Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

Perang Calderon I : Menggempur Kartel Obat Bius

leave a comment »

“Saya bukan presiden yang ingin melihat orang-orang Mexico meninggalkan negaranya gentayangan mencari kerja di negara orang.”

whitehouse.gov

Sebaik-baik presiden, itulah yang memahami masalah negaranya dan tahu mengatasinya. Felipe Calderon Hinojosa, presiden Mexico kini, tampaknya salah satu di antaranya. Lebih daripada itu, ia juga cepat bertindak, siap bertanggung jawab.
Belum sepekan setelah ia dilantik pada 1 Desember 2006, Calderon menaikkan gaji tentara dan polisi federal, lalu mengumumkan perang melawan kartel obat bius secara besar-besaran. Kata Calderon, “Kita menghadapi pelaku kriminal yang kejam, yang didukung kekuatan ekonomi mahabesar dan persenjataan sangat canggih.”

Ini tentu bukan rencana mendadak, meski dalam kampanye pada pemilihan presiden 2006 itu tak sekalimat pun tentang perang ini ia ucapkan. Ia juga bukan presiden pertama yang memerangi kartel obat terlarang.
Sejak 1970-an, pemerintah Mexico pun memburu pengedar obat bius dan memenjarakan beberapa gembongnya. Namun ketika itu pemerintah Mexico melihat persoalan kartel obat bius dengan kacamata formal, sebagai masalah  “mereka” bukan masalah “negara”.
Belum ada keputusan politik untuk membasmi kartel obat bius. Baru kalau mereka merambah ke wilayah sipil, melanggar undang-undang, aparat keamanan bertindak. Ketika itu Mexico hanya tempat transit, sebelum obat bius dari berbagai sumber masuk ke AS, pasar terbesarnya.
Semangat setengah hati pemerintah Mexico memerangi kartel obat bius hanya membuat organisasi kriminal ini menguat. Kata Calderon dalam suatu konferensi internasional antiobat bius beberapa waktu lalu:
“Mereka kini tak hanya mengurusi obat bius, melainkan menjadi penghimpun dana … melakukan kegiatan tanpa memedulikan pemerintah, bahkan menjurus menggantikan pemerintah … memaksakan undang-undangnya sendiri.” (Dikutip dari http://www.msnbc.com)
Sejarah perkatelan obat bius Mexico diawali 1970-an, ketika AS makin memperketat peredaran obat bius. Rupanya, panjang perbatasan Mexico-AS yang membentang sekitar 2.500 km (dua kali panjang Pulau Jawa) merupakan peluang keberhasilan untuk menyelundupkan obat bius ke AS dibanding perbatasan AS sisi mana pun.
Tak mudah bagi polisi federal AS (FBI), tentara, dan polisi khusus obat bius (DEA) menjaga perbatasan yang panjang itu. Belum lagi mereka juga harus menjaga penyelundupan yang lewat laut.
Jadilah perbatasan Mexico-AS jalan utama bagi obat bius untuk masuk ke negara Abang Sam.
Ketika itu orang Mexico hanya menjadi kurir, bukan pelaku utama. Kala itu pun hanya ada satu organisasi kriminal pengedar obat bius, terkendali, praktis tak membahayakan masyarakat sipil Mexico.
Bisa dimaklumi bila pemerintah Mexico waktu itu tak mengagendakan secara khusus pemberantasan peredaran obat bius. Bahkan AS menduga, menguatnya kartel obat bius Mexico karena ada perlindungan dari aparat keamanan.
Namun AS masih setengah semangat membantu pemerintah Mexico. Ada bahaya lain yang lebih mendesak ditangani ketika itu, yakni Colombia. Lebih dari setengah obat bius yang beredar gelap di AS datang dari salah satu negeri Amerika Latin ini.
Colombia Sebelum Mexico

Waktu itu Colombia memang ancaman utama. Inilah negeri yang sebagian masyarakatnya hidup dari obat bius. Dua kartel utama, Medellin dan Kali, membangun fasilitas sosial, dari sekolah, pasar, sampai lapangan bola.
Pengedar obat bius mudah melarikan diri dan menghilang di tengah masyarakat bila polisi memburunya. Sebagian besar sopir taxi Colombia masuk dalam daftar gaji salah satu kartel.
Bahkan, terungkapkan kemudian, mereka mampu memantau telepon kepolisian dan lembaga pemerintah Colombia, termasuk kedutaan AS di Bogota, ibukota Clombia, dengan program komputer bikinan Israel.
Dari sisi popularitas, Medellin mengungguli Kali. Antara lain karena bos besar Medellin, Pablo Escobar, sering menjadi berita. Berita paling top, pada 1989, majalah Forbesmendudukkan kaisar kriminal itu sebagai orang ketujuh terkaya di dunia.
Sebelum itu, Escobar pernah berkoar akan membayar seluruh utang luar negeri Colombia, lebih dari 10 miliar dollar AS, asal ia dipilih menjadi presiden.
Insiden dalam kampanye pemilihan presiden Colombia 1989 menjungkir-balikkan itu semua. Tiga kandidat presiden tewas ditembak. Informasi intelijen mengatakan, ini perintah Escobar.
Satu dari ketiga kandidat yang dibunuh, Luis Carlos Galan, dikenal sebagai musuh kartel obat bius. Ia pendukung kuat perjanjian ekstradisi Colombia-AS, perjanjian yang ditakuti oleh para bos kartel. Ia juga berjanji dalam kampanye akan menjadikan Colombia “neraka bagi pengedar obat bius”.
Presiden terpilih, Cesar Gaviria Trujillo, yang didukung keluarga Galan, tak lama setelah dilantik, mengumumkan satu keputusan politik: pengejaran Escobar dan pembasmian kartel obat bius.
AS, penderita terbesar obat bius ilegal, tak tinggal diam. Abang Sam mengirimkan bantuan berupa dollar, jaket antipeluru, senjata dan pesawat, sampai tentara. Trujillo menjalankan strategi memeluk yang satu, menggempur yang lain.
Pertama, Trujillo menawarkan hukuman ringan dan sejumlah perlindungan lain kepada Escobar, bila gembong obat bius ini menyerah. Dosa Escobar lebih berat daripada yang lain, karena ia diduga mendalangi pembunuhan Luis Carlos Galan, kandidat presiden.
Escobar menyambut, dengan sejumlah syarat. Antara lain, perjanjian ekstradisi AS-Colombia dihapus, ia ditahan dipenjara yang dibangunnya sendiri, dijaga oleh anak buahnya sendiri.
La Catedral, “penjara” yang dibangun Escobar, terletak di bukit, sekitar 20 km dari Bogota, ibukota Colombia. Di sini segalanya ada: kolam renang, lapangan sepak bola, landasan heli, air terjun. Dari salah satu kamar, dengan teleskop canggih, Escobar bisa melihat anak perempuannya di Bogota kala mereka berteleponan.
Trujillo menerima syarat Escobar. Inilah strategi itu: dengan demikian Trujillo hanya menghadapi satu musuh berat, Cartel kali.
Escobar “masuk penjara”, Juni 1991. Tiga belas bulan kemudian, Juli 1992 ia “melarikan diri” setelah mendengar akan dipindahkan ke penjara biasa. Ini karena pemerintah menuduh ia ingkar janji. Dari La Catedral ternyata Escobar tetap mengendalikan Medellin, termasuk menyiksa dan membunuh musuh-musuhnya.
Trujillo membentuk pasukan khusus dengan bantuan Delta Force, pasukan antiteroris AS, untuk memburu Escobar. Menurut laporan berbagai media ketika itu, bantuan tak resmi yang tak kurang pentingnya, datang dari Cartel Kali.
Desember 1993, sang kaisar obat bius tewas dalam penggerebekan. Tak ada kepastian, peluru siapa mengakhir hidupnya. Komandan pasukan penyerbu, atau pistol Escobar sendiri. Konon, ia bunuh diri.
Senjakala kartel obat bius Colombia pun tiba. Medellin praktis tak lagi perlu ditakuti. Trujillo kemudian memfokuskan perangnya terhadap kartel Kali yang makin lama makin redup juga. Dalam waktu tak terlalu lama enam dari tujuh gembong Kali tertangkap.
Suksesi dari Colombia ke Mexico

Rupanya, ketika pemerintah Colombia menggempur benteng-benteng kerajaan obat bius itu, kurir-kurir obat bius Mexico melihat peluang.
Jelas masuk akal, Mexico paling siap menggantikan Colombia karena selama itu kurir-kurir andalan kartel obat bius Colombia adalah para bromocorah bertopi sombrero. Dan siapa tak tak bermimpi menjadi Escobar baru?
Mexico tak lagi daerah transit obat bius. Bromocorah bersombrero itu bukan lagi sekadar kurir, melainkan pedagang yang empunya barang. Bermunculanlah geng-geng obat bius, yang kemudian berkelompok membentuk kartel, dengan segala akibatnya.
Akibat itu, antara lain, persaingan yang tak terelakkan, dan itu berupa perang antarkartel, lengkap dengan pembunuh modern bernama AK47, M4 Carbine, dan Colt AR 15 yang mudah diperoleh dari pasar gelap AS.
Dan karena ini bukan mafia war di komputer, melainkan di tengah masyarakat, jatuh juga korban sipil. Pun perang (juga penyelundupan dan produksi obat bius) melibatkan aparat keamanan terutama polisi daerah.
Mudah diduga, para bromocorah itu perlu perlindungan, lalu saling membocorkan rahasia musuh. Dalam hal ini yang dinamakan suap menjadi energi penggerak. Satu indikasinya, rumah-rumah polisi daerah makin mentereng, jauh dari jangkauan gaji mereka.
Ketika Calderon mengirimkan pasukan pertama, 6.500 tentara federal, ke Michoacha, salah satu daerah obat bius dan tempat kelahiran presiden ke-36 Mexico ini, ultimatum pertama tertuju pada polisi daerah setempat: harap meletakkan senjata.
Polisi federal pun secara berkala diharuskan menjalani tes kebohongan. Tahun ini saja, hingga akhir Agustus lalu, sudah 3.200 perwira dipecat, dinonaktifkan, atau dipindah ke bagian tak penting karena diduga memiliki hubungan dengan kartel obat bius.
Calderon Pantang Mundur

Tak hanya pendukung, juga pengkritik diperoleh Calderon. Dari soal hak asasi manusia, kebijakan yang sia-sia, sampai usul agar perdagangan obat bius disahkan saja.
Felipe Calderon Hinojosa, tepat 48 tahun 18 Agustus lalu, bergeming. Tanpa penegakan hukum, dan itu adalah pembasmian kartel obat bius serta pemberantasan korupsi, Mexico tak punya masa depan, katanya. Ia mengakui hampir empat tahun perangnya, lebih dari 28.000 korban tewas.
Tapi percayalah, katanya, 90% korban adalah kriminal berkaitan dengan perdagangan obat bius. Tak mungkin dihindari jatuhnya korban sipil, termasuk 10 walikota dan 22 wartawan, korban yang sama sekali tak diinginkan.
Di sisi lain, kartel obat bius yang merajalela dan korupsi yang mewabah, menghancurkan kehidupan sosial, mereduksi perkembangan ekonomi dan lapangan kerja, tak mungkin dibiarkan.
“Saya bukan presiden yang ingin melihat orang-orang Mexico meninggalkan negaranya gentayangan mencari kerja di negara orang,” ia berargumen pentingnya membasmi kejahatan terorganisasi dan korupsi.
Di samping perang, Calderon juga memprogramkan pengadaan lapangan kerja. Pemerintah memberikan subsidi buat perusahaan yang merekrut tenaga kerja yang baru saja lulus dari sekolah.
Yang kini dicemaskan oleh pendukungnya dan juga AS, siapa pengganti Calderon pada 212 nanti. Kejahatan terorganisasi perdagangan obat bius yang terbangun dalam puluhan tahun tak mungkin dibasmi dalam satu periode masa kerja presiden.
Yang diharapkan, ia terpilih kembali, atau Calderon telah menyiapkan penerusnya yang tak kalah tangguh dengannya. Agar, Perang Calderon berlanjut sampai penegakan hukum terjamin.
Atau, yang tak diharapkan oleh dunia beradab, Mexico tanpa masa depan. (Berlanjut “Perang Calderon II”)

Writer : Ezra Sihite   Editor : Bambang Bujono

Dikutip sepenuhnya dari http://www.beritasatu.com edisi 27 September 2010

Written by Me

November 30, 2010 at 10:20 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: