Sihiteezra's Weblog

Love the Life You Live&Live the Life You Love

WikiLeaks dan Julian Assange, pahlawan atau kriminal?

leave a comment »

Ia ditahan bukan karena membocorkan ratusan ribu dokumen rahasia AS, tapi karena standar kesusilaan Swedia.

Julian Assange, pembuat situs WikiLeaks, yang di pekan pertama Desember lalu ditahan di penjara di London, pahlawan atau kriminal? Tergantung di mana posisi anda: dirugikan atau diuntungkan. Kata Perdana Menteri Vladimir Putin: “Kenapa Julian Assange ditahan? Inikah demokrasi?” Malah Putin mengusulkan Julian Assange sebagai calon penerima Hadiah Nobel Perdamaian.

Alasannya, dengan WikiLeaks, perang antardua negara bisa dicegah. Tapi kata orang Amerika, kalau saja yang dibocorkan WikiLeaks adalah dokumen rahasia pemerintah Rusia atau Cina, Julian Assange pasti sudah tewas dalam suatu kecelakaan yang penyebabnya tidak jelas.

Mereka yang berpendirian bahwa negara merdeka dan sedemokratis apa pun memerlukan kerahasiaan untuk melawan kekuatan jahat yang mengancam dunia, mendukung agar Julian Assange diadili. Para musuh WikiLeaks ini berandai-andai. Andaikata rencana serangan Normandia yang merupakan titik awal kekalahan Hitler waktu itu dibocorkan oleh WikiLeaks, Perang Dunia II akan berkepanjangan dan menyengsarakan berjuta orang.

Bahkan ada yang berpendapat, ulah Julian Assange dengan WikiLeaks-nya sama dengan teroris yang menabrakkan pesawat ke menara kembar New York, 11 September 2001. Pendapat ini tampaknya berlebihan. Sejauh ini yang dibocorkan WikiLeaks lebih pada gosip di balik diplomasi AS dan beberapa negara, yang kalau disebarluaskan hanya bikin muka merah.

Misalnya, seorang diplomat AS mengatakan hubungan antara PM Putin dan Presiden Medvedev bak Batman dan Robin. Atau ia bilang bahwa kepala negara Lybia suka menghabiskan waktunya dengan perawatnya yang paling pirang. Namun beberapa yang dibocorkan situs ini memang memperingatkan dunia bahwa ada kejahatan kemanusiaan yang mesti diakhiri.

Itulah yang membuat pertama kali WikiLekas menjadi berita di mana-mana. Yaitu tentang tentara Amerika di Afganistan pada 2007, yang dengan helikopter Apache melakukan serangan terhadap yang mereka sebut gerilyawan bersenjata. Ada serangan salah sasaran, ada penembakan yang begitu brutal, dan ada beberapa korban sipil, termasuk wartawan.

Adalah kantor berita Reuters yang melakukan investigasi tentang serangan ini yang juga menewaskan dua wartawannya. Tak berhasil. WikiLekas yang kemudian “menemukan” rekaman itu yang konon tidak mudah dibuka. Perlu tiga bulan agar rekaman bisa diputar dan dipahami. Maka para jaksa Amerika Serikat kini sibuk mempelajari, adakah Julian Assange dengan WikiLeaks-nya melanggar UU Spionase AS atau tidak. Soalnya ini hal baru. Biasanya, terutama dulu, UU Spionase ini dipakai guna menjerat pejabat negara yang membocorkan rahasia Amerika ke musuh (dulu blok Uni Soviet). Namun presiden Brazil, Luiz Inacio Lula da Silva, yang sebentar lagi habis masa jabatannya, terheran-heran bahwa seseorang yang menggunakan hak kebebasan berekspresi dan kebebasan pers ditahan.

“Kenapa pria itu ditahan? Dan tidak terdengar protes satu pun yang membela kebebasan ekspresi dan kebebasan pers,” kata Lula seperti dikutip kantor berita UPI. “Pria itu kan hanya menyebarluaskan yang dia baca, lain tidak.”

Babak baru jurnalisme

Melalui situs WikiLeaks, 251.287 dokumen dari kawat diplomatik Amerika Serikat dibocorkan; mulai dari yang sekadar gosip antardiplomat hingga hal-hal yang sangat rahasia. Bocoran itu adalah informasi yang keluar masuk dari dan ke Washington DC, kedutaan dan konsulat jenderal Amerika di berbagai belahan dunia. Sebagian besar dokumen yang dibocorkan WikiLeaks tidak begitu penting, cenderung gosip.

Yang dicemaskan Amerika Serikat, situs ini menggertak masih akan membocorkan rahasia-rahasia penting Washington. Sementara itu dukungan dari para hacker kepada Julian Assange bermunculan. Mereka bilang, sudah beberapa lama bocoran beredar dan dunia tak ada bencana di dunia karena rahasia-rahasia yang dibocorkan itu. Paling para diplomat kini lebih hati-hati kalau melaporkan tentang pejabat negara lain. Mereka tak akan lagi menulis hal-hal yang sifatnya gosip dan olok-olok. Tapi sementara itu, untuk kasus penembakan warga sipil di Baghdad oleh tentara AS, tidakkah selama ini selalu dibantah oleh Pentagon? WikiLeaks membuktikan secara telak bahwa itu memang terjadi.

Dan siapakah yang dirugikan pembocoran itu? “Saya kira belum ada bukti bahwa rekaman itu membahayakan tentara Amerika di Irak, misalnya,” kata Carne Ross, mantan diplomat Inggris di PBB, sebagaimana dikutip oleh BBC.

Jadi? Jurnalisme WikiLeaks membuat kita harus berpikir kembali “tentang mekanisme kita berkenaan dengan demokrasi dan politik luar negeri,” kata Ross. “Kita harus, harus lebih baik.” Mantan reporter dan pembuat film Australia, John Pilger, bahkan menengarai bahwa Wikileaks mengawali babak baru jurnalisme.

Menurut Reuters yang mewawancarainya, babak baru ini akan menambal beberapa ketakmampuan jurnalisme. Pilger memberikan contoh, serangan AS ke Irak pada 2003 tak mendapat tentangan berarti dari media karena media terlalu percaya pada konfirmasi resmi.

Dan ternyata alasan serangan itu, bahwa Irak mengembangkan senjata pamungkas, meleset besar. Juga, pemberitaan televisi tentang serangan Israel terhadap kapal pembawa bantuan untuk Palestina, terutama hanya menayangkan rekaman yang dibuat oleh Israel. Jadi, kebenaran peristiwa tak akan lagi ditentukan oleh yang menang, bila WikiLeaks berkembang. Masalahnya kini, seberapa jauh WikiLeaks dan yang lain-lain nanti mampu mempertahankan kerahasiaan narasumber, hal yang penting dalam dunia jurnalistik.

Pentagon misalnya, kini menahan seorang intelijen militernya, Bradley Manning, 22 tahun, selagi bekerja di Irak. Ia ditahan di Kuwait, didakwa membocorkan sejumlah rekaman video, termasuk serangan oleh heli Apache itu.

Pembocor itu bukan orang, tapi teknologi

Tentu saja Julian Assange bisa bilang bahwa Manning sama sekali tak ada kaitan dengan rekaman video yang ia terima. Mungkin Assange yakin, tak akan ada bukti apa pun tentang pembocoran ini.

BBC melontarkan pendapat, tidakkah yang penting di zaman sekarang bukan siapa, melainkan bagaimana rahasia dibocorkan? Bukankah sang pembocor itu adalah teknologi itu sendiri, ya Internet dan sistem membaca kode (kriptografi) yang kini makin berkembang? Di pihak pemilik rahasia, Internet dan kriptografi membuat pengiriman bahan rahasia makin mudah dan aman. Di sisi lain, mereka yang menguasai teknologi tersebut akan lebih mudah dan aman juga mendapatkan rahasia itu.

Fungsi seorang deepthroat dalam Watergate yang memberikan info narasumber dan masalahnya, tak lagi diperlukan. Sang pembocor hanya perlu memberikan kunci-kunci pembuka dokumen, selebihnya tergantung kecanggihan Anda. Relatif, pembocor itu juga lebih aman, dan pers yang mengejar rahasia juga bekerja lebih aman, dibandingkan zaman Watergate. Masih ingat film All the President Men? Betapa wartawan itu begitu ketakutan berjalan pulang sehabis bertemu deepthroat? Tapi tidakkah Julian Assange hidup tenteram tanpa ketakutan?

Ternyata tidak. Sejumlah wawancara tentang dia menyatakan, Assange mengidap paranoid. Ia tak punya alamat, hinggap di mana saja. Dari bandara satu ke bandara lain, dari apartemen teman satu ke apartemen lain. Ia tak peduli pada apa pun ketika bekerja, termasuk makan, tidur, dan ganti pakaian. Teman-teman sekelilingnya yang mengurusi pemred ini, dan belum tentu berhasil. Baju yang dibawakan hanya akan dilemparkan ke samping, dan esoknya, ketika si teman datang lagi, baju itu masih di situ.Juga Assange, masih duduk di kursi yang sama dan bekerja.

Standar WikiLeaks: transparansi dan keilmuan

Konon, awalnya adalah keyakinan pada diri lelaki Australia berusia 39 tahun kini bahwa transparansi informasi adalah keniscayaan. Maka didirikanlah WikiLeaks, organisasi pers pertama yang tak bernegara, di bawah bendera Sunshine Press. Perusahaan itu sendiri sebuah usaha yang dibentuk oleh jurnalis, para ahli dan praktisi teknologi informasi dari Australia, Amerika Serikat, Taiwan, Afrika Selatan, dan Eropa, juga para pembangkang dari Cina.

Julian Assange oleh pers disebut-sebut sebagai pendiri dan pemimpin redaksinya. Tapi ia menolak pernah menyatakan hal itu. Yang pasti, menurut Wikipedia, ia adalah penentu keputusan bila terjadi perdebatan. Ketika hendak menyewa rumah di Reykjavik, 30 Maret 2006, mereka mengaku para jurnalis yang hendak meliput letusan Gunung Eyjafjallajökull, 10 km di tenggara ibu kota Islandia ini. Gunung itu mulai meletus 10 hari sebelumnya.

Sejak itu rumah mungil yang kuno itu penuh dengan komputer tapi seperti tanpa penghuni. Tirai jendela tertutup selalu. Rumah inilah yang kemudian disebut “Bunker” oleh mereka. Di Bunker ini lima staf tetap bekerja. Mereka menerima, mengedit, mengirimkan bahan-bahan ke beberapa media, terutama The Guardian, Der Spiegel, The New York Times.

Sekitar 800 pekerja peruh waktu dan puluhan sukrelawan di segala penjuru memasok informasi dan dokumen yang mereka peroleh. Tapi tak hanya itu, WikiLeaks juga membuka ruang bagi semua orang untuk memasok informasi melalui sistem teknologi informasi yang mereka nyatakan canggih dan tidak dapat dideteksi. Julian Assange yakin, sekali informasi atau dokumentasi diinternetkan, dokumen dan informasi itu “aman dan abadi”.

Inilah situs, katanya, yang tak disensor dan juga tak bisa dilacak. Siapa pun yang berniat menghapus dokumen dan informasi yang kadung dilansir oleh WikiLeaks, sama halnya menghapus Internet itu sendiri. WikiLeaks menyimpan dokumen dan informasi di 20 server dengan ratusan nama domain tersebar di seluruh penjuru. Misalnya, setelah Julian Assange menyerahkan diri dan ditahan oleh Scotland Yard, 7 Desember lalu, penyedia domain WikiLeaks mendapat tekanan hingga WikiLeaks dikeluarkan dari domain tersebut.

Tapi tak lama kemudian WikiLeaks online lagi menjadi http://www.wikileaks.he. Alamat ini pun beberapa hari kemudian tak lagi bisa diakses. Namun tampaknya ada saja yang kemudian menyediakan domain untuk WikiLeaks. Hanya diperlukan ketekunan Anda mencari. Situs ini juga mengaku tak asal memublikasikan informasi. Begitu mendapatkan dokumen, mereka mengonfirmasi melalui para relawan yang bekerja bak wartawan, atau relawan itu memang seorang jurnalis. Assange meyakini bahwa dunia jurnalisme harus didekati dengan dua standar: “transparansi” dan “keilmuan”.

Anda tak bisa menerbitkan sebuah risalah fisika yang datanya tak datang dari percobaan, katanya. Jurnalisme, harus seperti itu. Sebelum melansir rekaman video tentang aksi tentara Amerika di Baghdad pada 12 Juli 2007 misalnya, WikiLeaks mengirimkan dua wartawan Islandia ke Baghdad.

Di tengah penyuntingan video yang mereka peroleh itu, yang semula seperti mustahil diurai dan disambungkan lagi, masuk email dari dua wartawan tadi. Mereka menemukan dua anak yang terluka tapi selamat dalam bus mini yang terlihat di rekaman itu. Kedua anak tersebut ternyata masih ingat peristiwa itu dan bisa menceritakan tembakan dari helikopter Apache. Mereka juga menemukan pemilik rumah, rumah yang jadi sasaran tembak, yang ternyata seorang pensiunan guru warga Inggris. Pak guru itu kehilangan istri dan anaknya yang tak sempat lari dari rumah.

Jadi, pernyataan militer Amerika bahwa tak ada korban sipil pada peristiwa itu, bohong belaka. Menurut video 8 menit (setelah diedit) tersebut sama sekali warga sipil itu tidak dalam posisi melawan, dan enam orang tewas. Dua wartawan Reuters yang dikira membawa senjata, yang diberondong tembakan dan tewas, ternyata “senjata” itu adalah kamera.

Ini meyakinkan Julian Assange dan kawan-kawannya untuk segera melansir video tersebut begitu bisa dibuka, pada April 2010 lalu. Dari mana ia peroleh rekaman itu? Seseorang yang merasa terganggu dengan peristiwa itu, jawab Assange. Lantas, kalau Wikileaks tidak yakin akan nama-nama pejabat Amerika yang disebut dalam informasi, WikiLeaks mengirimkan surat ke Washington. Menurut Assange, tak satu pun surat yang dibalas.

Lalu dari mana konfirmasi diperoleh bila dokumen yang dilansir ratusan ribu? Tak ada penjelasan. Di tengah kontroversi apakah WikiLeaks kriminal atau membuka zaman baru kebebasan informasi, situs ini mendapat penghargaan. Pada 2008 WikiLeaks menerima Penghargaan Censorship Freedom of Expression dari majalah The Economist.

Pada 2009 dari Amnesty International sebagai media yang kerap menyoroti pelanggaran hak asasi manusia. Tahun ini, penghargaan dari Sam Adam. Jadi, siapa Julian Assange, pria Australia yang lahir di Townsville, di pantai utara Queensland, pada 3 Juli 1971?

International Subversives

Dikisahkan pada usia setahun ibunya, Christine, menikah dengan direktur grup teater keliling, Brett Assange, yang entah kenapa memberikan namanya untuk anak angkat ini. Jadi siapa ayah biologisnya, tak jelas. Sampai Julian berusia 8 tahun, hidupnya nomaden. Karena grup teater ini harus berkeliling, tak terhitung berapa kali keluarga ini berpindah-pindah kota.

Sang bapak angkat sudah menengarai bahwa orok angkatnya itu tajam berpikir, dan kemudian sikap pribadinya pun muncul: suka berpihak pada yang underdogs, jelata yang kalah. Ketika Julian berusia 8 tahun, ibu dan ayah angkatnya berpisah. Ibunya menikah lagi dengan seorang musisi, anggota satu sekte eksklusif. Ayah barunya ini berebut anak dengan istri lamanya, dan ini membuat Julian pun pindah dari satu “persembunyian” ke “persembunyian” lain, karena ibunya berhasil mengambil adik angkatnya itu dan agar tak diambil ibu kandungnya, mereka harus sembunyi selalu.

Ada spekulasi, karena berpindah-pindah, Julian tak bisa mengandalkan buku teks dan buku catatan. Ini membuat dia terlatih untuk mengingat. Inilah konon modal Julian menguasai komputer dan kemudian teknologi informasi. Sebentar ia berpisah dengan ibunya, karena jatuh cinta dengan seorang gadis seusianya. Ketika itu, 1987, 16 tahun sudah usianya.

Dia pun sudah mempunyai modem, dan dengan dua teman hackernya mereka menyebut diri International Subversives. Gang hacker ini mampu masuk ke jaringan komputer di Amerika dan Eropa, termasuk ke Pentagon. Celaka baru beberapa hari serumah dengan pacarnya, polisi menggerebek mereka, mengambil seluruh perangkat komputernya.

Ada tuduhan, Julian mencuri 500 ribu dollar dari Citibank. Tapi, di zaman website pun belum ada, tak polisi menemukan bukti tampaknya. Seluruh perang komputer dikembalikan. Sejak itu Julian berjanji sedikit hati-hati. Menginjak usia 17 tahun, sang pacar hamil. Mereka lalu pindah, berdekatan dengan ibu Julian. Mereka menikah diam-diam, dan tak lama kemudian Daniel Assange lahir. Sial, pada 1991 istri Julian meninggalkannya, dan orok itu dibawa. Inilah masa kacau, dan Julian seperti mengundang polisi. Ia biarkan hobinya yang dimulainya sekitar sebulan sebelum istrinya lari, masuk dalam jaringan telepon dari Kanada yang buka jaringan di Australia, terlacak.

Padahal polisi memang mencari hacker yang masuk ke jaringan tersebut. Julian didakwa melakukan lebih dari 30 pembobolan jaringan. Ia diancam 10 tahun penjara. Polisi memerlukan waktu tiga tahun untuk mendaftar tuduhan dan mengumpulkan bukti. Sementara itu Julian hidup tanpa tujuan. Ia seringkali tidur di taman kota yang banyak nyamuk, lupa makan. Baru setelah ia temukan buku Solzhenitsyn, sebuah novel yang mengisahkan para intelektual Rusia yang dibuang ke Gulag, ia tak mengembara.

Dia menemukan persamaan nasib dengan orang-orang yang dibuang itu. Dalam persidangan, wakil perusahaan itu mengklaim, ulah Julian menyebabkan kerusakan jaringan yang perbaikannya makan ongkos ratusan ribu dollar. Tapi inilah negeri yang bukan hanya menegakkan hukum, juga keadilan dengan bijaksana. Keputusan hakim ketua, Julian didenda ringan, karena tak ada bukti kerusakan berarti dan terdakwa tak mengambil keuntungan apa pun.

“Tak ada bukti terdakwa berbuat lebih daripada hanya memenuhi keinginantahuannya dan bisa menikmati yang dinamakan berselancar di beragam komputer,” begitu kata hakim seperti diceritakan oleh Raffi Khatchadourian dalam New Yorker, Juni lalu.

Dan kata polisi yang menginterogasinya, Julian memiliki sifat suka melakukan hal-hal yang menguntungkan orang lain, dan ia percaya bahwa siapa saja berhak tahu informasi penting. Tak jadi masuk penjara, Julian merampungkan kuliah fisika dan matematika di Universitas Melbourne. Ia mengembangkan perangkat lunak gratis, Strobe. Pria inilah, meski ia tak mau disebut sebagai pendiri WikiLeaks, yang pada 2006 melahirkan WikiLeaks.

Negara-negara yang merasa dirugikan situ tersebut bisa dipahami kalau mencoba memberangus Julian dan WikiLekas. Tapi ini mungkin tak mudah. Pendukung WikiLeaks juga tak sedikit. Lagipula, mereka yang memburu Julian, seorang pembela kebebasan informasi, tidakkah tergolong otoriter atau sejenisnya? Itu sebabnya Swedia, negeri pembela kebebasan pers, di akhir November mengumumkan pencarian Julian dengan tuduhan pelecehan tiga wanita secara seksual. Julian menyerahkan diri kepada polisi di London, 7 Desember. Ia kini menunggu apakah upaya Jennifer Robinson dan Mark Stephens, penasihat hukumnya, membebaskannya dengan tanggungan 240.000 poundsterling berhasil.

Sampai Kamis, 16 Desember, pengadilan London menunggu, adakah yang keberatan akan pembebasannya dengan tanggungan itu. Hari itu, hakim akan memutuskan. Sementara itu, ternyata, di dalam WikiLeaks ada perpecahan. Wakil Julian Assange di WikiLeaks mengundurkan diri beberapa lama lalu. Daniel Domscheit-Berg, wakil itu, mengumumkan berdirinya situs sejenis yang akan lebih transparan, http://www.openleaks.org. Menurut Daniel, WikiLeaks telah menyimpang dari misi yang disepakati bersama. Tapi ia tak menjelaskan penyimpangan itu dalam hal apa saja. Sedangkan situs baru masih belum dioperasikan, masih coming soon, hingga 13 Desember lalu.

Jadi, Julian Assange dan WikiLeaksnya, pahlawan kebebasan informasi, atau pelaku kriminal? beritasatu berpendapat, Julian dan WikiLeaks tampaknya membuka zaman jurnalisme memanfaatkan perkembangan teknologi. Sejauh prinsip jurnalistik yang ­check and recheck tetap diterapkan, teknologi ini akan membantu yang selama ini kurang bisa dilakukan oleh wartawan: menemukan bahan yang dirahasiakan untuk mengungkapkan kenyataan.

Writer : Ezra Sihite     Editor : Bambang Bujono

Dikutip sepenuhnya dari http://www.beritasatu.com edisi  15 Desember 2010

Written by Me

December 19, 2010 at 1:17 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: