun penayangan perdananya telah dilakukan sepekan sebelumnya di Festival Film Berlin yang ke-60. Film ini mendapat ulasan yang cukup positif dari para kritikus fi lm, meskipun tidak bisa dikatakan mampu mengimbangi karya film Scorsese dan Di Caprio lainnya.

Sekitar 66 persen di situs film Rotten Tomatoes menyambut fi lm ini positif. Begitu pun di Metacritic, Shutter Island mendapat 61 respons pujian dari 100 tanggapan dan ulasan. Pekan ini, fi lm tersebut berada di tiga teratas Box Offi ce Amerika. Dengan ongkos produksi sebesar 80 juta dollar AS, fi lm ini sudah meraup lebih dari 40 juta dollar AS walau meski baru sepekan tayang. _ ezra sihite-

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta edisi 28 Februari 2010

Written by Me

May 12, 2010 at 9:08 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: