Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Liu Xiaobo, pada awalnya pembantaian di Tiananmen

leave a comment »

Penghargaan Nobel Perdamaian 2010 untuk aktivis Cina, Liu Xiaobo, mengingatkan kembali bahwa kita tak bisa lagi sembunyi. Pemerintah Cina boleh marah, dan memprotes, tapi dunia akan menilainya.


Pemerintah Cina sontak bereaksi begitu mengetahui Liu Xiaobo dinominasikan menerima Penghargaan Nobel Perdamaian tahun ini. Juru bicara Departemen Luar Negeri Cina menggertak pemerintah Norwegia dalam surat yang dikirimkan ke Komite Penghargaan Nobel Perdamaian.

saveluxiaobo.wordpress.com

“Kalau panitia jadi memberikan penghargaan Nobel Perdamaian kepada Liu Xiaobo, ini menyimpang dari prinsip Nobel Perdamaian itu sendiri, sebab Liu seorang kriminal dan melakukan pelanggaran Undang-Undang,” kata Mao Zhaoxu, juru bicara itu.
Tapi Jumat 8 Oktober dari Norwegia datang pengumuman, panitia memutuskan bahwa penerima Penghargaan Nobel Perdamaian 2010 adalah Liu Xiabo dari Cina, “yang konsisten memperjuangkan tanpa kekerasan penegakan hak asasi manusia”. Ia menyisihkan lebih dari 200 calon.

Pemerintah Cina pantas panik dan marah. Penghargaan Nobel Perdamaian bukan hanya menampilkan penerimanya untuk mendapat aplaus dari dunia. Juga, memunculkan “musuh” dari sang penerima penghargaan untuk mendapat kecaman dunia.
Itu karena reputasi anggota komite dan penerima penghargaan itu sendiri yang terjaga selama ini, dan Komite Nobel Norwegia yang independen. Mereka berhasil mendefinisikan “perdamaian”, yang selalu disunting tiap tahun, hingga dianggap selalu relevan untuk “perdamaian di segala bidang”.
Lalu, pilihan juri, kata sebuah penilaian, merupakan gabungan antara idealisme dan realisme, gabungan yang muskil.
Singkat kata, Penghargaan Nobel Perdamaian yang pertama kali diberikan pada 1901 ini dianggap sebagai “Penghargaan dunia paling bergengsi bagi para ‘penjaga’ perdamaian,” kata The Oxford Dictionary of Twentieth Century World History.
Tentu, tak dengan sendirinya perdamaian turun ke Bumi begitu seorang penggiat perdamaian diberi penghargaan. Tak dengan sendirinya setelah 10 Desember 2010, ketika penghargaan disampaikan kepada Liu Xiaobo atau yang mewakili, lalu penegakan hak asasi manusia di Cina membaik.
Pada 1994, Yasser Arafat, Shimon Peres, dan Yitzhak Rabin mendapat penghargaan ini. Hingga kini konflik bersenjata, bunuh-membunuh di Tanah Palestina masih saja berlangsung.
Istri Liu dikenai tahanan rumah

Besar kemungkinan, Liu Xiaobo tak bisa hadir dalam upacara di Oslo, 10 Desember nanti, dalam upacara pemberian penghargaan ini. Kalau toh pemerintah Cina mengizinkannya, mungkin Beijing akan bersikap seperti Moskow pada 1958, ketika Boris Pasternak memenangi Penghargaan Nobel Sastra.
Perdana Menteri Khrushchov membolehkan pengarang novel Zhivago ini menerima penghargaan tersebut asal ia tak kembali ke Uni Soviet.Pasternak, semula memang gembira dan menyambut penghargaan tersebut, seperti dinyatakannya dalam surat pertamanya ke panitia Penghargaan Nobel Sastra.
Namun, setelah mendengar reaksi pemerintah Uni Soviet, empat hari kemudian ia menulis surat kedua. Ia menolak dengan sukarela penghargaan itu, karena mempertimbangkan makna penghargaan itu bagi masyarakat tempat ia menjadi bagiannya.
Atas pernyataan Khrushchov, ia menjawab: “Meninggalkan ibu pertiwi bagi saya sama dengan mati. Rusia adalah tanah tempat aku dilahirkan, tempat aku bernapas, dan bekerja.”
Akan halnya Liu Xiaobo, dipenjarakan di Kota Jinzhou, Provinsi Liaoning, 500 kilometer dari Beijing, dikunjungi istrinya pada Jumat 8 Oktober lalu. Ia tentu kini sudah tahu tentang penghargaan Nobel Perdamaian itu.
Akan halnya istrinya, sepulang dari kunjungan, menyatakan bahwa hadiah Nobel Perdamaian akan digunakan menyantuni korban pembantaian di Tiananmen 1989. Langsung, hari itu juga Liu Xia, sang istri, dikenai tahanan rumah.
Ketakutan pemerintah Cina terhadap Liu berlebihan, seperti umumnya pemerintah otoriter di mana pun. Charter 08 yang dilansir pada 9 Desember 2008 hanya ditandatangani oleh 303 penggiat hak asasi manusia, demokrasi, dan para intelektual Cina di negeri lebih dari 1,3 miliar penduduk ini.
Dalam hal ini, pemerintah Indonesia lebih bijaksana daripada pemerintah Cina. Pada 1996 Penghargaan Nobel Perdamaian diterimakan kepada Uskup Carlos Belo dan Ramos Horta, pejuang kemerdekaan Timor Timur. Biar waktu itu pemerintah Indonesia merasa bahwa penguasaan terhadap pulau itu adalah benar, Jakarta tak bereaksi berlebihan.
Oposisi Partai Komunis

Liu ditahan pada 8 Desember, sehari sebelum Charter 08 disebarluaskan. Ia disidangkan pada 23 Desember dan dua hari kemudian divonis 11 tahun penjara karena “memprovokasi masyarakat untuk mensubversi pemerintah”, ditambah dua tahun karena “menyalahgunakan hak berpolitik”.
Semenjak Liu dijebloskan ke bui, berbagai respons muncul mengecam tindakan pemerintah Cina. Mulai dari aktivis, politisi, penulis dan pekerja internasional dari seluruh dunia meminta pemerintah Cina membebaskan Liu dan tahanan politik yang lain.
Yang pertama, sebulan setelah ia dipenjarakan, sekitar 300 penulis bereputasi internasional seperti Salman Rushdie, Margaret Atwood, Ha Jin, dan Jung Chang membuat petisi agar pemerintah membebaskan Liu.
Ketua Hak Asasi Manusia PBB, Navanethem Pilay, mantan hakim tinggi Afrika Selatan, menyatakan bahwa pemenjaraan  Liu merupakan kemunduran hak berpolitik di Cina.
Dari Eropa muncul suara Vaclav Havel, mantan presiden Cekoslovakia. Kata Havel, Liu yang konsisten “menyuarakan perlawanan terhadap pemerintah Cina, dan menolak kepentingan ekonomi di atas hak asasi manusia,” sangat layak didukung.
Adalah Vaclav Havel yang mendaftarkan nama Liu menjadi calon penerima Penghargaan Nobel Perdamaian. Havel, seorang seniman-budayawan, pada Januari 1977, jauh sebelum pemerintahan komunis jatuh di Eropa Timur, menyusun manifesto yang dinamakannya Charter 77.
Manifesto itu mengkritik pemerintah Cekoslovakia sebagai gagal menegakkan hak asasi manusia. Havel dan sejumlah aktivis dijebloskan ke penjara sebagai “pengkhianat negara”, “pengkhianat sosialis”.
Kelak, di akhir 1980-an pemerintahan komunis ambruk di Eropa Timur, Cekoslovakia terpecah menjadi Ceko dan Slovakia. Havel dan kawan-kawan berperan menyusun pemerintahan Ceko yang dianggap demokratis, dan ia terpilih sebagai presiden pertamanya.
Charter 77 itulah yang mengilhami Liu Xiaobo. Dan sebagaimana Havel yang lebih berjuang dengan konsep daripada turun ke jalan, begitulah Liu.
Dari penjara Liu mengungkapkan pleidoinya, dengan judul “Kriminalisasi bagi yang Ingin Berbicara”. Ia mengakui beroposisi terhadap Partai Komunis, namun dia tak melakukan subversi.
“Reformasi politik di Cina seharusnya bertahap, damai, teratur, dan interaktif dari pemimpin ke bawahan dan sebaliknya. Reformasi seperti ini akan membawa hasil efektif.
“Saya mengerti prinsip-prinsip dasar perubahan politik. Jika perubahan dilakukan dengan teratur dan terkontrol akan lebih baik dibandingkan dengan kerusuhan. Situasi tenang oleh pemerintahan yang buruk masih lebih baik daripada kekacauan yang anarkis.
“Karena itulah saya menolak kediktatoran dan monopoli. Yang saya lakukan bukan subversif terhadap negara, sebab beroposisi itu bukan berarti melakukan subversi,” tulisnya.
Terlibat demonstrasi Tiananmen

Memang, Liu Xiaobo memperjuangkan demokrasi dan penegakan hak asasi manusia di Cina dengan damai. Bertahun-tahun ia berseberangan dengan pemerintah Cina, tak pernah sekalipun melakukan dan memprovokasi tindakan anarkis.
Liu lahir di Kota Changchu pada 1955, dalam keluarga intelektual. Sejak usia 19 tahun, pria ini sudah hidup mandiri dengan bekerja di sebuah perusahaan konstruksi, dan kuliah di Universitas Jilin. Ia melanjutkan pendidikan di Universitas Normal Beijing hingga memperoleh doktor pada 1988
Prestasi akademiknya membawanya menjadi dosen tamu di sejumlah universitas di AS pada 1988-1989. Ketika mahasiswa mulai melakukan demonstrasi menuntut reformasi lebih jauh, reformasi politik, sejak April 1989 setelah Deng Xiaoping melakukan reformasi ekonomi sejak 1978, Liu berniat pulang ke Cina.
Ia berada di Beijing ketika demo mahasiswa makin marak. Konsekuen dengan prinsip perjuangannya yang antikekerasan, Liu Xiabo membujuk mahasiswa agar tak turun ke jalan.
Tapi gerakan tak bisa dihentikan dan sejak awal Juni 1989 ribuan mahasiswa berkemah di Lapangan Tiananmen menuntut perubahan politik dan mengkritik monopoli kekuassan oleh Partai Komunis.
Liu mendukung tuntutan mahasiswa. Namun bersama tiga rekannya, ia membujuk agar mereka beranjak dari Tiananmen. Keempat mereka ini kemudian dikenal sebagai “Empat Ksatria dari Lapangan Tiananmen.”
Pada 4 Juni dinihari Tentara Pembebasan Rakyat membubarkan mahasiswa dengan tank dan panser serta peluru timah. Hingga kini tak jelas berapa korban kekerasan militer Cina ini.
Sejak itu Liu masuk daftar hitam pemerintah Cina. Hingga manifesto Charter 08, sudah empat kali ia masuk penjara. Pertama kali, setelah peristiwa Tiananmen itu. Soalnya, bukannya jera karena penjara, Liu justru makin gencar mengkritik pemerintah Cina yang mengorbankan hak asasi manusia demi perekonomian.
Bebas dari penjara karena Tiananmen, Juni 1991, tahun itu pula ia kembali diadili karena dituduh “menyebarluaskan semangat anti-revolusi” lewat tulisan-tulisannya. Kali ini ia tak terbukti melanggar undang-undang, dan bebas.
Ia kembali masuk penjara pada Mei 1995 dengan tuduhan terlibat gerakan demokrasi dan penegakan hak asasi manusia. Karena perilakunya, Liu mendapat remisi, hanya menjalani hukuman enam bulan yang seharusnya setahun.
Lalu pada Oktober 1996, dengan tuduhan “melanggar tatatertib publik”, Liu dihukum menjalani pendidikan ulang di kamp kerja paksa selama tiga tahun. Yang dilakukan Liu waktu itu adalah, dalam sebuah tulisannya ia mengkritik Partai Komunis.
Di bulan-bulan pertama Liu menjalani hukumannya yang ketiga kalinya ini, ia menikahi seorang perempuan bernama Liu Xia, istrinya sampai sekarang.
Pada Mei 1999 Liu bebas dari kamp pendidikan. Sebuah gardu jaga dibangun di dekat tempat ia tinggal. Telepon dan hubungan internetnya disadap.
Karena penyadapan itulah hampir semua aktivitasnya diketahui. Pada 2004 komputer, dokumen, dan surat-surat Liu disita. Ia waktu itu sedang menyiapkan laporan tentang hak asasi manusia di Cina.
Pesanan anggur dan kue-kue di hampir tiap ulang tahun Liu Xia, istrinya, oleh polisi penjaga gardu selalu disita. Liu Xiaobo selalu memprotes tindakan berlebihan ini, dan selalu mendapat jawaban sama: “Ini untuk kepentingan anda sendiri, sekarang banyak bom meledak di mana-mana.”
Pada Januari 2005, ia dikenai tahanan rumah selama dua minggu. Tak jelas alasan penahanan ini. Yang jelas, kala itu Zhao Ziyang meninggal. Mungkin pemerintah Cina khawatir, Liu menyusun gerakan menghormati mantan perdana menteri yang bersimpati pada gerakan mahasiswa di Tiananmen dulu itu.
Penjagaan itu mulai agak longgar pada 2007 lalu, menjelang Cina menjadi tuan rumah Olimpiade 2008.
Pelonggaran inilah rupanya memberi Liu peluang untuk menyusun Charter 08 itu. Dan dijebloskanlah ia ke penjara.
Ini sebuah dilema serius bagi Cina, ketika kemajuan perekonomiannya dipuji seluruh dunia. Yang jelas, Liu Xiaobo dan kawan-kawan seperjuangannya kini tak sendirian. Ia juga menjadi pelajaran bagi seluruh pejuang demokrasi dan penegakan hak asasi manusia di mana saja, juga di Indonesia.
Writer : Ezra Sihite     Editor : Bambang Bujono
Dikutip sepenuhnya dari http://www.beritasatu.com edisi 11 Oktober 2010

Written by Me

November 29, 2010 at 1:50 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: