Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Tentang Film dan Budaya Bajo

leave a comment »

Sutradara yang satu ini baru berusia 23 tahun.
Menurutnya, Indonesia memiliki banyak hal yang eksotis yang belum terangkat, dan bisa disampaikan kepada publik lewat film. Salah satunya soal laut.

Kamila Andini jatuh cinta pada orang Bajo. Maka sudah dua bulan belakangan dia bolak-balik, mondar-mandir ke Kepulauan Wakatobi, di Sulawesi Utara, menyambangi orang-orang suku pelaut itu, untuk membuat film layar lebar. “Waktu datang kali pertama ke Wakatobi, aku merasa mereka (orang-orang Bajo) miskin tapi dua-tiga hari setelah itu, justru aku merasa paling kaya, bisa makan enak tanpa harus bayar,” kata Dini.

Di Wakatobi, Dini –begitu panggilan perempuan ini biasa dipanggil— memang tinggal bersama suku Bajo, di rumah-rumah panggung yang didirikan di tepi laut itu. Di tempat seperti itulah, dia mengaku bisa makan dan menikmati aneka hasil laut, apa saja, yang menurut orang “darat” mahal. Mereka kata Dini, tak perlu repot mengeluarkan uang, karena bisa menangkap ikan dan hasil laut lainnya, lalu tinggal dimasak. “Untuk makan setiap hari, masyarakat Bajo tidak perlu dicemaskan,” kata Dini.

Dini bercerita, ketertarikannya membuat film tentang orang-orang Bajo berawal dari sebuah film Thailand . Dia lupa judulnya, tapi film Thailand itu mengangkat soal kehidupan para petani beras dan kemudian banyak dibahas para kritikus film. Dari sanalah dia lalu berpikir: mengapa Indonesia yang dikaruniai banyak kekayaan alam dan budaya, tidak membuat film-film semacam itu, film yang mencerminkan ciri khas sebuah negeri.

“ Indonesia ini sering disebut sebagai tanah air, tapi yang selama ini sering ditonjolkan dalam sinema hanya budaya tanah. Lalu di mana airnya? Padahal nenek moyang bangsa ini sebagian besar pelaut dibanding petani,” kata dara berusia 23 tahun ini.

Dari sanalah dia punya gagasan untuk membuat film tentang orang-orang Bajo, suku bangsa pelaut itu, meski itu bermula dari ketidaksengajaan. Ceritanya dua tahun lalu, Dini berkunjung ke Wakatobi. Tak hanya memuaskan diri lewat menyelam, di kepulauan yang termasuk dalam kawasan segitiga terumbu karang dunia itu, Dini mendapat ide membuat film tentang masyarakat berbudaya laut dan nelayan. Kebetulan di Wakatobi, memang terdapat beberapa perkampungan suku Bajo, suku bangsa yang menyebar di beberapa pulau kecil di Nusantara dan beberapa negara dan menggunakan bahasa yang sama.

Desember silam, pengambilan gambar untuk film pertamanya itu sudah dimulai. Judulnya The Mirror Never Lies, dan diharapkan bisa diputar di gedung-gedung bioskop, mulai Agustus tahun depan. Di film itu, Dini tak hanya menjadikan keindahan alam laut Waktobi dan komunitas Bajo sebagai latar belakang, melainkan juga mengangkat soal pencarian jati diri dan konflik sosial.

Inspirasi Hidup
Salah satunya, adalah tradisi iko-iko suku Bajo, tradisi bertutur atau mendongeng dari orang tua kepada anak-anaknya. Biasanya dilakukan di malam hari menjelang tidur, di tengah laut. Di filmnya itu, Dini mengangkat kisah seorang anak perempuan yang tak bisa lagi mendengarkan iko-iko karena ditinggal melaut oleh ayahnya, dan tak kembali.

Ketiadaan iko-iko itulah, yang terus membuat anak perempuan itu berharap ayahnya pulang agar bisa membuatnya cepat tidur, seperti dulu. Dini menuturkan, soal pria yang tak kembali, apakah itu karena hilang, tak pulang dan sebagainya bukan masalah aneh di Bajo. Hal-hal semacam itu sudah dianggap normal, di sana . “Sebenarnya banyak hal yang ingin disampaikan, tapi mau tak mau harus memilih pesan yang paling ingin disampaikan,” kata Dini.

Lalu kata dia, masyarakat Bajo telah menginspirasi hidupnya. Inspirasi itu, antara lain soal kedekatan dengan alam dan ketiadaan kecemasan terhadap alam itu. Bandingkan misalnya dengan orang-orang di Jakarta , yang mulai khawatir dengan gempa, bencana banjir dan sebagainya. “Bayangkan mereka (suku Bajo) tinggal di laut dan dekat dengan potensi tsunami,” kata Dini.

Yang paling mengesankan bagi Dini, orang-orang Bajo menjadikan laut sebagai pribadi dan sangat spiritual. Saat mewawancarai orang-orang Bajo untuk keperluan filmnya, misalnya, mereka, kata Dini, sering menyebut hujan, laut, badai dengan kata ganti orang. Bagi mereka, alam dipelihara maka alam pun akan memelihara.

Dini menjelaskan pengalaman seorang juru kameranya, yang bercerita soal ketajaman naluri orang-orang Bajo. Sekitar tujuh tahun lalu, si juru kamera itu menginap dan tinggal di rumah orang-orang Bajo. Lalu pada suatu malam, orang-orang Bajo di kampung itu ramai-ramai pindah ke balik pulau. Semula di juru kamera tak paham apa yang terjadi, tapi setelah semua pindah, di kampung itu terjadi badai besar.

Dini tak peduli, apakah film yang menggandeng Pemerintah Kabupaten Wakatobi ini kelak akan laku atau tidak. Baginya yang paling penting adalah pesan dari filmnya bisa tersampaikan. ”Ekspektasi masing-masing orang untuk film ini tidak sama, itu yang masih harus dicari. Dan aku mencoba membuat sebaik mungkin, ini tantangan” kata Dini yang berharap filmnya bisa masuk ikut festival.

Senin sore pekan lalu, Dini yang mengenakan busana kasual, jins hitam, knitwear vest warna cokelat dengan blouse tanpa lengan, mengungkapkan, dunia penyutradaraan bukan hal yang sama sekali baru dan tiba-tiba baginya. Dia mengaku, sebelumnya sudah beberapa kali ikut membidani beberapa film pendek, dokumenter, beberapa film televisi dan videoklip grup musik Slank.

Benar, usia Dini memang masih muda. Namun lingkungan dan pendidikannya membuat dia paham dunia penyutradaraan. Pendidikannya tentang media dan seni, dan Garin Nugroho ayahnya adalah sutradara yang punya nama. Di kampusnya, di Melbourne Australia , Dini juga bergabung dengan teater kampus. “Jika ingin membuat film, banyak pancaindra harus merasakan banyak hal, sering melihat, mendengar dan merasakan. Itu modalnya,” kata Dini.

Menurutnya, memang tak mudah membuat film yang benar-benar natural dan jujur. Dini mencontohkan film-film Iran yang menurut penilaiannya, jujur, konflik mengalir, sederhana tapi menjadi kekuatan film negeri Persia itu dalam festival-festival bergengsi internasional. Karena itu, kata dia, untuk bisa membuat film yang jujur, masyarakat harus bisa melihat persoalan dengan apa adanya.

“Contohnya kalau lihat anak jalanan kita pasti langsung kata kasihan, padahal ketika kita melihat itu sebagai realitas maka justru bisa mengangkat hal-hal di dalamnya dengan tidak dibuat-buat,” kata Dini.

Selain soal film, suatu hari kelak, dia berharap bisa menggandeng koreografer untuk mengonsep sebuah pertunjukan panggung. Dini juga berharap bisa semakin baik dalam menulis sehingga bisa berkontribusi di media, seperti koran dan majalah.-ezrashite-

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta edisi 3 Januari 2010


Written by Me

May 12, 2010 at 8:19 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: